Neng Dara Affiah: Memakai Jilbab Tak Otomatis Salihah

Trend memakai jilbab kian meluas
Jakarta (Indonesia Mandiri) – “Yang saya tolak adalah bahwa dengan memakai jilbab itu seolah-olah mereka sudah salihah. Merasa sudah paripurna dalam cara beragamanya. Mereka agak kurang punya kerendahan hati bahwa jilbab itu bukan segalanya. Sampai tidak mau bergaul lagi dengan kelompok minoritas, dan sebagainya,” ucap Neng Dara Affiah, dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia.

Bahasan isu jilbab itu disinggung oleh Neng Dara dalam Webinar di Jakarta (24/11). Webinar bertema peran strategis ulama perempuan Indonesia itu diadakan Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA.

Ditekankan pula oleh Neng Dara, dimana yang harus kita tolak adalah pemakaian jilbab diwajibkan atau dipaksakan oleh negara lewat kebijakan, seperti adanya perda-perda dan sebagainya. Tidak perlulah negara sampai mengatur-atur cara berpakaian orang.

Diskusi ini dipandu oleh Anick HT dan Elza Peldi Taher, membahas isu populer seperti jilbab. Neng Dara mengakui, bila masyarakat karena kesadaran sendiri memilih memakai jilbab, anggap saja itu fesyen. “Karena ada juga penyanyi-penyanyi di TV, ketika ditanya mengapa pakai jilbab, mereka mengatakan karena pilihan modelnya banyak,” ujarnya.

Karena saat ini, tambah Neng Dara, di masyarakat memang sedang ada kegandrungan atau “kasmaran” beragama. Tetapi masyarakat yang gandrung ini bukan dari kalangan santri. Mereka justru dari kelompok yang katakanlah abangan atau priyayi kalau di Jawa.

Neng Dara menuturkan dari pengalaman yang ia lihat sendiri di lingkungannya. Ada pengusaha laundry yang hanya mau menerima konsumen muslim saja. Padahal hanya terpisah dua tiga rumah dari usaha laundry itu, ada warga nonmuslim.

“Tetapi kita tetap perlu empati pada orang yang memaknai jilbab itu sesuatu, karena suatu pengalaman keagamaan tertentu. Ini tidak perlu kita hakimi,” lanjut Neng Dara, yang juga menyayangkan masih minim organisasi-organisasi muslim secara eksplisit melindungi kaum minoritas. Entah itu minoritas agama, minoritas seksual, dan kelompok rentan lainnya.
Neng Dara Affiah, Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
Penyikapan tegas itu hanya di KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia), yang November ini mengadakan kongres di Semarang. “KUPI adalah terobosan dalam organisasi keagamaan yang secara eksplisit menyatakan itu,” bahasnya (lw).

Foto: Istimewa
Lebih baru Lebih lama