Home » » Drone Killer, Senjata Pamungkas Modern Disegani Lawan (2)

Drone Killer, Senjata Pamungkas Modern Disegani Lawan (2)

Posted by Indonesia Mandiri on Juni 24, 2019

Alat anti drone bisa ditempatkan diatas kendaraan tempur

Jakarta (IndonesiaMandiri) - Perusahaan Polandia Advanced Protection Systems (APS) merupakan salah satu produsen kontra drone dengan produksinya Ctrl+Sky.  Menggunakan sistem detector akustik multi-sensor array. Sensor akustik juga dapat klasifikasi jenis drone spesifik dengan gambar dari masukan gambar- gambar penandaan yang sudah disediakan (library).  

Dengan jarak jangkauan 2.000 meter, system ini mampu menangkap gambar sasaran berresolusi tinggi menggunakan detector sinyal RF (pasif) dan radar X-band dengan kamera zoom pembesaran 30x.  Dengan demikian operator dapat menentukan secara positif sasaran UAS yang terdeteksi dan melakukan tindakan penetralan denga jamming sinyal control menggunakan multi-band directional jammer.

Dalam menghadapi UAS tidak selamanya harus dengan penghancuran sasaran (UAS) itu sendiri, tetapi juga dengan mengganggu data-link antara UAS dengan operatornya sehingga UAS bisa dikuasai dalam keadaan tidak rusak.  Battelle Labs DroneDefender merupakan salah satu pihak yang mengembangkan CUAS untuk menjaga wilayah udara dari drone komersial tanpa harus menyebabkan korban sampingan yang tidak perlu.  Alat yang diproduksi menggunakan gelombang radio untuk mengganggu frekuensi kendali UAS secara cepat dinetralisir sehingga tidak dapat dikendalikan lagi secara remote, termasuk menghancurkannya.  Perangkat (system) yang tersedia baik berupa system genggam (handheld) maupun vesi yang ditempatkan pada pos permanen.  Bobotnya sekitar 6,8 kg dengan jarak jangkauan sekitar 400 meter.

Produk lainnya adalah DroneGun Tactical dari DroneShield, Australia dan IXI DroneKiller.  Keduanya berbentuk senapan.  Keduanya secara simultan dapat mengganggu frekuansi radio (RF) pada frequency band (433MHz, 915MHz, 2.4GHz dan 5.8GHz), kemampuan GNSS (GPS, GLONASS), dan dapat memotong video-link ke pengendali UAS.  Karena sifatnya yang MANP (Man Portable), maka alat ini ideal untuk digunakan di garis depan pertahanan. USMC (Korps Marinr AS) telah melakukan uji-coba atas MADIS (Marine Air Defense Integrated System) untuk mendeteksi dan menetralisir drone dengan integrasikan radar, optic, jammer dan sensor deteksi pasif.  Saat ini USMC telah memiliki perangkat MADIS ringan yang dipasang pada platform kendaraan ringan Polaris MRZR dengan kendaraan sensor dan kendaraan komando.

Sistem CUAS lainnya dari Raytheon menggunakan High Power Microwave Energy (HMP) untuk mengganggu system kendali drone.  Sistem ini dapat menghadapi multiple target.  Energi tambahan dari system ini berupa system laser.  Sistem ini sejak April tahun 2018 tengah di uji-coba oleh pihak Angkatan Udara AS (USAF).  Dua unit system pernah digunakan secara  bersamaan dan berhasil menetralisir target UAS I dan II (mah/ab).

Foto: Istimewa


Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala