Semarak Penjor, Ikut Sambut Kemeriahan KTT G20

Hiasan Penjor mulai dari Bandara hingga ke venue tempat KTT G20 berlangsung
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Tradisi pasang tiang penjor adalah persembahan kepada Hyang Betara Gunung Agung, tempat bersemayamnya para Dewa. Penjor merupakan batang bambu lengkap yang dihias dengan daun kelapa muda, dibentuk secara khusus. Sekilas, ujudnya menyerupai umbul-umbul. Biasanya penjor dibuat setinggi 10 meter, yang menggambarkan sebuah gunung tertinggi.

Bagi umat Hindu Bali mempercayai Gunung Agung merupakan berstananya Hyang Bathara Putra Jaya beserta Dewa dan para leluhur. Jadi, gunung merupakan istana Tuhan dengan berbagai manifestasinya. Penjor menjadi perlambang syukur dan ucap terimakasih atas hasil bumi yang dianugerahkan-Nya. Dan, Gunung Agung sebagai pemberi kemakmuran itu.

Penjor merupakan bentuk ucapan terima kasih yang disampaikan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah mengutus Sang Hyang Tri Murti untuk menolong umat manusia dari kelaparan dan bencana.

Dalam konteks rasa syukur dan terima kasih itu pulalah, Pemerintah Provinsi Bali memasang sebanyak 2.500 penjor di sepanjang jalan mulai dari Bandara I Gusti Ngurah Rai hingga lokasi pertemuan dan hotel yang akan ditempati petinggi negara anggota G20, pada 15-16 November 2022.

Dalam mitologi, dasar Gunung Agung dikenal sebagai linggih Sang Hyang Naga Basuki. Dari kata Basuki inilah timbul nama Besakih. Naga Basuki, dalam Basuki Stawa, dilukiskan bahwa ekornya berada di puncak gunung dan kepalanya di laut, sebagai simbol gunung adalah waduk penyimpanan air yang kemudian menjadi sungai. Akhirnya, bermuara di laut.

Maka, mitologi dari penjor yang dihias sedemikian rupa untuk upacara keagamaan atau adat Hindu Bali, merupakan simbol naga. Sanggah yang ditempatkan pada bambu penjor memakai pelepah kelapa adalah simbol leher dan kepala Naga Taksaka (ada kelapa yang digantungkan di atas sanggah penjor, tempat menaruh sesaji).

Jadi, Penjor merupakan bentuk ucapan terima kasih yang disampaikan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena telah mengutus Sang Hyang Tri Murti untuk menolong umat manusia dari kelaparan dan bencana.

Penjor untuk sambut delegasi KTT G20 yang diberikan ke desa adat merupakan paling istimewa. Seperti yang sering dilombakan di daerah Kerobokan. Adapun pemda menganggarkan untuk pembuatan dan pemasangan ribuan penjor itu sebesar Rp3,5 miliar.

Kelak, penjor-penjor itu dibagi menjadi dua jenis, yaitu jenis madya atau menengah yang akan dipasang di jalan raya. Dan jenis utama yang dipasang di venue utama G20, yakni Hotel The Apurva Kempinski (lokasi pertemuan) dan Kawasan Tahura Mangrove (lokasi jamuan makan-minum).
Tradsi pasang penjor memiliki nilai tersendiri bagi umat Hindu Bali
Kehadiran penjor di perhelatan berkelas internasional, diakui Ketua Paruman Walaka PHDI Bali Profesor Dr I Gusti Ngurah Sudiana memberikan rasa bangga tersendiri (2/11). “Simbol penjor yang sebenarnya memang berarti sebagai persembahan dan ucap syukur mampu menjadi salah satu tanda pengingat kepada peserta maupun delegasi KTT G20,” jelas Sudiana (ma).
Lebih baru Lebih lama