Plaza Saraswati Perkaya Keunggulan Politeknik Pariwisata Bali

Peresmian Plaza Saraswati sebagai ikon kreatifitas Poltekpar Bali
Bali (Indonesia Mandiri) – “Dengan adanya Plaza Saraswati sebagai ikon dan landmark Poltekpar Bali, kita harapkan dapat menjadi tempat berkreasi bagi civitas akademika, untuk merancang program dan kegiatan praktek mahasiswa sebagai tempat untuk berinovasi. Dan juga menggali ide yang kreatif, baik itu untuk kepentingan kepariwisataan maupun ekonomi kreatif,” kata Sekretaris Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Sestama Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Sesmenparekraf/Sestama Baparekraf) Ni Wayan Giri Adnyani (29/9).

Sesmenparekraf meresmikan Plaza Saraswati yang dibangun di lingkungan Politeknik Pariwisata/Poltekpar Bali sebagai sarana peningkatan dan pengetahuan keterampilan civitas akademika, guna mendorong kehadiran SDM unggul dan berkualitas.

“Sehingga Poltekpar Bali mampu menjadi center of excellent pada bidang pariwisata budaya,” tambah Giri. Peresmian ini merupakan salah satu rangkaian dalam memperingati Hari Pariwisata Dunia ke-42. Dimana Bali mendapat kehormatan sebagai tuan rumah pada tahun ini (2022).

Peresmian Plaza Saraswati juga sejalan dengan ‘Bali Guidelines’ yang menempatkan pentingnya human capital atau pembangunan SDM sebagai salah satu kunci dalam pemulihan sektor pariwisata pascapandemi.

Saraswati sendiri diambil dari nama Dewi Saraswati sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, dilambangkan dengan seorang Dewi bertangan empat, masing-masing memegang alat musik sebagai simbol budaya yang tinggi. Genitiri simbol dari keabadian. Pustaka Suci simbol ilmu pengetahuan suci. Bunga teratai sebagai kesucian dari Ida Sanghyang Widhi Wasa. Serta angsa simbol kebijaksanaan.

Direktur Poltekpar Bali, Ida Bagus Putu Puja menambahkan, Plaza Saraswati merupakan bentuk implementasi pariwisata berkelanjutan dengan berlandaskan nilai-nilai budaya yang dihadirkan dalam bangunan arsitektur Bali.

Ini juga sejalan dengan arahan Presiden tentang kemajuan kebudayaan berdasarkan Undang-undang No. 5 tahun 2012 menyebutkan empat langkah strategis dalam memajukan kekayaan antara lain perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan.
Sesmenparekraf Ni Wayan Giri Adnyani (kacamata) bersama Direktur Poltekpar Bali Ida Bagus Putu Puja (paling kiri)
Perlindungan, pengembangan, pemanfaatan bertujuan untuk memperkuat unsur-unsur dalam ekosistem kebudayaan, sementara pembinaan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam ekosistem kebudayaan.

“Empat langkah-langkah tersebut saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan dalam menuju langkah-langkah strategis. Melalui didirikannya Plaza Saraswati sebagai landmark dan ikon pariwisata Bali diharapkan dapat menjadi sarana pendukung program pembelajaran, mendukung kegiatan praktek mahasiswa dan menjadi wadah untuk produktivitas serta berinovasi dalam kewirausahaan,” papar Ida Bagus (ma).
Lebih baru Lebih lama