Jakarta Pusat Fokus Kembangkan Wisata Perkotaan

Taman Suropati menjadi salah satu andalan
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Jalan-jalan berwisata di lingkungan Jakarta Pusat (Jakpus), cukup banyak yang bisa dinikmati. Karena, Jakpus adalah Pusat Pemerintahan dan beragam peninggalan sejarah seperti Museum, bangunan tua, Taman hingga kuliner yang berada di wilayah ini.

Nah, untuk bisa menjelajah beragam wisata tersebut, paling nyaman dengan wisata berjalan kaki (walking tour). Apalagi, di Jakarta saat kini, pengembangan untuk pejalan kaki (pedestrian) sudah kian lebar dan nyaman untuk dilalui.

Belum lama ini, IndonesiaMandiri bertemu (IM) dengan (SN) Shinta Nindyawati, BBA, MSc. MM, sebagai Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Sudin Parekraf) Jakarta Pusat, berbincang tentang pengembangan potensi pariwisata di Jakarta, khususnya Jakarta Pusat.

IM. Bisa diceritakan tentang pengembangan wisata jalan kaki (walking tour) di Jakpus?

SN. Untuk walking tour di seluruh negara manapun memang yang namanya tour itu dasarnya adalah jalan kaki. Nah di Jakpus karena adalah pusat pemerintahan, sejarah. Pada 2019 sudah ada SK (Surat Keputusan No 149/2019) dari Walikota Jakarta Pusat ada enam rute tentang rute Jalan Kaki di Jakpus. Ada rute Pusat Kota, Kawasan Permukiman Menteng, Gedung Pencakar Langit, Pasar Baru, Lapangan Banteng dan Bhineka Tunggal Ika.

IM. Maksud wisata Bhinneka Tunggal Ika?

SN. Ini maksudnya wisata keberagaman, seperti mengunjungi Gereja, Masjid, Klenteng, Kuil dan lain-lain. Yang ini sudah di SK kan. Tapi dalam pelaksanaannya kita sesuaikan dengan dinamika dilapangan. Seperti baru saja waktu hari Pariwisata Dunia (27 September) kita Kerjasama dengan komunitas Jakarta Good Guide, Walking Indies, Wisata Kreatif Jakarta, semua kita libatkan karena mereka menawatkan paket wisata walking tour.

Sekarang ini tinggal pendalaman programnya yang akan kita kembangkan. Misalnya di Salemba, itu ada RSCM sebagai peninggalan rumah sakit bersejarah.

IM. Untuk program tahun ini?

SN. Sebenarnya ada tiga kali untuk tahun ini. Kemari nada saat Hut Proklamasi 17 Agustus, lalu Hari Pariwisata Dunia dan nanti Hari Sumpah Pemuda. Juga pernah ada mix/campuran wisata dengan bis dan jalan kaki bertema religi serta sejarah digagas Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta kerjasama dengan komunitas pemandu wisata.

IM. Ada berapa komunitas yang selama ini sinergi?

SN. Kalau kami di Jakpus sementara ini baru dengan Jakarta Good Guide. Kedepan kita juga akan kolaborasi dengan Walking Indies, Wisata Kreatif Jakarta dan lain-lain agar programnya berbeda-beda karena masing-masing memiliki ciri khas. Yang tiga komunitas ini di Instagram/IG banyak followernya. Sebenarnya masih ada lagi yang lain, seperti Running Tour (sambal olahraga lari), Bike Tour (bersepeda). Yang Running Tour sudah dimulai oleh Dinas Parekraf Provinsi DKI Jakarta, mulai dari Mal FX sampai Semanggi, lalu ada ceritanya sambal foto. Kemudian lari lagi ke obyek wisata lainnya. Yang Bike Tour menyasar Kawasan Menteng dan Monas.
Kepala Sudin Parekraf Jakpus Shinta Nindyawati
IM. Waktu Hari Kemerdekaan yang lalu seperti apa kegiatan wisatanya di Jakpus>

SN. Kami melakukannya tidak tepat di 17 Agustus. Tapi setelahnya. Ada rute jalan di Pemakaman Karet Bivak sambal mendoakan para tokoh pahlawan nasional. Disitu ada makamnya MH Thamrin, Ibu Fatmawati, M. Natsir, Benyamin Suaeb, dan lain-lain. Jadi menarik juga ini wisatanya, duduk sambal berdoa berpindah dari satu makam ke makam lainnya.

IM. Paling jauh berapa kilometer kalua wisata jalan kaki?

SN. Paling jauh antara dua sampai tiga kilometer.

IM. Sebenarnya unggulan wisata di Jakpus apa saja?

SN. Kita ada Kawasan lima destinasi wisata unggulan Jakpus: Yaitu Kawasan Merdeka meliputi Monas dan sekitarnya (Istana Presiden, Wapres, Balai Kota, Taman Prasasti, Museum Nasional, dan lain-lain). Lalu Lapangan Banteng (Gereja Katedral, Masjid Istiqlal dan lain-lain). Lanjut Kawasan Pasar Baru ada beberapa etnis agama (Masjid Lao TZe, Gereja Ayam, Klenteng Sin Tek Bio, Kuil Hindu/Sikh serta kuliner legendaris. Ternyata Pasar Baru 200 tahun lalu sudah menjadi pasar modern pertama di Indonesia. Kita sedang membangun Kembali atau revitalisasi cerita sejarah tersebut. Dulu di Pasar Baru itu ada bioskop untuk orang Belanda dan India. Juga ada perusahaan piringan hitam pertama di Jakarta/Indonesia. Belum lagi disitu ada Gedung Antara, Jembatan Air.

Berikutnya Kawasan Cikini dan Menteng (terutama taman-taman dan bangunan sejarah dan cagar budaya. Kita pengembangannya di lima dulu sambal berbenah. Ada yang lain Kawasan Senen, Johar Baru, Cempaka Putih dan sebagian Senayan.

Pusat Belanja Sarinah tampil kian menarik
IM. Sangat terbantu ya dengan kini Jakarta memiliki pedestrian sangat Panjang dan baik.

SN. Sangat membantu sekali untuk wisata jalan kaki. Jadi di Jakpus pengembangannya ke wisata perkotaan. Karena kita punya semua di sini. Memang kita tidak punya sumber atau pemandangan alam ya. Paling utama taman-taman, kota (Lapangan Banteng, Monas, Pelataran Senayan, Taman Suropati, Situ Lembang, dan lain-lain). Di sini wisata yang harus dibangun adalah ceritanya (story telling).

IM. Di Sudin Parekraf Jakpus ada berapa personil sekarang?

SN. Kami disini ada tiga unit. Pertama ekonomi kreatif (UMKM). Kedua industri pariwisata (perhotelan) dan ketiga pemasaran. Jadi ada 21 orang termasuk staf non PNS.

Foto: abri/istimewa
Lebih baru Lebih lama