SEKILAS SEJARAH SINGKAT KORPS MARINIR DI DUNIA

Marinir Sering Berfungsi Sebagai Pasukan Pendarat
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Bila kita mendengar sebutan Korps Marinir lalu akan terbayang sebagai pasukan infanteri laut yang bertindak sebagai tim pendarat dari laut/perairan ke pantai atau pesisir. Umumnya pasukan marinir merupakan bagian dari Angkatan Laut. Namun tidak semuanya demikian. Karena di Perancis, Korps Marinir merupakan bagian dari Angkatan Darat.

Di masa awal adanya peperangan di laut, jarang dijumpai armada laut yang membawa pasukan untuk bertempur sampai kedarat. Kapal-kapal perang umumnya hanya membawa para pelaut untuk bertempur di laut, baik untuk melayani persenjataan hingga perkelahian diatas kapal apabila kedua kapal yang berseteru sudah saling merapatkan diri.

Para awak kapal atau saat itu disebut sebagai pendayung – karena kapal belum menggunakan mesin – harus mampu melakukan pertempuran atau berkelahi. Saat itu paling terkenal kemampuan berkelahi adalah para awak kapal dari Yunani, yang beberapa kali mengalahkan kekuatan Romawi di laut.

Sejarah pasukan marinir tak lepas dari pengalaman tempur pasukan armada laut Romawi pada kancah perang Punic Pertama, dimana para awak kapal Romawi tidak mampu menandingi taktik bertempur di laut pasukan Kartagena. Pertempuran di laut saat itu armada Romawi tidak mampu menandingi kemampuan manuver dan taktik bertempur pihak lawan yang memang lebih berpengalaman.

Sampai akhirnya kapal-kapal perang Romawi dipersenjatai dengan corvus, berupa palang melengkung dengan beak-like spike (untalan menyerupai paruh) dibagian bawahnya untuk mengait kapal lawan. Sistem tersebut diyakini awalnya digunakan oleh kapal-kapal perang Syracus saat melawan armada Athena saat ekspedisi Sicilia dalam peperangan Peloponnesia.

Lalu, dengan menggunakan jembatan khusus dibawa dalam kapal prajurit infanteri Romawi yang berada di kapal dapat menyebrang ke kapal lawan guna melakukan pertempuran dan perkelahian. Pada masa itu awak kapal di kelompokkan sebagai centuria. Awak kapal dapat berupa personil infanteri laut (disebut Marinus), pendayung atau Seaman, serta awak kapal lainnya.

Semua personil yang bekerja untuk armada imperial diklasifikasikan sebagai milites atau “soldiers”, bergantung kepada fungsinya. Hanya klasifikasinya pada saat tertentu dibedakan dengan serdadu darat (army). Pada saat tertentu diberlakukan klasifikasi atau classiarius atau classicus. Angkatan Laut Romawi memiliki dua legion armada; I Adiutrix dan II Adiutrix, dimana unit pasukan infanteri tergabung dalam armada yang pertama.

Korps Marinir pertama kali terorganisir dibentuk di Venice oleh “Doge” Enrico Dandolo saat dibentuknya resimen pertama dari 10 kompi yang disebar pada sepuluh kapal perang. Korps tersebut berpartisipasi dalam penaklukan Bizantium (tahun 1203-1204), kemudian pada 1550 disebut secara resmi sebagai “Fanti da Mar” atau Infanteri Laut. (Ref: Carro, Domenico (2015). "Vox Navalis". Roma Aeterna. Hal. 107).

Enrico Dandolo (versi Inggris Henry Dandolo dan dalam versi Latin Henricus Dandulus) lahir di Venisia pada 1107 (wafat Mei 1205) yang merupakan “Doge” Venisia ke-41 sejak 1292 hingga wafat. Ia aktif sebagai anggota klub social dan politik selaku keturunan keluarga Dandolo, putera dari Vitale Dandolo yang merupakan orang berpengaruh dibidang hukum. “Doge” merupakan gelar kepala magisterasi di Republik Venise sampai 1797, dan di Genoa hingga 1805.

Berikutnya, di abad ke-16, Raja Spanyol, Carlos I pada 1537 membentuk pasukan Infanteri Laut (Naval Infantry) dari Kompi Laut Naples (Compañías Viejas del Mar de Nápoles) menjadi Skadron Mediterranean Galley atau the Escuadras de Galeras del Mediterráneo yang selanjutnya kini menjadi Korps Marinir Angkatan Laut Spanyol atau Infanteria de Marina Corps (disebut sebagai Korps Marinir aktif tertua di dunia).

