Belajar Dari Perang Ukraina Versus Rusia

Tak ada yang bisa memperkirakan perang akan berakhir kapan
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Saat awal terjadinya serangan Rusia terhadap Ukraina, mayoritas dunia mengutuknya. Menjadikan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai penjahat perang, membuat sangsi dari ekonomi hingga olahraga.

Bahkan sangsi terhadap Rusia juga ditetapkan dalam ajang badan dunia – Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB. Sangsi dan pembekuan keuangan maupun kekayaan Rusia di luar negeri bukan saja ditujukan kepada Negara, tetapi juga ke warga negara Rusia yang memiliki kekayaan di luar negeri.

Berbagai argumen permasalahan lebih condong kepada menyalahkan Rusia sebagai afgresor, tidak kurang para Pimpinan NATO dan Parlemen Eropa secara terbuka mendukung pihak Ukraina, dari finansial hingga persenjataan. Dari kalangan perorangan juga tak sedikit yang turut terjun menjadi sukarelawan bergabung dengan kekuatan bersenjata Ukraina.

Perang Berkepanjangan

Ternyata alih-alih melakukan serangan sekaligus mengokupasi Ukraina, yang terjadi adalah peperangan yang cukup panjang dan melelahkan, serta terlokalisir di kawasan Timur Ukraina. Rusia tidak melakukan serangan besar-besaran ke seluruh wilayah Ukraina seperti diprediksi oleh berbagai kalangan Barat pada awal terjadinya pertempuran.

Sebagai akibat dari cukup memakan waktunya peperangan, imbas yang terjadi justru menimpa kepada Negara-negara di daratan Eropa. Terutama yang bergantung dalam sektor enerji, pangan, dan pupuk dari Rusia dan Ukraina. Walaupun telah dibukanya jalur ekspor hasil bumi Ukraina dari laut Hitam - atas dasar kesepakatan Russia, Ukraina, Turki, dan PBB – hal tersebut tidak serta-merta menjadikan berbagai kebutuhan di daratan Eropa serta belahan dunia lainnya dapat terpenuhi. Terlebih lagi dalam menghadapi cuaca dingin seperti saat ini.

Di beberapa negara Eropa sudah sangat terasa dampak peperangan di Ukraina. Pasokan listrik menjadi berkurang, harga-harga kebutuhan bahan pokok terus mengalami kenaikan. Nilai mata uang Eropa terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) cukup terapresiasi. Bahkan Pound Sterling mengalami penurunan nilai terhadap Dolar AS cukup tinggi.

Belum lagi sejak awal peperangan sudah terlanjur diutarakan berbagai janji untuk mendukung Ukraina dengan sekian milyar Dolar dan sebagainya. Untuk Negara-negara donor yang kemampuan ekonominya tak sebesar AS, tentunya donasi yang berkepanjangan kepada Ukraina akan berdampak juga ke situasi perekonomian di dalam negerinya.

Langkah OPEC

Ditengah situasi yang menimbulkan kesulitan di berbagai Negara Eropa, Negara-negara diluar daratan Eropa juga mengalami imbas – apakah secara langsung ataupun tidak langsung, atau menggunakan alasan – peperangan di Ukraina.

Dalam situasi yang sulit ini, pada 5 Oktober 2022, pihak persatuan Negara-negara peng-ekspor minyak mentah “OPEC” mengambil kebijakan untuk menguragi produksi minyak mentah sebanyak 1 juta hingga 2 juta barrel per hari.

Hingga 7 Oktober 2022, berita tersebut terus saja berkumandang diseantero dunia. Hal ini tentunya akan mengurangi jumlah pasokan dunia – ditengah-tengah situasi pasar yang sangat ketat. Lalu pada 11 Oktober 2022, Presiden AS Joe Biden mengumumkan akan meninjau ulang hubungannya dengan Saudi Arabia karena keputusan OPEC tersebut.

