Perlu Aksi Nyata Kembalikan Kejayaan Bahari

Kejayaan masa lalu sebagai bangsa bahari harus dihadirksn Kembali
Jakarta (Indonesia Mandiri) – “Semua harus memberi perhatian besar untuk pembangunan kemaritiman. Kita mulai dengan menyamakan pemahaman kita pada bidang kemaritiman. Meningkatkan literasi bangsa di bidang kemaritiman menjadi langkah awal. Akan tetapi tidak boleh terlalu lama dan berhenti di situ. Kita harus lanjutkan dengan aksi nyata meraih kembali kejayaan bahari. Justru di laut kita jaya,” kata Menteri Koordinator Bidang Kemeritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut B. Panjaitan dalam Peringatan Hari Maritim Nasional (HMN).

HMN yang setiap tahun diperingati pada 23 September, berawal dari pesan Presiden I Soekarno. Saat itu, pada Musyawarah Nasional (Munas) Maritim I/1963, di Tugu Tani, Jakarta, Soekarno menetapkan tanggal peringatan Hari Maritim Nasional. Lalu diperkuat setahun berikutnya, Soekarno mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor 249/1964 menetapkan setiap tanggal 23 September diperingati sebagai Hari Maritim Nasional.

Dan kini, HMN sudah ke-58 tahun, mengusung tema “Maritim Tangguh untuk Pembangunan Berkelanjutan” dengan slogan Maritim Tangguh, Indonesia Kuat. Peringatan ini diharapkan tak hanya menjadi rangkaian kegiatan seremonial dan prosedural semata. Tapi juga menjadi tonggak penting menuju pembangunan nasional bidang kemaritiman, serta mempertegas identitas NKRI sebagai Pusat Peradaban Maritim Dunia.

Menuju Indonesia emas pada 2045, Luhut mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mengembalikan kejayaan maritim Indonesia sebagai Pusat Peradaban Maritim Dunia. Dalam mewujudkan visi Indonesia tersebut, pembangunan nasional harus diarahkan pada pembangunan kemaritiman, yaitu melalui perencanaan, pelaksanaan, dan pengendaliannya mempertimbangkan jati diri Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar.

Menjo juga mengingatkan, membahas kemaritiman bukan hanya aktifitas yang terkait dengan laut saja. Kajian tentang ekonomi maritim pun perlu digali, sehingga masyarakat yang berada di sekitar laut/pesisir ikut merasakan manfaatnya.

Oleh karena itu, industri yang berlokasi di darat yang mengolah sumber daya alam dari perairan juga termasuk kegiatan ekonomi maritim. Begitu pula industri yang menghasilkan peralatan untuk eksplorasi, eksploitasi, dan konservasi kawasan perairan.
Menko Marves Luhut B. Panjaitan
“Memperkuat pembangunan kemaritiman merupakan pilihan yang tepat untuk itu. Kita belajar dari sejarah, kita pernah mengalami zaman bahari. Yaitu suatu era di masa lampau dimana kita mengalami kejayaan bahari, jaman kita menguasai dan berinteraksi erat dengan lautan,” cerita Luhut.

Jadi, Luhut menambahkan, “pembangunan maritim ke depan harus diarahkan untuk merebut kembali kejayaan maritim sebagai negeri maritim yang kuat dan bangsa bahari yang unggul seperti di masa lampau. Kita harus kembali menjadi Pusat Peradaban Maritim Dunia” (ma).

Foto: abri/istimewa
Lebih baru Lebih lama