Korps Marinir tertua selanjutnya adalah Korps Marinir Portugal, didirikan pada 1618 sebagai Terço of the Navy of the Crown of Portugal yang kini menjadi Corpo de Fuzileiros atau secara literatur sebagai Corps of Fusiliers. Merupakan pasukan elit infanteri dan unit pasukan khusus dari Angkata Laut Portugis, yang perannya serupa dengan Marine Recon USMC atau Royal Marine Commandos. Pasukan ini memiliki spesialisasi dalam peperangan ampibi, pengintaian pantai, peperangan non-konvensional, perang gerilya, penyerbuan, operasi maritime interdiction dan boarding. Merupakan pasukan elit infanteri ringan, beroperasi sebagai pemukul reaksi cepat.
Marinir Portugis salah satu yang tertua
Etimologi
Secara etimologi, istilah Marinir diambil dari dasar kata. Sebagai contoh, pada bahasa Inggris “marine,” bahasa Perancis “marin,” bahasa Latin “marinus”, yang artinya hampir sama yaitu “of the sea”.

Perkataan atau sebutan marine sendiri awalnya digunakan untuk menyebut sejenis pasukan pendarat dari Inggris. Untuk beberapa negara di Eropa, sebutan marine atau marina saat itu diartikan sebagai Angkatan Laut. Sehingga, di beberapa negara Eropa sebutan untuk pasukan Korps Marinir ada menyebutnya sebagai naval infantry atau coastal infantry.

Sedangkan untuk negara-negara yang berbahasa Perancis, sebutannya adalah troupes de marine dan fusiliers-marins. Sedangkan di Portugal disebut sebagai Fuzileiros Navais. Secara umum, kini sebutan Marinir sudah hampir sama di berbagai belahan dunia, diartikan sebagai pasukan pendarat dari laut atau danau ke darat.

PASUKAN PENDARAT
Mengikuti sejarah dan pembentukannya, pasukan marinir merupakan kekuatan militer yang beroperasi di zona pesisir, beroperasi keluar dari kapal-kapal yang membawanya menuju pantai tumpuan, mengamankan titik-titik kunci hingga menusuk jauh (ada yang mendefinisikan sejauh 50 mil) ke daratan. Atau lebih jauh lagi sepanjang dukungan logistik memungkinkan.

Dari dalam kapal perang biasanya pasukan marinir menuju pantai tumpuan memakai kapal-kapal cepat berukuran kecil (dahulu dengan sekoci). Sekarang ada yang disebut sebagai landing craft air cushion (LCAC), kendaraan lapis baja ampibi ataupun dengan pesawat helikopter. Para personil Korps Marinir sudah terlatih dengan baik untuk operasi pendaratan, termasuk menyelam, renang tempur serta terjun payung, selain survival di hutan rimba dan mauntainering.

Selain tugas sebagai tim pendarat dari laut atau danau, pasukan marinir juga biasanya dioperasikan untuk peran pasukan laut lainnya, seperti sebagai penjaga pangkalan, termasuk pangkalan acu, atau membentuk detasemen marinir diatas kapal (dalam satuan armada Angkatan Laut), dan tugas-tugas lainnya seperti operasi khusus (termasuk peperangan di darat) yang tidak menyatu dengan operasi Angkatan Laut, sesuai dengan arahan kebijakan dari Pemerintah.

Karena tuntutan tugas dan fungsi tersebut, di dalam jajaran Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) pernah terdapat gugus tempur yang disebut sebagai MAGTF (Marine Air-Ground Task Force) yang kini sudah diperbaharui konsepnya. Pembentukan tersebut dikarenakan kebijakan negaranya yang selalu berperang diluar daratan teritorialnya, sehingga kekuatan pasukan marinir menjadi ujung tombak angkatan bersenjatanya. MAGTF yang masih relevan – hanya berubah nama saja – terdiri dari unsur Elemen Komando (pimpinan), Elemen Perang Darat, Elemen Perang Udara (Aviation Combat Element) dan, Elemen Logistik Tempur.
Proses pembaretan
MAGTF memiliki kelompok tempur yang disebar mengikuti Armada Angkatan Laut. Kelompok terkecilnya disebut sebagai MEU (Marine Expeditionary Unit) dengan kekuatan utama Batalyon Tim Pendarat, didukung skadron udara komposit yang membentuk elemen tempur udara dengan aset pesawat MV-22 Osprey dan pesawat helikopter, unit bantuan tempur termasuk kompi markas, berkekuatan sekitar 2.200 personil.

Sebagai pasukan pendarat, pasukan korps marinir dituntut mampu untuk bertempur secara mandiri hingga garis pantai dapat dikuasai.



Beberapa Catatan Sejarah

Yunani dan Romawi kuno merekrut anggota pasukan untuk ditempatkan di kapal perang mereka dari pennduduk setempat di Yunani disebut sebagai epibatai. Untuk Romawi sendiri, mereka menempatkan pasukan infanteri reguler di kapal-kapal perang mereka, selain personil pelaut yang terlatih, setidaknya pada masa itu Romawi memiliki kekuatan dua legiun yaitu; I Adiutrix dan II Adiutrix untuk bertugas di darat.

Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur), Angkatan Laut Bizantium dalam beberapa abad merekrut keturunan Mardiates yang bermukim di dataran tinggi Nur, selatan Analotia dan Yunani (ada yang meyakini sebagai orang Persia) untuk menjadi anggota Marinir di kapal-kapal perang mereka. Sementara Kekaisaran Basil I juga membentuk pasukan Marinir terpisah dengan kekuatan 4.000an personil sebagai kekuatan Armada Pusat Kekaisaran yang berpangkalan di Konstantinopel. Mereka merupakan personil-personil profesional yang diambil dari pasukan elit tagmata.

Untuk beberapa negara, angkatan laut Bizantium merekrut pasukan marinirnya dari penduduk asli Mardiates (sekitar tahun 1260an) ketika Kekaisaran Michael VIII membangun kembali kekuatan Angkatan Laut, Ia merekrut orang-orang Tzajones yang berasal dari Laconia, dan dari Gasmouloi yang merupakan campuran orang Yunani dan Latin, untuk dijadikan pasukan elit marinir. Keberadaan pasukan ini terus aktif hingga akhir periode Kekaisaran Palaiologan.

Spanyol dapat dikatakan sebagai negara yang memiliki Pasukan Marinir terorganisasi tertua, yaitu berupa pasukan Infanteri Angkatan Laut yang dibentuk oleh Raja Charles V (Holy Roman Emperor 1519-1556) pada 27 Februari 1537 sebagai Tercio de Armada.

Pasukan laut yang kuat dijaman dahulu memang sangat diperlukan, terutama bagi negara-negara yang berupaya mencari sumber-sumber daya alam di luar negerinya. Mereka berupaya menganeksasi wilayah-wilayah yang jauh untuk dijadikan koloni. Demikian juga dengan Perancis yang menapak wilayah kekuasaan sampai ke Kanada.

Untuk memelihara wilayah koloninya di Kanada tersebut, Perancis membentuk pasukan marinir pada 1622 yang disebut sebagai compagnies ordinaires de la mer yang merupakan pasukan darat dibawah kontrol Menteri Negara urusan Angkatan Laut, kemudian oleh Napoleon di transformasikan kedalam jajaran Resimen Infanteri.

Pada 1822 dibentuk lagi pasukan laut untuk artileri dan di 1831 pasukan laut untuk infanteri. Pada abad ke-19, pasukan marinir atau Troupes de marines menjadi kekuatan militer utama Perancis untuk penugasan ke luar negeri guna mempertahankan wilayah koloni mereka. Di tahun 1900 keberadaannya berada dibawah Kementrian Peperangan dan diberi nama sebagai Troupes Coloniales.

Nama Troupes Coloniales secara resmi dirubah pada 1958 menjadi Troupes d’Outer-Mer atau Pasukan Penugasan Luar Negeri. Lalu di 1961 dirubah lagi menjadi Troupes de Marine, dan posisinya merupakan bagian dari Angkatan Darat Perancis.

Dikawasan Amerika Selatan ada juga negara yang membentuk pasukan marinir untuk melawan kekuatan kolonial. Contohnya Kolombia yang membentuk pasukan marinir pada 1822 dengan merekrut personil dari Venezuela. Memang usia pasukan ini tidak lama, pada 1829 Pasukan Marinir Kolombia dibubarkan.

Kekaisaran Hungaria-Austria. Dibawah bayang-bayang sekutu Prusia, memiliki resimen infanteri laut yang kemudian dinamai sebagai Marinier-Korps. Kekuatan ini dilengkapi dengan korps artileri seperti di era Venetian berdampingan dengan “Corps of Sailor” Angkatan Laut Kekaisaran Austria (Matrosencorps). Namun pada 1868 sebagai bagian dari reformasi Angkatan Laut Resimen Infanteri dan Korps Artileri Angkatan Laut ini dibubarkan oleh Komandan Wilhelm von Tegetthoff.

Korps Marinir di negara Kolonial (Persemakmuran) Australia

Pada paruh kedua abad ke-19 di kawasan Australia yang merupakan kolonial Inggris terjadi peningkatan tenaga sukarela untuk menjadi pasukan Infanteri Angkatan Laut dan Brigade milisi Angkatan Laut Kolonial Australia. Pada 1859 dibentuk Brigade Angkatan Laut Victoria, lalu 1864 Brigade Angkatan Laut Sydney (kemudian 1897 diperkuat dengan Pasukan Sukarela Artileri Angkatan Laut) dan Brigade Angkatan Laut Queensland pada 1873.

