TNI AL Perlu Pertimbangkan Pengganti Kapal Korvet Parchim

Salah satu Korvet Parchim TNI AL
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Pada akhir 2016, sebuah kapal Destroyer milik Rusia, Admiral Tributs, merapat di Tanjung Priuk, Jakarta. Kunjungannya disamping untuk mempererat persahabatan antar kedua negara, juga guna menyemarakkan Pameran Indo Defence. Meski kapal ini tak terbilang baru, namun Admiral Tribut merupakan salah satu kapan pemburu kapal selam lawan yang disegani.

Tim IndonesiaMandiri berkesempatan melihat langsung kapal yang diluncurkan di Leningrad pada 1983, dan bisa mengangkut dua helikopter ini. Terbayang bila TNI AL memiliki kapal serupa, meski tak sebesar Admiral Tributs. Karena peran Destroyer milik Rusia ini memang cocok peruntukkan untuk kondisi negara kepulauan seperti Indonesia.

Indonesia saat ini tengah gencar mengejar pencapaian target sektor pertahanan melalui Rencana Strategis/Renstra MEF (minimum essential force) yang diprogram sejak 2004 hingga 2024, sebagai upaya modernisasi alat utama system senjata (alutsista) TNI. Salah satunya adalah TNI AL, yang 10 September lalu berusia 77 tahun.

Berbagai kendala dan tantangan yang terjadi, mau tidak mau wajib diemban sebagai salah satu pilar trimatra dalam menjaga kedaulatan di laut teritori melalui peran TNI AL beserta seluruh komponen dan alutsistanya. Meskipun ditengah keterbatasan anggaran serta minimnya alutsista yang dimiliki. Tapi didasari dengan semangat dan daya juangnya, prajurit TNI AL tetap siap dan profesional menjalankan tugas serta tanggung jawabnya.

Dekade terakhir kemampuan alutsista TNI AL bertambah dengan hadirnya kapal-kapal perang dari berbagai jenis dan fungsi, mulai dengan berkemampuan tempur serta pendukungnya, terus melakukan modernisasi secara signifikan.

Berkaca dari sejarah TNI AL, dalam menjaga kedaulatan aspek laut, perlu dicermati adalah, perlunya mempertimbangkan kembali keberadaan kapal perang jenis Korvet Parchim. Mengapa? Karena sejak 1991 yang digunakan TNI AL masih bekas pakai AL dari Jerman Timur, lalu dibeli Indonesia pasca reunifikasi Jerman ditahun sama. Korvet ini dibangun melalui lisensi Uni Soviet pada era perang dingin di era 80-an sebagai unsur anti kapal selam kekuatan Pakta Warsawa kala itu.

Sebanyak 16 unit korvet parchim klas didatangkan keIndonesia saat itu bersama 14 kapal Lst klas Frosch dan 9 kapal penyapu ranjau condor klas. Lalu proses pembelian/pengadaan armada tsb menjadi kontroversial, dan isu politik di masa Pemerintahan Soeharto. Tapi dgn hadirnya korvet parchim membuat kekuatan TNI AL, meningkat khususnya sbg satuan armada patroli, berkemampuan spesifik, anti kapal selam, dan masih dioperasionalkan hingga saat ini.

Menimbang sejak 2004 hingga 2022, TNI AL terus memodernisasi, meremajakan armada kapal perangnya, khususnya kapal dengan kemampuan tempur baik itu kapal permukaan dan bawah permukaan. Namun untuk proyeksi pengganti kapal korvet parchim mestinya juga jadi perencanaan serta prioritas kedepannya.

Mengingat urgensi dan situasi regional kawasan Asia dan dunia, terutama wilayah terdekat Indonesia dan zona panas Laut Cina Selatan (LCS)-Laut Natuna Utara yang terus menghangat karena banyaknya klaim negara asing. Tanpa tedeng aling-aling, misalnya, Negeri Tirai Bambu telah menempatkan kekuatan AL dan AU, mobilisasi ratusan kapal nelayan untuk memperkuat klaim di LCS.
Kehadiran alutsista yang tepat beri efek gentar pihak asing
Pentingnya TNI AL sesegera mungkin mengganti, memodrnisasi korvet parchim klas, yang fungsi utama salah satunya adalah anti kapal selam. Mengingat pada saat ini kemungkinan ancaman terbuka bisa saja terjadi dengan negara lain. Juga terhadap konflik perbatasan negara Indonesia dengan tetangga seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand dan Australia.

