Kaum Terdidik Minangkabau Bermula Sejak Perang Paderi

Masyarakat Minangkabau sejak dahulu sudah anti penjajah
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Tumbuhnya kaum terdidik Minangkabau bermula sejak usainya Perang Paderi. Surau-surau dibangun kembali dengan puluhan ribu murid. Jalan dan rel kereta api yang dibangun Belanda ternyata mempermudah anak nagari mengakses pendidikan di kota.

Hal itu diungkapkan Khairul Jasmi, Pemred Harian Singgalang, dalam Webinar Literasi dan Budaya Minangkabau di Jakarta, Kamis (6/10). Webinar tentang Minangkabau itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA.

Khairul Jasmi menjelaskan, di kota tumbuh sekolah-sekolah Belanda, terutama di Padang, Bukittinggi, Padang Panjang. “Pelajar-pelajar sekolah Belanda mengubah cara pandang Minangkabau akan pendidikan,” ujarnya.

Ditambahkan, pada akhir abad ke-18, ulama-ulama muda Minang silih berganti datang ke Mekkah dan bermukim di sana. Ulama itu belajar pada Akhmad Khatib, orang Minang yang sudah bermukim di sana sampai wafat pada 1916.

“Semua muridnya di Nusantara mendirikan madrasah atau sudah punya sebelumnya. Hampir semua ulama besar Minang adalah murid Akhmad Khatib,” kisah Khairul. Pada awal abad ke-20, muncul dialektika antara para ulama dan murid-muridnya tentang Islam tradisional (tua) dengan kalangan modernis (muda). “Ini karena pengaruh kuat Akhmad Khatib,” tambahnya.

Kutub modernis dipegang Karim Amrullah ayah Hamka, Abdullah Ahmad, Jamil Jambek, dengan ulama-ulama beken lainnya. Seperti: Ibrahim Muda dan Abbas Padang Japang. Kutub Kaum Tua dipegang Sulaiman Arrasuli, Jamil Jaho, Saad Mungka, dan lain-lain.
Masyarakat Minangkabau sejak dahulu sudah anti penjajah
Khairul mengungkapkan, madrasah-madrasah itu menerbitkan majalah dan surat kabar untuk menyalurkan tulisan para ulama, cendikiawan muslim, dan menjawab pertanyaan umat. Koran-koran umum bermunculan pula dengan yang terhebat ada di Padang Panjang.

Pada 1910, muncul pabrik semen dan itu mengubah atau minimal memicu kemajuan. Muncul bangunan-bangunan hebat yang pakai semen, hadir banyak jembatan, sekolah, pasar yang baik. “Kota Padang dalam 10 tahun saja berubah wajah. Apalagi Sawahlunto telah tumbuh dengan bangunan-bangunan mencengangkan. Pelabuhan membuka pintu untuk belajar ke Belanda,” ungkapnya (dh).
Lebih baru Lebih lama