Perang Ukraina-Rusia, Ujian Bagi NATO

Rusia gunakan Tank untuk pendudukan wilayah
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Kesiagaan militer NATO – terutama Amerika Serikat – di Eropa terus ditingkatkan. Skenario peperangan di Ukraina yang sudah dimulai sejak sebelum 2014 – dengan peristiwa peperangan Donbas atau peristiwa invasi Georgia di 2007-2008 - dan seterusnya hingga serangan Russia pada 24 Februari 2022, tak lepas dari skenario besar yang dirancang sebelumnya. Walau cukup janggal dan agak kedodoran di pihak NATO.


Peperangn yang dilokalisir di Ukraina ternyata tak berjalan dengan cepat. Skenario embargo maupun kampanye anti-Rusia dari mulai bidang perbankan hingga ajang olahraga internasional, ternyata tak berhasil menjadikan Russia terpuruk. Dampak yang timbul justru menimpa Negara-negara persekutuan NATO, dari mulai sektor pasokan gas, gandum, hingga mata uang Dollar.

Perkembangan situasi ini kian merepotkan lembaga seperti RAND Corporation, Atlantic Council, dan lembaga-lembaga pemikir bagi pemerintah Amerika Serikat.

Sering terjadi adanya perbedaan situasi antara platform para pemikir dengan situasi nyata yang dihadapi oleh kalangan militer dilapangan.

Peperangan di Ukraina telah menyeret kepada pemenuhan kebutuhan persenjataan bagi kekuatan pasukan Ukraina dalam menghadapi Rusia. Dukungan persenjataan laksana endorse Youtuber dari produsen, pada kenyataannya memakai stockpile dari negara-negara donor perang Ukraina. Sementara itu, pihak Rusia tak begitu saja menurunkan persenjataan pamungkasnya dalam pertempuran. Mereka masih melakukan taktik dan strategi peperangan terukur.

Angkatan kemampuan kekuatan NATO di Eropa sudah dilakukan baik dengan penambahan kekuatan maupun kegiatan latihan tempur besar seperti latihan tempur Saber Junction 2020 di Jerman, dan sebagainya.


Perkuatan Sayap Timur NATO terus dilakukan hingga saat ini. Biaya yang dikeluarkan oleh Negara-negara donor peperangan Ukraina juga sangat tinggi.

Kemungkinan persiapan antisipasi peperangan Ukraina ini memiliki sudut pandang yang berbeda antara NATO dan Rusia.

NATO mengukur dari kekuatan masif Rusia sehingga perkiraan peperangan akan besar, berintensitas tinggi, dengan persenjataan yang canggih. Sementara Russia mengukur dengan kekuatan Ukraina, sehingga melakukan serangan awal secara terukur dengan sasaran terpilih dan menghindari jatuhnya korban dikalangan sipil atau non-combatant.
Hingga saat ini terlihat perbedaan strategi dan taktik peperangan antara NATO dan Rusia. Strategi sebagai upaya untuk mencapai tujuan dengn batasan waktu dan sumber daya. Taktik adalah cara, siasat, dan pendukung untuk melaksanakan jalannya operasi sesuai dengan strategi.

Menghadapi konflik di Ukraina, kemungkinan NATO dalam melakukan persiapan intelijen untuk medan pertempuran (IPB – Intelligence Preparation of the Battlefield) memiliki pandangan yang berbeda dengan Russia. Dalam tahap IPB biasanya diperhatikan faktor kritis yang berhubungan dengan tingkat intensitas peperangan yang akan terjadi, diantaranya; sifat ancaman dari intensitas pertempuran (rendah, menengah, atau tinggi), populasi penduduk sipil, dan situasi pemerintahan serta militer Negara tuan rumah atau tempat terjadinya pertempuran.

