Berita Indonesia Mandiri

Persatuan Pelajar Indonesia Di Ilmenau Jerman Bahas Film “Sexy Killers”

Film Sexy Killers cermin pembangunan tambang di Indonesia
Ilmenau (IndonesiaMandiri) - Sekitar 30an mahasiswa yang tergabung Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) kota Ilmenau di Jerman, gelar pemutaran film “Sexy Killers“ karya Dandi Laksono akhir April lalu. Film yang cukup menghebohkan karena tayang saat masa kampanye Pilpres di Indonesia, telah ditonton lebih dari 20 juta di Youtube, mengisahkan tentang sisi kelam pertambangan batubara dan PLTU di Kalimantan Timur ini nyaris jarang dijumpai di media massa Tanah Air. 

Usai nonton film, dilanjutkan berdiskusi bersama Didit Haryo Wicaksono, salah seorang produser film “Sexy Killers“ dan Masduki, peneliti media di Indonesia yang sedang menyelesaikan program doktoralnya Ludwig-Maximilians-Universität München. Ada yang beri komentar positif terhadap film tersebut, sementara sebagian juga merasa ada beberapa informasi cenderung dipaksakan dan menanyakan tujuan diputarnya film tersebut saat hari sebelum pemilu 17 April.


Menanggap itu, Didit, yang juga aktifis kampanye iklim dan energi Greenpeace Indonesia, menyampaikan filmnya sengaja tayang sebelum pemilu merupakan moment paling tepat untuk membicarakan isu (energi) yang jarang didengar dan jarang terdengar. Padahal isu energi sangat dekat dan berpengaruh untuk masyarakat Indonesia, namun seringkali tidak diketahui dan faham tentang isu ini.


Sementara itu, Masduki pembicara kedua berpendapat, tingginya penonton film “Sexy Killers“ di Youtube merupakan hal fenomenal bagi karya dokumenter. “Sebetulnya ini bukan karya pertama dari Watchdoc yang menampilkan tema kritis, namun memang timing dipublikasikannya film ini menjadi faktor penting mengapa banyak orang tertarik menontonnya,” papar Masduku. Dan munurut Mira Rochyadi-Reetz, moderator juga salah satu panitia pelaksana pemutaran film bertutur, “terlepas dari berbagai kontra argumen tentang timing penayangannya di Youtube, menurut saya film ini sangat bagus. Mengangkat isu yang biasanya tidak disentuh media massa di Indonesia karena melibatkan banyak petinggi partai dan pemangku kekuasaan” (ma).


Foto: Istimewa
Share:

Arsip