Musibah Kanjuruhan Bukti Hilangnya Rasa Malu Para Pemimpin

Aksi sujud minta maaf jajaran kepolisian di Malang
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Salah satu anggota Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena dari Riau, Satria, mengomentari musibah di Lapangan Sepak Bola Kanjuruhan , yang paling parah bukan soal korban yang mati. Tapi matinya empati. Bangsa ini sudah kehilangan rasa malu dan rasa tanggung jawab.

“Coba lihat contoh di luar negeri, pemimpin Jepang mundur jika merasa bersalah,” kisahnya, saat mengikuti Webinar dari Satupena bertema Luka dan Duka Kanjuruhan di Jakarta (13/10). “Sampai dua minggu sesudah kejadian, yang harusnya bertanggung jawab masih cari kambing hitam. Kejadian Kanjuruhan ini dalam bentuk lain masih bisa terjadi lagi,” tambah Satria.

Sementara pembicara utama di webinar, Muhammad Sabur sebagai Ketua Umum YLBHI menyatakan, para korban tragedi Kanjuruhan umumnya butuh waktu untuk pemulihan, sebelum bisa memberi keterangan secara utuh. Namun secara umum, aspirasi mereka adalah kasus ini harus diusut tuntas

Isnur juga mengungkapkan, orang-orang yang punya foto atau video tentang tragedi Kanjuruhan itu kini banyak yang ketakutan. Pasalnya, mereka merasa diteror dan diburu. Para suporter juga sangat marah, karena narasi yang berkembang adalah justru mereka disalahkan. Misalnya, ada isu bahwa suporter mengonsumsi miras. “Mereka merasa sudah jatuh, masih diinjak-injak pula,” ujar Isnur.

Para pejabat melakukan penyangkalan dan saling lempar tanggung jawan. Para korban merasa tidak kuat dan nyari kehilangan harapan. “Ada ide jika negara dianggap tidak serius, akan dilakukan upaya hukum,” tegas Isnur.
Muhammad Isnur
Sementara itu, peserta webinar lainnya, Chappy Hakim menyebut, kasus di Kanjuruhan hanyalah puncak dari gunung es besar ketidakpatuhan pada aturan dan ketiadaan disiplin bangsa ini. “Lihat saja pelanggaran yang seenaknya dilakukan orang di jalan raya,” cetus Chappy yang mantan KSAU. Ia mengingatkan kasus semacam Kanjuruhan bisa terjadi lagi (ma).

Foto: Istimewa



Lebih baru Lebih lama