Pendidikan Konservasi Elang Jawa Terus Digalakkan

Sosialisasi koservasi Elang Jawa untuk generasi penerus
Sukabumi/Jabar
 (IndonesiaMandiri) – "Melalui sosialisasi Pendidikan Konservasi Elang Jawa ini diharapkan dapat menjadi sarana pendidikan, pemahaman untuk meningkatkan kesadaran,  kepedulian semua pihak akan pentingnya melestarikan satwa langka ini agar dapat diwariskan kepada para generasi mendatang secara berkelanjutan," ujar Indra Eksploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KKH-KLHK).

Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), merupakan satu dari empat jenis elang yang ada di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Jenis lainnya yaitu Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), dan Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), dengan keberadaan di alam masih relatif terjaga.

Balai Besar TNGGP melakukan Sosialisasi Program Konservasi Elang Jawa di Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad, Sukabumi, Jawa Barat (27/5), atas kerja sama dengan Taman Safari Indonesia (TSI), PT. Smelting, dan Filantra. Tujuannya untuk memperkenalkan pentingnya konservasi elang jawa dan habitatnya kepada generasi muda, sehingga menumbuhkan rasa cinta, bangga, dan peduli terhadap pelestarian elang jawa secara berkelanjutan.

Menurut Indra, kondisi TNGGP secara umum cukup mendukung kehidupan elang pada habitat aslinya, dengan bentang alam yang sesuai (lembah tempat berburu, bukit, pohon yang tinggi tempat mengincar mangsa, kelimpahan pakan, serta aktivitas manusia yang masih tergolong tidak terlalu tinggi).

Terlebih dengan terus dilakukan upaya restorasi pada kawasan yang terdegradasi (eks hutan produksi yang beralih fungsi menjadi kawasan konservasi). "Kondisi ekosistem di TNGGP diharapkan dapat kian mendukung kehidupan berbagai satwa," imbuh Indra.

Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa Cimungkad dibangun pada 2020 melalui sumber dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dengan pertimbangan, pertama, karena sejarah, dimana terdapat beberapa peninggalan Keluarga Bartels sebagai penemu elang jawa (Nisaetus bartelsi) berupa makam dan tapak rumah tinggal yang saat ini difungsikan menjadi museum.

Ini sebagai sarana edukasi bagi masyarakat setempat tentang keberadaan, proses penyelamatan serta rehabilitasi satwa elang jawa, yang diupayakan terus terintegrasi dengan beberapa pihak pengelola seperti Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) TNGHS di Loji, Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) BBKSDA Jawa Barat, Taman Safari Indonesia (TSI).

Keberadaan Elang Jawa terus dilestarikan
Sejak 2018 TSI sebagai Lembaga Konservasi (LK), bekerja sama dengan PT. Smelting serta dukungan KLHK melakukan program pengembangbiakan elang jawa secara ex-situ. Saat ini TSI memiliki elang jawa 14 individu berasal dari 3 pasang indukan dan telah dikembangbiakan anakan jadi 8 individu. Dari anakan hasil breeding ini, sebagian sudah dipersiapkan sebagai kandidat program pelepasliaran sebagai upaya mendukung pelestarian berkelanjutan spesies tersebut.

PT. Smelting merupakan perusahaan beroperasi di Gresik, Jawa Timur (Jatim), memiliki komitmen melakukan pengabdian masyarakat dan lingkungan tak hanya di Jatim, tapi di seluruh Indonesia. Seperti di sekitar Pusat Pendidikan Konservasi Elang Jawa di Desa Cikahuripan dan Desa Muara Dua, untuk dapat menjadi Desa Wisata, dengan mengusung tema “Balik Ka Bumi” yang secara simbolis  dibuka oleh Bupati pada 14 Desember 2019 (ma).

Lebih baru Lebih lama