Sejarah Seni Rupa Indonesia Seolah Milik Pria

Perlu diangkat lagi peran perempuan Indonesia di dunia seni
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Peta sejarah seni rupa Indonesia seolah hanya milik para pria. Padahal ada sejumlah seniman perempuan Indonesia yang telah memberikan karya-karyanya.

Misalnya, pelukis Emiria Soenassa (1944-1964), yang karyanya sangat mewakili “Sikap Estetika Persagi Sejati” pada 1970-an.

Hal itu diutarakan penulis dan Direktur Cemara 6 Galeri, Dr. Inda Citraninda Noerhadi, SS., MA, dalam Webinar di Jakarta (30/6).

Webinar itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia Sstupena, dipandu Swary Utami Dewi dan Amelia Fitriani.

Inda menceritakan, khalayak seni rupa di Indonesia juga tidak mengenal Trijoto Abdullah (1971-1989), sebagai pematung pertama. Trijoto adalah adik dari pelukis Basuki Abdullah.

Menurut Inda, ada kedekatan hubungan antara perempuan seniman dan perempuan sastrawan di Indonesia. Seperti, kedekatan antara sastrawan Toety Herati Roosseno dengan perempuan pelukis Kartika Affandi. Kartika adalah putri pelukis terkemuka Affandi.

Ada buku bunga rampai, yang penyusunannya didasari rasa akrab dengan 15 perempuan penyair dan sembilan perempuan pelukis, yang dalam dunia kini kian menghadapi aneka kemungkinan. Hidup lebih bebas barangkali, tetapi lebih sulit menemukan kedamaian hati.

Meskipun tak semuanya saling kenal, para perempuan penyair dan pelukis itu semua memiliki suatu kesamaan: Menghayati dan mengungkapkan dengan kekhususan masing-masing.

Karya seni perempuan Indonesia sangat beragam
Mereka adalah: Roekiah, Walujati, Soegijarti, Selasih, Samiati Alisjahbana, Poppy Hutagalung, Siti Nuraini, Isma Sawitri, Toeti Heraty, Bibsy Soenharjo, Koentari, Maria Amin, Kusdiyantinah, Joellia, Agnes Arswendo, Hamidah, Nursjamsu Nasution, dan Dwiarti Mardjono.

Sajak-sajak mereka tersebar antara 1946 sampai 1976. Ini jangka waktu 30 tahun, dimulai sekitar zaman revolusi fisik (dh).

Foto: abri/Istimewa
Lebih baru Lebih lama