Rusia tentunya akan mengambil keuntungan dengan kebijakan OPEC tersebut, walaupun dalam tiga bulan terakhir ini telah mengalami penurunan harga minyak mentahnya dari US$120 per-barrel menjadi US$90 per-barrel. Selain itu, kebijakan ini justru bertentangan dengan keinginan pihak AS yang menginginkan tidak adanya pengurangan produksi minyak mentah dari pihak OPEC.

Berbagai reaksi timbul atas keputusan OPEC+ tersebut, pihak JPMorgan Chase menyarankan agar pemerintah Washington segera mengambil tindakan kontra atas keputusan OPEC+ tersebut dengan melepas lebih banyak stok cadangan minyaknya.

Media Barat Turut Berperan

Guna melemahkan mental pasukan Rusia, media Barat ramai-ramai membuat berita banyak penduduk Rusia yang melarikan diri keluar negeri karena menghindari perekrutan wajib militer. Demikian berita-berita yang disebarkan setelah diumumkannya Dekrit Mobilisasi Parsial pada September 2022.

Isi Doktrin Presiden Rusia yang disalah beritakan sesungguhnya bukanlah doktrin wajib militer kepada semua penduduknya. Tapi panggilan berupa mobilisasi secara parsial kepada warga negara yang pernah turut dalam wajib militer. Isi dari Dekrit untuk “Mobilisasi Parsial” yang sebenarnya;

“Saya mengambil beberapa keputusan yang tepat terhadap ancaman yang kita hadapi untuk mempertahankan tanah air kita, kejayaan serta keutuhan teritorinya, untuk menjaga keamanan penduduk kita dan penduduk wilayah yang dimerdekakan. Saya pikir kita wajib mendukung keputusan Kementrian Pertahanan dan Dewan Jenderal Federasi Russia tentang Mobilisasi Parsial, berbicara khususnya tentang Mobilisasi Parsial, panggilan untuk dinas militer, khusus untuk orang yang pernah turut wajib militer, terutama bagi yang pernah turut dalam latihan khusus dan memiliki spesialisasi militer dan pengalaman yang sesuai. Sebelum dikirim ke unit militer wajib untuk turut dalam latihan militer khusus tambahan, sesuai dengan pengalaman operasi militer khusus. Dekrit tentang mobilisasi parsial sudah ditandatangani, sesuai dengan hukumsecara resmi tertulis dari Kamar Majelis Perwakilan Rakyat dan Majelis Federasi, dan DPR, akan di formasikan. Kegiatan Mobilisasi akan dimulai hari ini per tanggal 20 September 2022.

Dan mengutus kepada Kepala Wilayah masing-masing untuk membantu semua hal yang diperlukan oleh Dewan Komisaris Militer. Saya tekankan bahwa semua yang dipanggil akan mendapatkan status dan penghasilan peserta Anggaran Sosial dan Asuransi Militer.

Saya menambahkan bahwa Dekrit tentang Mobilisasi Parsial juga berarti memperkuat penambahan peralatan militer Negara.

Pimpinan industri pertahanan bertanggung jawab secara langsung terhadap tugas untuk meningkatkan produksi persenjataan dan peralatan militer dengan meningkatkan jumlah produksi. Dan, semua hal-hal yang terkait dengan sumber daya keuangan dan anggaran Negara harus diselesaikan oleh pemerintah secepatnya.”

Oleh kalangan media Barat maupun dibeberapa Negara lain, pidato atas Dekrit Mobilisasi Terbatas diterjemahkan semampunya. Bahkan dipelintir sebagai perekrutan wajib militer terhadap seluruh penduduk Russia yang sudah cukup usia.

Peledakan Jembatan Crimea

Selanjutnya pada 8 Oktober 2022 terjadi ledakan di Jembatan Kerch di Selat Kerch, Krimea. Presiden Rusia mengumumkan, ledakan tersebut merupakan ulah dari kelompok terroris Ukraina. Tentu saja tuduhan presiden Putin tersebut disangkal oleh pihak Ukraina dan menilai serangan yang menghancurkan jembatan penghubung Rusia dan Krimea itu sebuah omong kosong [Tempo.co, Jakarta/12/10).