Untuk negara disebut terakhir memiliki resiko tinggi berbenturan dengan Indonesia, apalagi dengan telah dibentuknya aliansi AUKUS (Australia, United Kingdom/Inggris dan United Staes/Amerika Serikat). Karena Australia belakangan ini menjelma kekuatan hegemoni militer di Indo Pasifik serta menghadirkan kapal selam berkekuatan nuklir. Kehadiran pakta pertahanan AUKUS mulanya ditujukan untuk menjadi kekuatan pengimbang terhadap hegemoni Cina terkait konflik di LCS.

Pada saat ini, sangat relevan jika Indonesia melalui TNI AL memproyeksikan diri mengganti armada Parchim Kelas, dengan pertimbangan kondisi geografi dan geostrategi Indonesia sebagai negara maritim dengan 2/3 wilayahnya adalah perairan. Dalam catatan sejarah, kita pernah mempunyai 14 unit kapal selam Kelas Whiskey buatan Uni Soviet pada dekade 50-60 an, saat terjadinya operasi Trikora atau kampanye pembebasan irian Jaya barat dari penjajah Belanda.

Sejak awal diciptakannya kapal selam dari sangat sederhana peruntukkannya hingga berevolusi sedemikian canggih dan modern, telah terbukti efektif menjadi senjata dibawah air yang dapat menentukkan jalannya perang dilautan atau samudera, terutama karena faktor kensenyapannya. Pengalaman alagan Perang Dunia II, kapal selam U- boat AL Nazi Jerman menjadi superior dalam memotong jalur menjadi poros dua kekuatan Eropa Timur dibawah kendali Uni Soviet dan Eropa Barat dipimpin Amerika Serikat.

Sejak perang dingin pada 1947 - 1991 yang terjadi dibenua Eropa Barat dan Timur, beberapa negara spt inggris, uni soviet/ rusia, perancis dan - banyak negara eropa lainnya serta sentral dari terjadinya perang dingin tsb, yaitu amerika serikat berkejar kejaran dalam membangun n memproduksi kapal perang anti kapal selam seperti destroyer, frigat maupun korvet, tergantung kemampuan budget negara.

Tercatat beberapa negara seperti amerika, rusia, inggris, perancis fokus pada kapal perang jenis destroyer maupun frigat dgn kemampuan jelajah dan radiusnya ribuan kilometer dan sea level state diatas 2 sampai 5 serta tonase yg berat menjadikan kapal destroyer frigat mampu beroperasi mandiri selama berlayar. Itu masih ditambah juga dgn kemampuan penginderaan n alat deteksi sptsonar radar khususnya dibawah permukaan air & senjata2 spt roket, torpedo, atau bom & ranjau anti kapal selam.

Dan hingga hari ini meskipun perang dingin telah berakhir, masih banyak negara mengoperasikan kapal perang yang khusus anti kapal selam, dari.jenis destroyer,frigat. Seperti Amerika Serikat dengan destroyer Arleigh Burke, Oliver Hazzard Perry kelas dan Spruance. Lalu pihak Uni Soviet (kini Rusia) dengan Udaloy atau Kara Kelas. Inggris yang pernah menjadi jawara samudera dunia punya Tipe- 23 Duke kelas sebagai satuan anti kapal selam. Belum lagi Prancis, Italia, Belanda, dan lain-lain.

Bagi Indonesia, khususnya TNI AL serta para pembuat kebijakan terkait, tentunya sudah melihat seberapa pentingnya kehadiran kapal-kapal anti kapal selam. Mengingat perjalanan panjang TNI AL yang telah mempunyai pengalaman sejarah sebagai operator kapal selam sejak dekade 50 - 60an, dan dari masa ke masa dengan kekuatan alutsista kapal perang permukaan anti kapal selam pun telah menjadi keharusan yang wajib seperti pada era kejayaan di masa lalu.

TNI AL (dahulu ALRI) pada saat medio 50- 60an, pernah memiliki destroyer Skoryy atau Frigat Riga Kelas yang memiliki senjata anti kapal selam seperti roket Rbu- 2500, torpedo 533mm, ditambah unsur udara anti kapal selam plus pesawat Fairey Gannet As- 2. Hingga era 1970an, TNI AL, masih terbilang cukup kuat.

