Hanggar GMF Sudah Di Booking Hingga Desember 2023

Hangar GMF kini penuh terus
Jakarta (Indonesia Mandiri) – “Saya baru kembali lagi di GMF pada Agustus tahun lalu. Sebelumnya 16 tahun meninggalkan GMF. Lalu dipanggil lagi untuk masuk ke GMF,” ucap Ananta Wijaya, Direktur Bisnis dan Operasi PT Garuda Maintenance Facility/GMF Aero Asia, saat dijumpai di kantornya, bengkel GMF, di Cengkareng, Provinsi Banten. Ananta masuk ke GMF pada 1995, kemudian pindah bekerja di bidang aviasi di Timur Tengah.

Keempat hanggar yang dimiliki GMF kini tampak penuh, diisi oleh berbagai pesawat dari dalam dan luar negeri (disamping pesawat Garuda Indonesia sendiri). Bahkan pesawat militer milik TNI pun ada di hanggar GMF. Berikut petikan wawancara IndonesiaMandiri (IM) bersama Ananta Wijaya (AW), alumni dari Insitiut Teknologi Bandung dan Universitas New South Wales Australia, yang juga sempat menjabat Direktur Teknik di Sriwijaya Air.

iM. Situasi bisnis bengkel pesawat kini  seperti apa, khususnya GMF?

AW. Sesuai visi dan misinya, kita ingin menjadi MRO (maintenance, repair and overhaul) most reliable in the world. Menjadi kebanggan bangsa. Intinya kita tidak hanya menjadi MRO di domestik, tapi juga dunia.  Karena pasar MRO sangat besar di dunia. Jadi GMF ini menjadi kebanggaan dan kemandirian  bangsa.

Mungkin ujian terberat kita ya kemarin itu. Desember 2021 kemarin kita mengerjakan perawatan C-Check dua pesawat penumpang milik KLM (Belanda) jenis Airbus 330. Kalau pesawat Kargo lebih mudah ya. Ini, berbeda dengan Pesawat KLM, bisa selesai tepat waktu ya. Jadi kalau kita sudah bisa melayani KLM dan sampai kirim timnya ke GMF, ini prestasi dan milestone untuk GMF ya.

IM. Berarti semua hanggar (GMF memiliki empat hanggar) sekarang terisi ya?

AW. Kalau anda tahu hanggar 1 bisa  untuk dua pesawat besar.  Kiini kita bisa isi sampai 4 pesawat, dua diluar dan dua di dalam. Jadi pada antri untuk masuk kesini. Karena freighter (pesawat kargo) itu laku sekarang dan banyak dipakai di seluruh dunia. Karena terbangnya sering, maka interval perawatannya juga jadi sering. Hanggar kita sudah di booking oleh airline asing (kebanyakan Eropa Timur, Islandia, Timur Tengah) hingga akhir 2023. Alhamdulilah.

IM. Bagaimana dengan hanggar yang lain?

AW. Kalau hanggar 2 khusus untuk perawatan singkat Garuda Indonesia, seperti  A Check, daily check, dan lain-lain. Hangar 3 dan 4 untuk customer dalam dan asing. Ada pesawat dari Nepal juga lagi  di hanggar kita.

IM. Dengan  begitu banyaknya customer, bagaimana kekuatan sumber daya manusia (SDM) nya?

AW. SDM kita alhamdulilah sudah bisa melayani ya. Kalau saya konsepnya lebih baik pusing banyak pekerjaan dari pada pusing tidak ada pekerjaan. Dulu memang ada sedikit “miss” saat sedang besar, dengan menambah tenaga SDM paruh waktu melalui outsourcing. Begitu pandemi, kita harus mengurangi SDM. Sekarang kita stop semua tenaga paruh waktu. Kini ada 5000 SDM sebagai karyawan.
Ananta Wijaya, Direktur Bisnis dan Operasi PT GMF Aero Asia
IM. Target utama yang harus dicapai saat ini?

AW. Sekarang kita akan sibuk untuk menghidupkan kembali semua pesawat Garuda  Indonesia yang narrow body (sejenis Boeing 737NG) harus sudah terbang. Sedangkan untuk jenis pesawat wide body  (Airbus 330 dan Boeing777) harus terbang semua pada 2023.

IM. Untuk pasar perawatan luar negeri bagaimana?

AW. Saya baru kembali dari India menawarkan GMF. Di situ ada info akan ada seratus event perwatan pesawat. Kita akan ikut tender itu. Kalau bisa dapat seperempatnya saja sudah bagus. Sebenarnya untuk market, kita tidak usah kemana-mana ya. Untuk pasar di Indonesia dan India saja sudah cukup.

