Jaringan Logistik Militer Multinasional Disiapkan Untuk Ukraina

Staf ECCU/IDCC dari Inggris/AS sedang bekerja di Patch Barracks, Jerman (Capt. Christina Judd, U.S. Air Force photo)
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Dalam mendukung Ukraina menghadapi serangan Rusia, Negara “sponsor” atau donor bagi Ukraina membentuk jaringan/Sel Logistik Multinasional yang tugas dan fungsinya mengkoordinasi bantuan militer untuk Ukraina.

Staf yang bekerja untuk melaksanaan koordinasi dan sinkronisasi waktu pengiriman material bantuan militer tersebut antara lain berlokasi di Barak Patch, Jerman. Disana bekerja para staf yang terdiri dari anggota militer dari Amerika Serikat (AS), Inggris, dan negara anggota NATO lainnya. Mereka melayani koordinasi penenerimaan dan penyaluran (Malur) bantuan militer dari lebih dari 40 negara donor yang disebut sebagai allied and partner countries.

Seperti diketahui, bantuan negara-negara donor terhadap Ukraina nilainya sangatlah besar, mencapai milyaran US Dollar. Sel Logistik Multinasional tersebut dibentuk pada Maret 2022 di U.S. European Command HQ. Tim yang menangani masalah tersebut disebut “EUCOM Control Center-Ukraine/International Donor Coordinating Center” atau ECCU/IDCC. Selain mengkoordinasikan Malur logistik, tim terebut juga memastikan pihak Ukraina telah mendapatkan pelatihan yang baik untuk mengoperasikan peralatan yang dididistribukan.

Sel Logistik tumbuh dari dua tim yang dipimpin oleh para personil militer AS dan Inggris, dengan markas di Garnisun U.S. Army Stuttgart, Jerman. Dukungan logistik ditujukan agar pihak militer Ukraina mendapatkan perbekalan yang dibutuhkan secara aman dan lancar dari jalur-jalur perbatasan.

Di wilayah yang disebut sebagai “the Attic”, personel dari 26 negara anggota NATO maupun non-NATO melakukan upaya pembekalan, komunikasi, pergerakan hingga operasional. Perwakilan dari militer Ukraina juga menyatu bersama tim tersebut, mengidentifikasi kebutuhan yang dibutuhkan oleh pihak berwenang di Kyiv yang juga bekerja sama dengan tim ECCU/IDCC.

Tim Multinasional
Tim multinasional yang disebut sebagai “A coalition of the willing” juga memberikan sarana transportasi, bantuan perbekalan, pelatihan serta pendanaan. Grup yang diprakarsai oleh pihak AS dan Inggris ini mulai bergabung pada Maret 2022.

Saat awal krisis pertempuran di Ukraina, sel-sel koordinasi logistik telah melakukan dukungan perbantuan penyaluran persenjataan ringan, munisi, peralatan persenjataan anti-tank, demikian penjelasan dari Perwira Tinggi Angkatan Darat Inggris Brigadir Jenderal Chris King yang juga merupakan komandan dari ECCU/IDCC. Dilanjutkan dengan pengiriman peralatan militer era Uni Soviet yang cukup sulit dalam penyalurannya, namun cukup familiar dengan pasukan Ukraina.

Untuk persenjataan yang belum pernah dioperasikan oleh pasukan Ukraina, pelatihan akan diberikan secara khusus. Misalkan pengoperasian howitzer 105mm yang didonasi oleh Inggris, operator lapangan dari Ukraina dilatih di Inggris oleh pasukan dari Selandia Baru yang telah memiliki pengalaman. Termasuk bekal munisi dan kendaraan untuk menarik howitzer tersebut yang dipasok dari AS.

Menurut pihak EUCOM, pihak militer AS hingga bulan Mei 2022 telah melatih setidaknya 1.500 personel militer Ukraina. Sementara pihak Inggris dalam waktu empat bulan telah melatih setidaknya 10.000 personel Ukraina.

Tantangan ECCU/IDCC

Selain memprediksi akan adanya ancaman gangguan dari pihak Russia terhadap upaya Negara-negara donor Ukraina dalam menyalurkan perbekalan bantuan militer di jalur logistik perbatasan, hal lainnya adalah belum adanya pengalaman dari pihak ECCU/IDCC dalam misi mobilisasi seperti yang mereka hadapi saat ini untuk dukungan logistik tempur, termasuk acaman dari serangan cyber.

Aliran dukungan logistik terus dijaga. Bantuan peralatan militer terhadap Ukraina cukup besar dan terdiri dari berbagai jenis, dimana sebagian besar belum familiar bagi pasukan Ukraina. Material bantuan diupayakan agar tidak terlalu lama nongkrong di Bandar udara atapun stasiun kereta api.

Sementara proses pengiriman bekal logistic dengan sistem door-to-door dapat memakan waktu antara 48 hingga 96 jam. Salah satu lokasi yang diandalkan untuk pangkalan acu logistik adalah Polandia.

Per akhir Juli 2022, tim ECCU/IDCC telah berkoordinasi untuk pergerakan 78.000 ton bantuan militer dengan jarak tempuh jalur udara 1,4 juta kilometer (869.920 mil), dan 450.000 kilometer (279.617 mil) jalur darat. Situasi lainnya adalah sulitnya mengidentifikasi material yang diendorse oleh Negara donor diakibatkan oleh berbagai faktor, termasuk terbatasnya informasi dari pihak pemberi endorse.

Bantuan Alutsista Kian Deras

Ditengah situasi penerimaan-penyaluran (malur) bekal logistik, material endorse alat utama sistem senjata (alutsista) semakin beragam dan terus mengalir. Selain 16 unit HIMARS dari AS dan ratusan ribu pasang kelengkapan personel, perangkat berukuran kecil tetapi vital juga memerlukan ketelitian tersendiri, contohnya perangkat komunikasi perorangan.

Pihak Turki juga menambah endorse mereka berupa 50 unit KIRPI - kendaraan taktis khusus mine-resistant ambush protected (MRAP). Pihak tim ECCU/IDCC berupaya untuk menyalurkan material bantuan hingga perbatasan, selanjutnya material bantuan ditentukan oleh pihak Ukraina untuk disalurkan ke daerah operasi yang membutuhkan.
Pelatihan pengoperasian howitzer 105mm di Inggris
Karena jumlahnya sering kurang signifikan, maka penyaluran ke daerah operasi harus diseleksi secara cermat berdasarkan informasi intelijen tempur yang sudah dikaji. 16 unit HIMARS disebar ke beberapa daerah operasi tempur, namun benar-benar harus dikaji, untuk menghadapi kekuatan Russia dikawasan mana yang paling efektif untuk pengerahan HIMARS tersebut.

Situasi medan pertempuran selalu dapat dijadikan sebagai materi pembelajaran untuk penyempurnaan pelaksanaan operasi, termasuk dalam bidang dukungan logistik.

Sistem Logistik merupakan salah satu dari lima hal yang menjadi pelajaran bagi para pimpinan U.S. Army selain; Kepemimpinan (Leadership On The Battlefield Matters), Mengurangi efek penandaan elektronika (Reducing Electronic Signature And The Danger Of Cell Phones), Siap dalam menghadapi serangan drone (Prepare To Defend Against Drones), dan menjaga ketersediaan perbekalan tempur (Keep Munitions Stocked). M.ALI Haroen.

Foto: Istimewa
Lebih baru Lebih lama