Howitzer Mobil Kaliber Besar (3)

G6 RHINO
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Selain memiliki jangkauan tembak yang cukup jauh, kini dengan teknologi pendorong roket pada proyektil munisi kian menambah jangkauan jarak tembaknya. Demikian juga dengan jenis hulu ledak yang semakin mematikan.

Sistem senjata howitzer gerak sendiri atau mobile ini masih merupakan andalan dalam pemberian dukungan tembakan lambung bagi gerakan maju pasukan infanteri.

Kini mulai dipikirkan agar senjata howitzer mobile juga dapat diperuntukan bagi pasukan pertahanan pantai, dengan menggunakan munisi anti-kapal permukaan, seperti sedang dikembangkan oleh pihak Amerika Serikat pada Mobile Howitzer "BRUTUS".

5. G6 RHINO

Senjata artileri mobile howitzer G6 RHINO dibuat oleh Denel Land System, Afrika Selatan dengan caliber 155mm/45 hasil rancangan Lyttelton Engineering Works pada 1981, sebagai pengembangan dari senjata howitzer tarik G5, dan untuk menggantikan howitzer Sexton yang dipasang pada chasis Tank ringan. G6 diproduksi antara 1988 hingga 1999, dengan jumlah sekitar 154 unit. Di Afrika Selatan sistem senjata G6 Rhina ini disebut sebagai RENOSTER.

Sistem senjata diusung oleh kendaraan taktis truk 6x6 produksi Land Systems OMC, Afrika Selatan. Perbedaan dengan sistem G5, pada sistem G6 Rhino ini pembuatan munisi sudah memakai mekanisme semi-otomatis serta memiliki fume extractor.

Munisi yang digunakan selaras dengan munisi caliber 155mm standar NATO, termasuk jenis High Explosive Fragmented (HE-FRAG) yang dipandu rocket (rocket assisted) sehingga memiliki jangkauan tembak hingga 39 km. Kini tersedia juga munisi dengan proyektil jarak jauh yang dapat menjangkau jarak tembak hingga 50 km. Persiapan penembakan memakan waktu sekitar 60 detik.

Sistem senjata G6 berikut platformnya memiliki berbagai pelindung, baik dengan senapan mesin caliber 12,7mm dan pelontar granad asap, bodi kendaraan dapat menahan serangan senjata caliber kecil serta pecahan proyektil artileri dalam jarak 5 meter dari pusat ledakan.

Selain itu juga diberi pelindung Nubika, resistan terhadap ledakan ranjau darat dan IED. Diawaki oleh enam personel yang terdiri dari Pengemudi, Danran, Petembak dan tiga petugas munisi.

DATA SINGKAT/TOTAL UNIT:

Bobot tempur total 47 ton, panjang keseluruhan: 10,34 meter (termasuk ujung laras meriam) - 9,20 meter panjang kendaraan, lebar: 3,40

meter, Tinggi hingga atap kubah: 3,30 meter, Tinggi keseluruhan hingga bagian atas meriam: 3,80 meter.

SENJATA:

Meriam artileri caliber 155mm/45, sudut elevasi meriam: -5 hingga +75 derajat. Sudut putaran kubah: 80 derajat (40 derajat ke kiri, dan 40 derajat ke kanan). Jumlah munisi yang dapat dibawa pada kendaraan: 50 butir kaliber 155mm, dan 2.000 butir munisi kaliber 12,7mm (versi awalnya 900 butir).
Brutus
KENDARAAN:

Truk taktis 6x6 dengan mesin diesel Magirus Deutz berkekuatan 518 hp, dilengkapi auxiliary power unit (APU) yang dapat memasok kebutuhan elektrik saat kendaraan mesinnya dimatikan. Transmisi otomatis; 6 gigi maju dan satu gigi mundur. Kecepatan jelajah di jalan raya mencapai 90 km/jam, dengan jarak tempuh 700 km. Kekuatan menanjak 60%, kemiringan 30%, lintas halangan vertical setinggi 0,45 meter, melintas air dengan kedalaman 1 meter. Sudut putaran kendaraan: 12,50 meter.

Dalam program modernisasinya, G6 menghasilkan varian G6-52 dengan meriam caliber 155mm/52 (meriam L/52). Mampu menembak rata-rata 8 butir munisi per menit, dengan jarak tembak maksimum 67 km (memakai long range projectile). Varian lain dari G6 ini antara lain:

G6 M1A3 versi ekspor untuk Republik Persatuan Arab.

G6-52 dengan kamar peluru 23 liter. Panjang laras diluar muzzle brake: 8,06 meter.

G6-52 extended range, dengan kamar peluru 25 liter.

G6-Al-Majnoon – lisensi untuk Iraq.

G5 Marksman, merupakan versi SPAAG Inggris, dengan kubah Marksman yang diproduksi oleh Denel Land System. (SPAAG – Self-Propelled Anti-Aircraft Gun).

Varian G6-52 memiliki Somchem modular charge system (MCS) yang dapat menembakkan proyektil sistem M2000 Assegai (Assegai series) produksi Naschem, termasuk HEV-LAP. Dengan proyektil rocket-assisted HEV-LAP (High-Explosive Velocity-enhanced Long range artillery projectile) jarak tembak akan meningkat hingga 67km dan penembakan rata-rata 8 butir munisi per menit.