Sehubungan dengan terbentuknya Federasi Australia, kekuatan pasukan tersebut digabung kedalam Milisi Angkatan Laut Persemakmuran (Commonwealth Naval Militia). Lalu dengan dibentuknya Royal Australian Navy pada 1911 diberi nama baru menjadi Royal Australian Naval Brigade. Brigade ini dipertahankan hingga 1920. Kemudian para tenaga sukarela dilebur kedalam kekuatan cadangan atau Royal Australian Naval Reserve.

Korps Marinir di Asia

Dimasa feodalisme, bangsa Jepang menggunakan serdadu Ashigaru atau pasukan pemanah regular Yumi sebagai serdadu dalam upaya melindungi kapal-kapal yang melaut dari ancaman para perompak. Pada 1873 Angkatan laut Kekaisaran Jepang yang baru berdiri membentuk Korps Marinir dengan pola meniru Korps Marinir Kerajaan Inggris. Usia Korps marinir ini sangat singkat, karena pada 1878 dibubarkan.

Sejak itu, baik Angkatan Laut Kekaisaran Jepang maupun Angkatan Darat Kekaisaran Jepang mendirikan unit mirip Marinir yang keduanya dihilangkan pada akhir Perang Dunia ke-II. Pasukan Darat Angkatan Laut Kekaisaran Jepang memiliki beberapa Unit Tempur seperti;

Pasukan Khusus Pendarat Angkatan Laut merupakan Korps Marinir Kekaisaran Jepang. Angkatan Laut Kekaisaran juga memiliki Pasukan Penjaga (keibitai) dan unit Pertahanan (bobitai) yang keduanya dilatih juga untuk serangan dan pendaratan ampibi.

Pasukan Beladiri Jepang tidak memiliki pasukan Korps Marinir yang berdiri sendiri seperti model Amerika Serikat atau Inggris. Mereka memiliki Unit Pasukan Gabungan Khusus Pendarat Angkatan Laut atau Combined Special Naval Landing Force Unit berkekuatan satu Brigade.

Dahulu Brigade Pendarat dari Laut Kesatu hingga Keempat Kekaisaran Jepang terdiri dari 3.500 personil diperuntukan bagi pelaksanaan pendaratan serangan ampibi pada pesisir pantai, selanjutnya menetap untuk membuat garnisun di tempat yang di darati tersebut.

Dalam susunan organisasi moderen sekarang ini, Brigade Gerak Cepat Ampibi (Suirikukidōdan) yang merupakan Unit dari Korps Marinir dari Pasukan Bela-diri Jepang memiliki kekuatan sekitar 3.000 personil, memiliki tugas dan fungsi melakukan operasi tempur pendaratan ampibi. Pasukan ini berpangkalan di Camp Ainoura, Wilayah Administrasi Nagasaki.

Kini Brigade tersebut memiliki kekuatan tiga Brigade (ke-1 sampai ke-3), dikomandoi oleh Markas Brigade, didukung dengan Batalyon Artileri, Batailyon Pengintai, Batalyon Zeni Batalyon Tim Tempur Pendarat, Batalyon Logistik, Kompi Komunikasi dan Elektronika, dan Unit Pelatihan.

Keunikan Korps Marinir

Korps Marinir memang banyak dikenal sebagai pasukan infanteri laut. Keberadaan Korps Marinir untuk negara yang memiliki garis pantai menjadi suatu hal yang esensi sebagai pendukung tempur pasukan laut. Satu keunikan dari Korps Marinir, yaitu apapun kebangsaannya, sesama anggota Korps Marinir memiliki rasa persaudaraan. Ini merupakan suatu tradisi dan bukan suatu tata-aturan yang tertulis, tetapi lebih kepada suatu tradisi yang sudah lama dianut.

Dijaman moderen sekarang ini keberadaan Korps Marinir dibeberapa negara sudah merupakan salah satu tulang punggung angakatan bersenjata. Hal ini dikarenakan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan strategi dan taktik bertempur.


Kini pasukan marinir bukan lagi hanya sebagai pasukan pendarat ampibi, tetapi juga didatangkan ke daerah operasi melalui udara, baik dengan pesawat helikopter maupun dengan pesawat udara yang mampu take-off dan landing secara vertikal seperti MV-22 Osprey. Kapal-kapal pendarat seperti Landing Craft Air Cushion (LCAC) juga mengalami kemajuan yang signifikan dan mampu membawa personil sampai tank tempur kelas berat dari laut (mother ship) ke bibir pantai.

Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya yang akan memperkaya sejarah pasukan Korps Marinir.



M. Ali Haroen & M. Abriyanto (wartawan IndonesiaMandiri)

Dari berbagai sumber.

Foto: Istimewa
Lebih baru Lebih lama