Bila diperhatikan jalannya pertempuran sejat 22 Pebruari 2022, pihak Rusia cukup berpatokan kepada ketiga faktor IPB sehingga mereka mempertahankan intensitas peperangan sebagai ‘limited war’. Dalam faktor sifat ancaman intensitas peperangan, mereka menggunakan berbagai taktik dan level serangan yang menghindari jatuhnya korban dikalangan penduduk sipil atau non-combatant. Faktor memperkecil jatuhnya korban dikalangan sipil akan menentukan jalannya peperangan dalam jangka panjang, dalam peperangan akan memiliki keuntungan tersendiri, minimal penduduk setempat tidak mudah terpengaruh dengan propaganda melalui media massa.
Ukraina sebagai tempat terjadinya peperangan – atau dalam peperangan diasebut sebagai Negara tuan rumah atau host nation – tidak seluruh penduduknya berpihak kepada pemerintahan Ukraina saat ini, terlebih lagi setelah terjadinya peristiwa peperangan Donbas, Crimea, dan sejarah kebelakang dari Bangsa Uni Soviet, serta peristiwa pembunuhan politik beberapa tahun menjelang krisis saat ini. Kekuatan militer Ukraina juga sangat tergantung dari Negara-negara donor. Hal ini akan berpengaruh pada keberlanjutannya dukungan logistik tempur didaerah operasi. Sementara pihak Ukraina bersama para pen-donor-nya berupaya memperluas peperangan menjadi ‘general war’.
Militer Amerika Serikat melatih Tentara Ukraina
Rusia mempertahankan gerakan pasukannya dikawasan Ukraina wilayah Timur, agar dukungan logistik tempur dapat berjalan dengan lancar. Sementara dukungan logistik tempur untuk pasukan Ukraina dari jalur Polandia ke wilayah Barat Ukraina, lalu mendorong ke wilayah Tengah cukup memakan upaya dan waktu. Perpanjangan waktu krisis peperangan juga pada akhirnya akan mempengaruhi dukungan dana dari Negara-negara donor. Situasi akan semakin runyam pada saat masuknya musim dingin dalam beberapa bulan mendatang.
Upaya propaganda dari pihak NATO juga akan berpengaruh kepada pasukan sendiri, pengumuman jumlah pasukan Russia yang gugur atau tertawan dalam jumlah puluhan ribu, serta hancurnya peralatan militer Rusia yang jumlahnya ribuan, justru akan memperlemah kekuatan Ukraina itu sendiri. Alih-alih membangkitkan semangat tempur, informasi propaganda juga dapat menjadikan sebagian pasukan menjadi lengah dan merasa superior. Terlebih begitu melihat kenyataan di daerah pertempuran. Hal tersebut dapat dilihat pada saat terjadinya pengepungan di pabrik baja Azovstal, Mariupol, dimana akhirnya pasukan Ukraina menyerah kepada pasukan Rusia.

Upaya menggeser peptempuran ke wilayah Barat Ukraina bukannya tidak dilakukan, serangan kecil-kecilan ke wilayah Rusia yang berbatasan dengan kawasan Barat Ukraina telah dilakukan, namun agaknya pihak Rusia tidak terpancing. Setiap upaya tersebut dilakuakan, pihak Russia meningkatkan serangan dikawasan Timur Ukraina.

Masuknya sukarelawan internasional ke Ukraina juga tidak membuahkan hasil sebagaimana diharapkan. Tingkat motivasi para sukarelawan sebagian besar masih terpaku pada paradigma propaganda era Perang Dingin antara Barat vs Timur, atau apa yang digambarkan oleh film-film buatan Hollywood. Melihat kenyataan dilapangan ternyata berebeda dengan apa yang tergambar sebelumnya.

POLA SERANGAN
Dari beberapa reportase di daerah pertempuran, ada juga yang membingungkan penilaian atau penaksiran pola serangan oleh Rusia. Dari beberapa kasus serbuan pasukan tank, mereka tidak diiringi oleh pasukan infanteri sebagaimana umumnya serangan, dimana pasukan tank akan menjadi pendukung pasukan infanteri.