Mobile howitzer G6 RHINO dioperasikan antara lain oleh Negara-negara; Afrika Selatan, Oman, Iraq, dan Republik Persatuan Arab. Pihak

Afrika Selatan telah mengoperasikan senjata ini dalam konflik di Angola.

senjata artileri gerak sendiri (SP How) BRUTUS merupakan pengembangan baru oleh Amerika Serikat dangan dasar kannon M777 yang diusung pada kendaraan taktis truck 6x6. Utamanya untuk digunakan sebagai senjata pertahanan pantai sebagai anti-ship artillery. Pengembangannya dilakukan bersama oleh industri militer AM General dan Mandus Group.

Kannon meriam tarik M777 dipasangi hydro pneumatic system, soft Recoil system untuk dipasang pada chassis kendaraan taktis berkapasitas 5 ton M1083 FMTV – Family of Medium Tactical Vehicle, tanpa kabin lapis baja. Sistem senjata ini disebut Brutus 155mm Self-

Propelled Mobile Artillery System.

Program ini merupakan inovasi untuk menampilkan kemampuan baru pada sistem senjata. Memanfaatkan sistem kendali penembakan dan perangkat dasar lainnya yang sudah ada, ditambah dengan kemampuan penembakan yang ditingkatkan, pengurangan jumlah awak senjata dan mencapai mobilitas yang tinggi.

Pengembangan BRUTUS diawali dengan rencana tercetus pada Februari 2018, US ARMY berniat untuk mengurangi meriam tarik kaliber 105mm dan 155mm yang sudah berusia tua dengan mobile howitzer yang baru. Adanya kebutuhan sistem baru untuk meriam lapangan kaliber 155mm ini yang kemudian diterjemahkan menjadi sistem BRUTUS.

Sistem BRUTUS dengan howitzer low-recoil kaliber 155mm yang diusug dengan platform kendaraan taktis truk 6x6 berkapasitas 5 ton ini lalu diuji lapangan pada November 2018, di Fort Sill, Oklahoma. Setelah itu, unit eksperimen BRUTUS dilibatkan dalam kegiatan latihan militer Northern Strike 2019, yang disponsori oleh Biro Garda Nasional. Latihan dilakukan pada 25 Juli 2019 bertempat di Camp Grayling, Michigan, Amerika Serikat.

Juli 2020 US Army mengeluarkan surat permintaan proposal (RFP – Request for Proposals) untuk 155mm Wheeled Gun System (WGS) yang lebih cepat dan gesit dibanding M109A6 Paladin.

Pada unit eksperimen BRUTUS menggunakan meriam howitzer kaliber 155mm/39, namun dapat dengan mudah untuk ditingkatkan dengan kaliber 155mm/52 hingga 155mm/58. Intinya dapat beradaptasi dengan kaliber internasional dengan standar NATO, dengan panjang laras yang berbeda-beda.

Sistem hybrid soft-recoil sangat mengurangi jumlah komponen dibandingkan dengan sistem meriam tarik tradisional. Rancangannya sederhana, unit kannon/howitzer diinstalasi pada flatbed yang terdapat dibagian belakang truck.

Untuk pertahanan pantai (anti-kapal permukaan) diperkirakan sistem senjata BRUTUS menembakkan munisi denga proyektil hypervelocity (HVP) yang jangkauan tembaknya dapat mencapai jarak 93 km atau 50 mil-laut. Munisi HVP memiliki bobot 31 kg dengan 21 kg berupa flight body yang berisikan hulu-ledak dan pemandu.

BRUTUS seolah dirancang untuk memperkuat Brigade Stryker (SCBT – Stryker Brigade Combat Teams). Sebelumnya brigade tersebut menggunakan sistem meriam tarik M777, ternyata gerakannya lebih lambat dibandingkan dengan kecepatan ranpur Stryker 8x8. Dengan sistem yang dirancang sebagai BRUTUS – meriam 155mm diusung oleh kendaraan taktis FMTV, maka diharapkan kecepatan jelajahnya dapat sejalan dengan Ranpur Stryker. Demikian juga halnya dengan USMC, BRUTUS dapat menggunakan platform kendaraan taktis amphibi marinir 8x8 – MTVR.

Dengan demikian BRUTUS tidak memerlukan kendaraan baru, karena platform yang digunakan adalah kendaraan yang tadinya digunakan untuk menarik howitzer M777.

DATA SINGAT UNIT EKSPERIMEN BRUTUS

Bobot sistem (Senjata dan kendaraan): 14,81 ton. Awak senjata dan Kendaraan Pendukung Logistik munisi: 5 hingga 7 personel. Kemampuan penembakan rata-rata senjata: lima projectile per menit. Jarak tembak standar (dengan Charge 5): 24,7 km, dengan Rocket-Assisted Projectile mencapai 30 km.

Kini tinggal ditunggu berita selanjutnya tentang kapan BRUTUS akan dioperasikan dan Berapa banyak pesanan pertama oleh pihak US Army maupun USMC (M.ALI Haroen).

Foto: Istimewa
Lebih baru Lebih lama