Nasib Pendidikan Di Papua Tanggung Jawab Kita Bersama

Masih banyak pelajar di Papua yang sulit untuk membaca
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Bicara soal pendidikan di Papua, yang sering terlihat banyak ketertinggalan disbanding di daerah lain Indonesia, sebenarnya bukan cuma tanggung jawab Pemerintah (Dinas Pendidikan). Tapi juga menjadi tanggung jawab kita bersama.

Hal itu diutarakan Lamek Dowansiba, aktivis literasi di Papua Barat, pendiri Komunitas Suka Membaca, saat Webinar di Jakarta (1/9). Webinar diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang diketuai Denny JA.

Diskusi ini membahas tentang kiprah orang muda dalam memperkuat literasi dasar di Papua Barat, dimana Lamek mengakui kondisi pendidikan yang sangat memprihatinkan di Papua. Buku-buku sulit didapat, tenaga pengajar langka. Terutama yang dialaminya sendiri pada 1997-1998 sampai 2000-an.

Tergugah oleh situasi itu, Lamek merintis gerakan literasi dengan membentuk sampai 35 Rumah Baca dengan lebih dari 1.000 siswa yang belajar di sana. Lamek memulai gerakan literasi sejak masih usia SMP. “Banyak adik-adik saya belum bisa baca, belum bisa menulis. Pulang sekolah, saya kumpulin mereka, lalu saya mengajari adik-adik saya,” jelas Lamek, yang menolak jadi PNS demi membangun gerakan literasi.

Lamek terinspirasi dari para misi zending. Mereka mendirikan sekolah-sekolah dan melibatkan tokoh-tokoh agama, untuk mengajar pada warga yang tidak mendapat pendidikan formal. Bagi Lamek, itu luar biasa dan memberikan dampak yang cukup signifikan.

“Salah satunya, saya punya mama. Mama tidak pernah sekolah, tetapi bisa membaca. Jadi itu yang mendorong saya mendirikan Rumah Baca di setiap wilayah yang ada di papua Barat,” akunya. Jadi, Komunitas Rumah Baca yang didirikannya untuk mengisi kekosongan pendidikan formal.

Dalam webinar itu, Anick HT selaku pemandu diskusi bersama Teti Sanda menanyakan fenomena yang tidak dia pahami di Papua. Yakni, mengapa ada anak-anak yang sudah usia SMP dan SMA di Papua, tetapi ternyata belum lancar membaca, menulis, atau lemah literasinya

“Bahkan pernah saya temui, ada mahasiswa yang kemampuan baca-tulisnya sangat memprihatinkan. Hal ini terjadi karena di beberapa wilayah, si guru takut untuk tidak meluluskan siswa,” bahas Teti. Pasalnya, jika siswa itu tidak naik kelas, si guru akan ramai-ramai diprotes oleh orang tua. Walau si anak sendiri memang belum lancar baca-tulis atau daya literasinya masih rendah.
Mengenalcomputer dan internet juga masih sangat langka di Papua
Tentang gerakan literasi minat baca yang dirintisnya, tambah Lamek, akses bukunya ia dapatkan dari teman-teman dari luar Papua, dari Surabaya, Jakarta. Berkat kedekatan dengan beberapa seniornya, Lamek dapat bantuan fasilitas untuk mendukung gerakan literasi rumah bacanya.

Sebelumnya Lamek juga sudah membeli sejumlah komputer sendiri untuk program literasi ini. “Fenomena di Papua sekarang ini, mereka yang sekolah di SD itu belum menyentuh komputer dan sebagainya,” ungkap Lamek (ma).

Foto: Istimewa
Lebih baru Lebih lama