IM. Untuk kompetitor GMF saat ini

AW. Kalau di Indonesia tidak ada ya. Untuk di Asia, kompetitor kita di Singapura, Filipina dan Malaysia. Di luar itu jauh semua lokasinya. Terus terang kita menang di harga ya. Mereka semua dengan dolar kan. Soal kualitas, kita bersaing. Ada kalanya kita lebih baik atau lebih rendah dari mereka. Kita sudah mengantongi 25 sertifikat perawatan pesawat dari lebih 25 negara.

IM. Bagaimana anda melihat  prospek GMF kedepan?

AW. Aset GMF ini luar biasa besarnya, waktu pandemi kemarin kita terlambat saja mengantisipasi situasi. Karena pasar kita saat itu mengandalkan Garuda saja. Begitu penerbangan menurun, pendapatan kita juga ikut mnenurun. Sekarang kita sudah bisa antisipasi. Alhamdulilah sepuluh bulan terakhir ini kita tidak ada masalah dengan gaji. Artinya, kalau tanpa beban masa lalu, kita sudah profit.

Kini, GMF juga ada usaha industri gas turbin, yang sekarang saya beri nama industry solution. Karena ternyata sekarang, sudah banyak yang dilakukan oleh GMF. Dengan kemampuan kita merawat pesawat, mesin pesawat, otomatis industri turunannya juga bisa.

IM. Jadi diversifikasi?

AW. Ya, dan klien kita sudah skala industri, baru saja kita selesai mengerjakan di Belawan, Sumatera Utara, Jambi, Cirata, dan lain-lain. Kita mengerjakannya on site atau dilokasinya. Kalau hanya satuan kita bisa bawa kesini. Yang di Cirata itu kita kalahkan dari pihak asing (Austria).

IM. Inovasi lainnya?

AW. Sekarang militer sedang kiita jajaki semua. Kita focus begini, dimana GMF tak lagi mencari  proyek. Tapi mencari pekerjaan. Contohnya begini. Kita kan dapat pengerjaan fase I Pesawat Hercules (C-130) dari TNI. Ada delapan pesawat.  Yang fase II diberikan ke PT DI (Dirgantara Indonesia). Tapi kita juga katakan kepada PT DI, kalau perlu bantuan ke GMF kita siap. Jadi siapapun pemenangnya tidak apa-apa, yang penting kita dapat pekerjaannya. Sama dengan di proyek lain juga begitu. Seperti di Industry Solution dengan power generation bersama PLN juga demikian. Yang penting pekerjaan itu tidak terus keluar negeri.

IM. Caranya?

AW. Kita menang di TKDN (tingkat kandungan dalam negeri). Ini bervariasi. Untuk pekerjaan turbin bisa mencapai 80 persen. Raw material saja dari luar negeri. Alat testing dan tenaga kerja semua dari kita. GMF itu seperti hidden gem atau harta terpendam. Kalau dipoles bagus. Di sini kita harus konsisten yang harus dijaga terus.

Inshaallah sebentar lagi pesawat Garuda terbang semua. Hangar bisa terisi dengan pelanggan yang lain. Apapun juga, kita harus berterima kasih dengan Garuda. Tidak ada Garuda maka GMF tidak akan sebesar ini. Cuma saat pandemi seperti kemarin, kita harus cepat mensiasatinya.

Karena perawatan air frame kita, 80 persen sudah non Garuda. Sisanya Garuda. Kalau untuk engine belum.

IM. Apalagi yang mau dikejar GMF?

AW. Saya mau jadikan GMF menjadi happy company. Jadi perusahaan yang memuat "Ruang Bahagia" bagi seluruh karyawannya. Jangan sampai karena menunggu profit, baru kita akan bahagia. Jangan. Tapi saat menuju profit kita sudah harus bahagia. "Kerja Bahagia, Kerja Bangga dengan GMF".
Menhan Prabowo (bajucream) saat berkunjung ke GMF
Saya akan bikin nanti saat Hari Ibu (Desember), mau undang 100 ibunya karyawan diundi untuk datang ke GMF. Biar mereka lihat anaknya bekerja. Karena yang orang tuanya di kampung, mereka tidak terbayang tentang anaknya bekerjanya seperti apa. Nanti mereka lihat, kalau anaknya bekerja servis pesawat, servis mesinnya. Pasti bangga sekali. Kita pernah bikin lomba barista, stand up comedy….wah peserta banyak…hehe. Jadi nanti ada istilah "GMF Happy Way". Biar orang lain bisa mencontoh (ma).


Lebih baru Lebih lama