Sebagian peneliti seperti dari Royal United Services Institute di London, serta pengamat peperangan di Ukraina ini, mereka ada yang berpendapat, serangan yang dilakukan oleh Rusia dengan pola pasukan Tank di depan merupakan sebuah kesalahan – the failures of Russian Tanks. Secara umum, tank Rusia memiliki lapisan baja yang lebih tipis dibandingkan dengan Tank dari Negara-negara NATO, lapisan seperti ERA yang dimiliki juga daya perlindungannya tidak begitu baik.

Gerakan pasukan tank Rusia sering dipatahkan oleh serangan drone dari pihak Ukraina. Ada juga yang menilai, pasukan Tank Rusia memerlukan perkuatan pada sektor intelijen, pemantauan dan kemampuan pengintaian. Sering terpantau bahwa pasukan Russia memiliki kelemahan dalam situational awareness, sehingga kurang memahami posisi pasukan lawan.

Namun pada kenyataannya pasukan tank Rusia mampu mengembangkan pendudukan wilayah. Memang hingga peperangan memasuki bulan ke-enam pihak Rusia belum juga menurunkan tank modern sekelas T-14 Armata. Beberapa pegamat mensinyalir, Rusia tidak menurunkan T-14 Armata karena jumlah yang dimiliki masih sangat sedikit.

DURASI PEPERANGAN
Lamanya peperangan di Ukraina selain memakan korban nyawa manusia, juga menelan biaya sangat besar. Tekanan embargo ekonomi terhadap Rusia ternyata tidak menjadikan Russia mengalami tekanan ekonomi yang hebat. Dilain pihak, Ukraina terus meminta dukungan para sponsor untuk mengirimkan lebih banyak persenjataan dan peralatan militer.

Negara-negara pendukung Ukraina tidak semuanya merupakan yang memiliki kemampuan ekonomi atau stock persenjataan yang besar seperti Amerika Serikat. Apabila perang terus berkelanjutan hingga beberapa bulan kedepan, tidak mustahil pihak Ukraina dan pendukungnya harus merubah strategi.

Lebih banyak drone diperlukan oleh Ukraina untuk menghadapi gerakan tank pasukan Russia. Disinyalir, tank-tank Rusia tidak memiliki active protection system yang dapat menembak misil yang menyerangnya, sehingga mudah ditaklukan oleh serangan drone yang membawa misil.

Namun serangan dengan drone ternyata juga selamanya berhasil, pasukan Rusia memiliki persenjataan anti-drone, termasuk pengganggu frekuensi yang dapat mengacaukan arah terbang drone.

Dengan peperangan yang dipertahankan di separuh wilayah Timur Ukraina, dukungan logistic tempur bagi Ukraina juga menjadi masalah tersendiri, selain penyebaran kekuatan pasukan dan pos-pos pertahanan diwilayah Barat.

Ukraina mendapat banyak bantuan militer dari NATO
SUATU PELAJARAN
Mengamati masih pentingnya tank sebagai sarana tempur darat dalam peperangan di Ukraina, agaknya menjadi suatu pelajaran tersendiri bagi pihak Angkatan Darat di beberapa Negara Eropa maupun Amerika Serikat, termasuk tentunya kalangan industri.

Di Amerika Serikat, kalangan industri militer selain berupaya untuk memenuhi kebutuhan persenjataan yang didonasi ke Ukraina berupa stockpile dari Angkatan Bersenjata, juga berupaya untuk menciptakan sistem persenjataan baru. Amerika Serikat telah melengkapi sistem pasive protection seperti Trophy buatan Israel untuk melindungki kendaraan tempur M2 Bradley.

Di Eropa sendiri pihak Jerman dan Perancis tengah berkoloborasi (Rheinmetall dan Nexter) untuk mendapat rancangan kendaraan tempur modern dan ampuh untuk menghadapi peperangan darat modern – MGCS / Moderen Ground Combat Systems.

Setidaknya diawal 2020, kedua negara telah memulai tahap study untuk 20 bulan guna mendapatkan arsitektur sistem platform yang ideal. Namun akselerasi dari program tersebut cukup tersendat dengan adanya wabah Covid-19. Diharapkan program tahap awal tersebut dapat selesai pada tahun 2023 mendatang, sehingga dapat lanjut ke tahap produksi unit demonstrator, hingga uji lapangan pada tahun 2035.

