Pesan Hut RI Ke-77 Lewat Pentas Puisi

Sutarji C. Bachri
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Sejumlah penyair kondang tampil bersemangat, di acara pembacaan puisi “Indonesia Hari Ini: 7 + 1 Puisi Merdeka, untuk memperingati 77 tahun kemerdekaan Republik Indonesia (18/8).

Acara ini digagas Perkumpulan Penulis Indonesia, Satupena, diisi antara lain: Sutardji Calzoum Bachri, Eka Budianta, Chappy Hakim, Janet de Neefe, Dhenok Kristianti, Fatin Hamama, Jaya Suprana, dan Anwar Putra Bayu.

Obrolan Hati Pena #51 yang dipandu Swary Utami Dewi dan Amelia Fitriani, seperti saat pembacaan puisi sebelumnya, banyak pula diikuti penyair dan peserta webinar lain yang ikut membaca puisi. Seperti: D. Kemala Wati, Anick HT., M. Tauhed S., Merawati May, dan lain-lain.

Sutardji tampil memukau membaca puisi lamanya, yang nyambung dengan tema peringatan HUT kemerdekaan RI. Sutardji bukan cuma membaca puisi, tetapi dia juga serius menyimak bacaan puisi oleh para penyair lain yang tampil di acara ini.

“Senang sekali bisa mendengar Presiden Penyair Indonesia membacakan puisi legendnya selain Tragedi Winka Sihka, yang sudah saya baca sewaktu SMA tahun 1985,” komentar Bresman Marpaung, salah satu peserta.

Eka Budianta hadirkan puisi “Padi Tumbuh Tanpa Suara.” Eka juga menyajikan puisi terbarunya, “Untuk Ibukota Baru,” yang menyiratkan harapan baru Indonesia di masa depan. Sebuah irama baru kebangsaan.

Sedangkan Dhenok Kristianti membacakan puisi, yang isinya seperti percakapan antara anak dan ibunya. Sang ibu seolah menyiapkan anaknya untuk menghadapi dunia.

Sementara itu, Anwar Putra Bayu membacakan puisi karya Hamid Jabbar, yang ditulis di era ketiadaan kebebasan berbicara. Hamid Jabbar, yang wafat pada 2004, dikenal sebagai penyair yang peka pada nilai-nilai religius.

Jaya Suprana, penyair yang juga pianis, membacakan puisi yang diwarnai realitas sosial kekinian. Puisi tentang anak yang sulit bayar uang sekolah, warga yang kesulitan bayar utang, dan harga kebutuhan hidup yang terus meroket.

Janet de Neefe yang asal Australia membacakan puisi karya Sapardi Djoko Damono. Tapi, puisi Sapardi ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Tetapi tetap terasa keindahannya.

Pesan puisi dekat dengan realitas sosial
Karena banyaknya peserta yang berpartisipasi, tidak bisa semua diuraikan satu-persatu. Yang jelas, acara baca puisi terkait HUT kemerdekaan RI yang digagas Satupena ini cukup ramai (dh).
Lebih baru Lebih lama