Perang Di Ukraina Ajang Uji Alutsista

Salah satu sarana pendukung Pernika, prototip program Terrestrial Layer System- Untuk Eselon diatas Brigade Combat Team – produksi Lockheed Martin.
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Dalam upaya menghadapi peperangan cyber dan elektronika di Ukraina, agaknya pihak koalisi penyokong Ukraina telah mempersiapkan diri. Hal tersebut dapat terlihat dari kegiatan yang dilakukan dalam konferensi ADCEA TechNet Augusta pada 16 Agustus 2022 lalu.

Pihak U.S. Army Training and Doctrine Command menilai konsekuensi dari peperangan modern akan berimplikasi pada perang cyber (CW) dan perang elektronika (EW), serta berpengaruh pada koneksivitas dan sistem komunikasi.

Dalam peperangan di Ukraina, semua pihak yang bertikai menggunakan serangan cyber, jamming, dan format digital lainnya. Ukraina sendiri mendapat dukungan dari berbagai penjuru untuk mengalahkan Rusia. Baik peperangan cyber, peperangan elektronika, hingga dukungan satelit. Amerika Serikat (AS) juga memasok pasukan Ukraina dengan perangkat komunikasi taktis, termasuk perangkat peperangan elektronika.

Di AS, Pentagon telah mengupayakan penyempurnaan sistem komunikasi di semua Matra, mulai Darat, Udara, Laut, Angkasa Luar – Space Force, dan Cyber, dikenal sebagai Joint All-Domain Command and Control. Penggabungan jaringan komunikasi akan memudahkan koordinasi, data-sharing, hingga memberikan dukungan informasi bagi pasukan sekutu yang membutuhkan – dalam hal saat ini pihak Ukraina.

Dalam pengembangan kekuatan militer, pihak AS memang sudah fokus kepada pihak Russia dan China sebagai potensi ancaman, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Dukungan Ke Ukraina
Sejak pecahnya peperangan 24 Pebruari 2022, Ukraina telah mendapatkan pasokan dari AS dan negara pendukung lainnya berupa informasi intelijen berupa informasi performa persenjataan dan taktik tempur Rusia, termasuk pemakaian sarana elektronika yang digunakan.

Dapat diasumsikan bahwa Ukraina digunakan sebagai “testing ground” bagi persekutuan NATO, baik untuk peralatan persenjataan maupun sarana peperangan elektronika. Ukraina menjadi tempat pembuktian kualitas persenjataan secara pertempuran nyata atau “real condition of battle,” termasuk sarana peperangan elektronika atau Pernika.

Rusia memiliki perangkat peperangan elektronika dan perangkat signal intelligence, sistem pertahanan anti serangan udara, misil jelajah maupun balistik, dan berbagai sarana tempur lainnya. Pihak NATO dan sekutunya dengan alih-alih bantuan, dapat menguji kemampuan dan kualitas persenjataan mereka yang mereka kirim ke Ukraina sebagai bantuan atau endorse bagi Youtuber.

Untuk sarana Pernika, berkisar pada pengendalian spektrum elektromagnetik, bergantung pada kewaspadaan situasional serta informasi. Perangkat lunak dan teknologi hardware yang tinggi akan sangat mempengaruhi kinerja sistem dilapangan.

Peperangan di Ukraina menjadi ajang uji bagi peralatan, sistem dan sarana pendukung peperangan modern, dimana hal tersebut juga menjadi salah satu media laboratorium bagi pihak Penelitian dan Pengembangan sektor Industri Militer.

Salah satu pendukung Pernika yang baru untuk U.S. Army adalah yang diupayakan melalui Terrestrial Layer System-Brigade Combat Team Program (TLS-BCT). Untuk upaya tersebut, telah dilakukan kontrak pembuatan prototype dengan pihak industri Lockheed Martin dengan nilai US$58,8 juta.

Dengan sistem tersebut diharapkan mereka dapat melakukan tindakan pencegahan terhadap serangan Pernika, selain mampu melakukan serangan cyber dan SIGINT (signal Intelligence). Selain itu, dalam Blueprint untuk Tahun Anggaran 2023 dialokasikan sebesar US$178 milyar untuk mendukung Gugus Tugas Multi-Domain tahap ke-3, mendukung kekuatan unit yang fleksibel dalam melaksanakan operasi peperangan elektronika dan cyber. [Multi-Domain Warfare merupakan Doktrin tempur baru U.S. Army].

Untuk program yang sama, tetapi untuk pembuatan konsep platform EW TLS-EAB (Echelons Above Brigade), dibuat kontrak senilai US$15 juta kepada Lockheed Martin dan General Dynamics Mission Systems, seperti yang diberitakan pada 19 Agustus 2022.
Vampire produksi L3Harris.
EAB merupakan electromagnetic attack and collection system yang terintegrasi dengan sistem cyber, SIGINT dan EW. Sistem dibuat dalam satuan unit yang kompak dalam satu platform, sehingga pasukan dapat mengetahui/mengindikasikan dan mendapatkan peringatan akan situasi disekitarnya sejauh radius hingga ribuan mil. Kontrak ini merupakan kontrak Tahap-I dari proses seluruh pengembangan.

Besarnya alokasi untuk seluruh tahapan adalah US$163 juta. TLS-EAB nantinya akan bersanding menyatu dengan TLS-BCT. Sistem EAB lebih fokus kepada eselon yang lebih tinggi dan strategis dijajaran tempur U.S. Army, sehingga memiliki kemampuan interoperability secara luas dengan perangkat Pernika yang digelar. Sementara sistem BCT lebih focus kepada operasi taktis.

Pernika Di Ukraina
Untuk mendukung pasukan Ukraina dan juga menguji keampuhan perangkat Pernika AS, Pentagon mengirimkan perangkat jamming elektronik ke Ukraina sebagai bagian dari paket asistensi sebesar US$150 juta. Personel yang akan mengoperasikan perangkat tersebut juga sudah mendapatkan pelatihan.

Pengiriman perangkat Pernika dianggap sebagai hal yang menarik untuk menguji sistem modern dalam peperangan yang sesungguhnya. Sistem pernika yang dikirim akan dilihat kemampuannya dalam menembus sistem pertahanan Pernika Russia.

Uji Senjata
Selain mengirimkan senjata-senjata yang sudah berumur seperti misil Stinger dan sebagainya – tentunya dalam jumlah banyak dan diambil dari stockpile militer - dikirim juga sistem persenjataan lebih baru – tentunya dengan jumlah lebih sedikit – untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan sistem senjata tersebut.

Beberapa sistem senjata baru yang dikirim antara lain HIMARS (M142 High Mobility Artillery Rocket System), Vampire (Vehicle-Agnostic Modular Palletized ISR Rocket Equipment), berbagai jenis drone, serta perlengkapan militer lainnya.

Agaknya peperangan di Ukraina ini alih-alih memberi bantuan atau sponsor, juga menjadi ajang uji persenjataan yang pada akhirnya akan berimbas kepada pihak industri senjata (M. Ali Haroen).

Foto: Istimewa
Lebih baru Lebih lama