Media Barat pun hanya memberitakan ledakan dan para analis Barat memprediksi peristiwa tersebut akan melemahkan posisi pasukan Rusia disekitar kawasan tersebut.

Rusia kemudian melakukan serangan balik ke wilayah Kyiv dan pada lokasi lainnya. Maka membanjirlah berita serangan tersebut. Diberitakan, Rusia telah menghujani tempat-tempat non-militer dan korban berjatuhan. Demikian umumnya berita-berita media Barat.
IRIS-T SLM Systems
Para pimpian NATO dan Uni Eropa segera bereaksi. Dari Jerman segera beraksi dengan janji akan mengirimkan sistem senjata Anti-Serangan Udara modern ke Ukraina secepatnya. [The delivery of the IRIS-T system comes days after heavy Russian missile strikes hit major Ukrainian cities including Kyiv. The German defense minister said three more of the systems would be delivered next year. - https://www.dw.com/en/germany-delivers-air-defense-system-to-ukraine/a-63411353]

IRIS-T SLM Systems

Dalam pertemuan G7 di Brussels, Belgia (11/10) melalui video conference, Presiden Ukraina mendesak pihak Negara-negara G7 untuk segera mengirimkan tambahan bantuan persenjataan ke Ukraina.

Penguasaan Empat Wilayah Ukraina Oleh Rusia

Rusia secara resmi menganeksasi empat wilayah Ukraina yang mereka duduki; Luhansk, Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson. Aneksasi tersebut – menurut berita, melalui referendum –. Ini terjadi saat diberitakan dibeberapa wilayah, pihak Rusia mengalami kekalahan atas serangan balik pihak Ukraina.

Pihak Ukraina juga mengatakan mereka telah berhasil merebut kembali wilayah Luhansk dan Kherson. Dengan dianeksasinya empat kawasan Ukraina tersebut, instalasi pembangkit listrik bertenaga nuklir di Zaporizhzhia juga jatuh ke tangan Rusia.

Dapat dipahami, kawasan Timur Ukraina secara umum lebih condong kepada Rusia. Terlebih lagi dalam kurun waktu delapan tahun terakhir ini. kawasan seperti Donetsk, Luhansk, hingga Donbas, sejak 2014 selalu mendapatkan tekanan dan serangan dari pihak milisi/kini militer Azov maupun kekuatan bersenjata Ultra Nasionalis. Sementara kawasan Crimea merupakan zona damai dan indah dimana banyak warga Rusia berlibur.

Menurut pemberiktaan pada 11-12 Oktober 2022, pihak Ukraina telah berhasil merebut kembali beberapa wilayah yang dikuasai Rusia tersebut.

Kemana Ambisi NATO dan Uni Eropa?

Dengan meletusnya peperangan di Ukraina yang oleh NATO dan Uni Eropa dinyatakan sebagai agresi Rusia, semakin diupayakan agar proses terjadinya peperangan tersebut digambarkan sebagai upaya aneksasi ataupun ambisi Rusia untuk menguasai Ukraina.

Tidak digambarkan ataupun dibayangkan apabila Ukraina bergabung dengan Uni Eropa serta NATO, maka di Ukraina akan terdapat pangkalan militer NATO dengan segala instalasinya yang akan mengancam keamanan pihak Rusia.

Apakah G7 Summit Brussels 2022 akan menghasilkan keputusan dukungan berikutnya terhadap Ukraina? Seperti diberitakan akhir-akhir ini, krisis – tidak saja ekonomi/keuangan – terjadi diberbagai Negara Eropa, termasuk AS dan belahan dunia lainnya.
Terlebih lagi sudah masuknya musim dingin di Eropa yang memerlukan enerji bahan bakar maupun listrik. Sementara subsidi untuk rakyat juga menjadi beban, Negara-negara G7 justru lebih mengalokasikan bantuan dalam jumlah yang besar untuk Ukraina.

Ambisi untuk menaklukkan Russia agaknya lebih utama. Sementara jalan upaya damai seolah tidak begitu diminati, termasuk langkah dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (M. Ali Haroen).

Foto: Istimewa
Lebih baru Lebih lama