Dengan peperangan di Ukraina, tak tertutup kemungkinan terjadinya revisi pada konsep MGCS untuk mendapatkan rancangan next-generation tank bagi Jerman dan Perancis tersebut. Sementara diberitakan bahwa Polandia telah menggelontorkan anggaran sebesar US$4,75 milyar untuk 250 unit tank M1A2 SEPV3 Abrams guna mengantisipasi tank T-14 Armata Russia. Perang di Ukraina juga mengakselerasi pembelian peralatan tempur beberapa Negara di kawasan Eropa. Italia juga berencana untuk meng-upgrade tank Ariete, dan mengganti kendaraan tempur Dardo yang mereka miliki.

Sementara itu pihak U.S. Army juga mengamati dengan cermat jalannya pertempuran di Ukraina ini untuk diambil sebagai pelajaran. Salah satu hasilnya adalah untuk mengganti dan menyempurnakan perangkat komunikasi tempur, termasuk perangkat peperangan cyber, termasuk perkuatan pada jaringan yang disebut sebagai on-the-go network. Diperlukan juga perangkat untuk ‘basic blocking and tackling’ transmisi serta keamanan komunikasi.

U.S. Army telah memiliki program penyempurnaan sistem komunikasi tempur melalui program Capability Set Initiative, diawali dengan Capability Set ’21 yang difokuskan pada tingkat Brigade Infanteri. Capability Set ’23 yang berfokus pada Brigade kendaraan tempur Stryker – termasuk untuk peperangan cyber, dan seterusnya.

BEKAL ALAT KOMUNIKASI UNTUK UKRAINA
Pihak Amerika Serikat telah mengirimkan ribuat perangkat komunikasi kepada pasukan Ukraina. Pihak Kementrian Pertahanan Amerika Serikat pada pernyataannya pada 15 Juni 2022 menyampaikan bahwa ribuan secure radio dikirimkan ke Ukraina sebagai bagian dari paket keamanan senilai US$1 milyar. Pengiriman radio komunikasi tersebut merupakan bagian dari Ukraine Security Assistance Initiative (USAI), yang materialnya tidak diambil dari stockpile, tetapi dibeli dari beberapa perusahaan industri swasta.

Sejak 31 Mei 2022, sistem komunikasi dan koneksivitas di kawasan Selatan Ukraina mengalami serangan dari pihak Russia, sehingga sistem komunikasi menjadi sulit, terutama di kawasan Kherson. Situasi tersebut menjadikan pihak Amerika Serikat maupun kelompok Negara-negara donor lainnya berupaya memasok perangkat fkomunikasi, termasuk perangkat electronic combat jamming. Amerika Serikat berjanji membantu Ukraina berupa military assistance senilai US$.5,6 milyar sejak invasi Rusia pada Februari 2022. Dan, lebih dari US$.8,3 milyar asistensi yang diberikan sejak 2014.

PELAJARAN BAGI NATO
Pertempuran yang terjadi di Ukraina menjadi pelajaran juga bagi pihak NATO, baik dalam segi peralatan militer, taktik tempur yang diterapkan Russia, juga factor-faktor lain yang mempengaruhi, termasuk sector ekonomi. Diawal, dengan memberlakukan embargo terhadap Russia, kampanye politik hingga ke sector olah raga, ternyata tidak menjadikan Russia semakin terkucil. Russia tetap dapat bertahan baik dalam sector ekonomi maupun pertahanan.

Dengan terjadinya peperangan di Ukraina yang pengaruhnya hampir ke seluruh kawasan Eropa, sebaiknya pihak NATO berfikir kembali akan kebijakannya, baik terhadap Negara-negara di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan, maupun untuk kawasan Asia-Pasifik. Kecuali bila mereka mencanangkan perang nuklir atau Perang Dunia ke-3.

M.ALI Haroen 
(wartawan IndonesiaMandiri)
Lebih baru Lebih lama