Meskipun pada 1980 – 1990 TNI AL, tidak lagi menjadi kekuatan yang “disegani”, akan tetapi kehadiran kapal-kapal perang Tribal dan Van Speijk Klas dari jenis frigat, serta unsur udara anti kapal selam Heli Wasp tetap menjadi ukuran kesiapan dan antisipasi TNI AL dalam menjaga kemungkinan ancaman kapal selam dari negara lain.

Kembali kepada Korvet Parchim Kelas anti kapal selam eks jerman timur yg diakuisisi TNI AL dengan jumlah 16 unit era Presiden Soeharto. Ini termasuk banyak dalam jumlah pengadaannya pada 1991. Bicara kemampuan Korvet Parchim eks Jertim, kemampuannya bisa beroperasi di perairan dangkal

Tetapi kehadiran arsenal ini bisa menjawab tantangan global pada eranya dalam penindakan penyusupan/infiltrasi kapal selam dari negara lain disekitar perairan nusantara. Hingga 2022 ini korvet parchim masih ditugaskan sebagai satuan kapal patroli (satrol) di tiga gugus tugas armada TNI AL.

Meskipun tidak semua dari 16 unit korvet parchim masih operasional pada saat ini, akan tetapi keberadaannya telah mengangkat marwah TNI AL sebagai penanggung jawab tugas Hankam aspek perairan dilautan.

Pada dekade terakhir ini upaya modernisasi, mengganti kapal-kapal tua dan tidak laik pakai atau karena telah rusak, terus dilakukan. Pemerintah RI serta pelaku usaha terkait baik dalam dan mitra produsen luar negeri, diharapkan juga memikirkan adanya alih tehnologi yang bisa diserap oleh industri perkapalan Indonesia yang selama ini dimotori oleh PT PAL Indonesia sebagai barometer produsen lokal/dalam negeri dalam pengembangan rekayasa pembuatan kapal.

Peluang yang tengah dikebut oleh para produsen luar negeri dibidang kapal combatan baik tipe atas atau bawah air, mendapat sambutan baik dengan telah ada titik terang dari beberapa negara yang memiliki industri kapal khususnya kapal perang. Seperti Prancis, Jepang, Inggris, Italia, telah bernegoisasi, memberikan penawaran kontrak kerjasama disertai dengan kunjungan kerja kedua belah pihak antara Pemerintah RI, Kemenhan & TNI AL sebagai user dan operator. Misalnya dengan negara mitra Prancis, menawatrkan kapal perang type Gowind Kelas dan Kapal Selam Ccorpene.

Italia sering menawarkan kapal perusak Fremm Kelas, dimana tipe ini adalah hasil kolaborasi dengan Prancis. Atau Jepang mengunggulkan perusak Mogami Kelas, untuk ditawarkan ke Indonesia. Inggris inggris begitu antusias untuk memasukkan perusak type Arrowhead 140, dimana perusak ini adalah varian lanjutan dari kapal type Iver Huitfeldt buatan Denmark yang berpindah tangan kepada perusahaan kapal Inggris Babcock.

Terlepas dari banyaknya penawaran dari negara lain ke Indonesia, memang belum ada fakta yang jelas soal kapal perang baru yang akan dibeli. Tapi sebagai catatan, semoga kapal yang akan menjadi arsenal TNI AL, nantinya juga mempunyai kemampuan spesifik seperti Korvet Parchim Kelas yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade ini.
Produsen kapal dalam negeri harus dipacu sesuai kebutuhan
Karena modernisasi alutsista TNI AL sekaligus akan mendukung kebijakan negara yang berslogan "Menjadi Poros Maritim Dunia dan World Class - Navy ". Serta antisipasi kemungkinan gejolak di Laut Cina Selatan dan sebagai pre empty strike guna antitipasi agresifitas Australia dengan rencana mengembangkan/membangun kapal selam nuklir bersama dalam aliansi AUKUS. Dengan dalih mengimbangi hegemoni china di Asia, sikap Australia tersebut memicu wilayah Asean yang bebas nuklir, menjadi wilayah rawan konflik senjata nuklir.

Apapun perpektifnya, sejogyanya Indonesia dengan TNI AL, mesti bersiap hari ini atau hari kedepan dengan dinamika yang terjadi. Jangan terlena janji politis negara lain yang seebenarnya bisa mengancam dan bahkan mengganggu kedaulatan NKRI.

Kami ucapkan Dirgahayu TNI Ke-77 dan Hut TNI AL Jalasvevas Jayamahe (Bekti Purwono/M. Abriyanto).

Foto: Istimewa
Lebih baru Lebih lama