Kemana Tujuan Peperangan Ukraina?

Drone milik Russia yang berhasil dilumpuhkan
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Sejak 24 Pebruari 2022 sebagai awal tragedi Perang di Ukraina hingga awal Juni 2022, masih sulit untuk mendapatkan berita yang benar atau setidaknya berimbang tentang peperangan tersebut dari media massa mainstream, baik di tingkat nasional maupun internasional. Media massa seakan memainkan peran peperangan informasi, mayoritas menggambarkan kekejaman pasukan Russia, dan ketertindasan Ukraina.

Bagaikan selebriti atau Youtuber popular, Ukraina semakin banyak mendapat endorse dari para “Sponsor Perang” yang selama ini juga banyak meng-endorse peperangan atau pembunuhan diberbagai tempat seperti Syria, Iraq, Afghanistan, atau Lybia. Di tempat tersebut, para korban hanya dianggap sebagai angka. Berbeda dengan peristiwa di Ukraina, para pengungsi mendapat tempat terhormat bagi propaganda media mainstream agar rating meningkat dan menguntungkan perpolitikan pihak NATO dan Eropa untuk mengutuk Russia.

Endorse untuk Ukraina berdatangan, bahkan Pentagon sampai membentuk Ukraine Contact Group yang beranggotakan lebih dari 40 negara untuk memberi dukungan, bantuan dan tindakan apapun dalam membantu Ukraina. Bantuan persenjataan untuk Ukraina umumnya diambil dari stok pertahanan Negara-negara pemberi endorse.

Penggalangan Opini Oleh PBB
Sekjen PBB dalam pidatonya pada 19 Mei 2022, bahkan menggalang opini dunia dengan mengemukakan krisis pangan dunia yang disebabkan oleh perang di Ukraina yang intinya menyalahkan Russia. Dalam narasi yang disampaikan oleh reporter DW, digambarkan Ukraina salah satu sumber pangan bagi berbagai negara di Dunia.

Kesibukan para pengatur Dunia ini semakin ramai saat posisi pasukan Ukraina dikawasan Timur Ukraina melemah. Dapat dipahami, karena NATO dan pihak Barat, menginginkan Ukraina segera meraih kemenangan, membuka pangkalan di Ukraina dan lebih leluasa mengatur dunia.

Sekarang justru semakin ramai dengan akan bergabungnya Finlandia dan Swedia kedalam NATO, dimana hanya Turki yang tidak setuju. Apakah dengan supermasi NATO ditahap berikut akan terjadi kolonisasi dunia dengan berbagai skenario seperti War on Terror, Penumbangan Pemimpin Diktator, dan berbagai teori konspirasi lainnya?

Posisi Pertahanan Ukraina
Berita dari CBS pada 17 Mei 2022 mengatakan, sekitar 265 pejuang Ukraina yang bertahan di pabrik baja Azovstal Iron and steel work mengangkat tangan mereka dan berjalan menuju arah pasukan Russia, dimana sebagian dari pejuang Ukraina tersebut dalam keadaan terluka.

Pihak Militer Ukraina menyanggah penggunaan kata “Menyerah” dan mengatakan, itu merupakan upaya mundur dari pabrik baja, seperti dikutip dalam artikel CBS NEWS: “The Ukrainian military avoided using the term "surrender" to describe the effort to pull out of the steel plant, but Russia declared it just that.”

Ukraina membutuhkan bantuan persenjataan dengan segera untuk memukul mundur atau menghancurkan pasukan Russia. Untuk mengimbangi atau memukul mundur kekuatan Russia di satu wlayah pertempuran, tentunya membutuhkan jumlah persenjataan dan bekal amunisi serta dukungan logistik pasukan yang cukup. Tempat atau lokasi pertempuran juga tidak hanya di satu tempat.

Bantuan 10 atau 20 unit senjata howitzer lapangan apakah cukup untuk menghadapi kekuatan Russia yang massif pada satu lokasi pertempuran? Terkadang kita dibuat bingung dengan pemberitaan yang ada.

Mungkin juga dapat digambarkan dalam persiapan pengamanan dari serangan armada laut tengah. Apakah pertahanan di kawasan Odessa cukup dengan sederet misil Harpoon dan senjata howitzer untuk menghadapi kekuatan satu Armada Laut Hitam dan pasukan amphibinya?

Disebutkan, sangat penting untuk diketahui para sahabat kami di Barat, Ukraina memerlukan dukungan persenjataan untukmemukul mundur militer Russia hingga mereka menderita, no form of dialogue will be possible, dan seterusnya……

Dari beberapa pandangan yang dikemukakan dalam media massa, banyak pendapat dari pihak Ukraina yang tidak mengharapkan adanya dialog untuk menyelesaikan konflik. Mereka ingin bersama “Barat” untuk mengalahkan dan membuat Russia menderita.

Senjata Endorse terus berdatangan ke Ukraina
Posisi Pemberi Endorse
Negara pemberi bantuan untuk Ukraina tak semuanya dalam keadaan perekonomian yang baik. Walaupun masih memiliki kekuatan anggaran kuat seperti Amerika Serikat (AS), untuk mengisi kekurangan stok persenjataan yang ada, tidak mungkin dapat dilakukan dalam waktu singkat. Bahkan 11 Industri pertahanan terkemuka AS yang sudah di undang oleh Pentagon pada April lalu, tidak mampu meningkatkan waktu produksi mereka (ramp-up).

Sebagai sponsor, mereka juga memiliki strategi untuk menghadapi kemungkinan lainnya. Misalkan AS yang saat ini juga harus siaga untuk meghadapi China. China mengancam akan melakukan tindakan militer apabila deklarasi kemerdekaan Taiwan di lakukan dalam waktu dekat ini. China yakin, AS berada dibelakang skenario tersebut.

Sejak 24 Pebruari 2022 hingga akhir Juni 2022, peperangan di Ukraina masih terus berlangsung. Konsentrasi wilayah peperangan masih di sekitar kawasan Timur Ukraina, dan tidak dilakukan secara massif.

Sementara upaya perdamaian melalui perundingan seolah dinafikan, terutama oleh pihak-pihak yang sangat bernafsu untuk “mengalahkan” Russia. Walau pihak Ukraina menyatakan menderita kerugian/kehilangan 100 hingga 200 prajurit per-hari [“Ukraine pleads for weapons as 100-200 soldiers die a day” by David Keyton & Yuras Karmanau, The Associated Press. Jun 11, 04:08 AM].

Pemerintah Provinsi Luhansk menyebut, di daerah Sievierodonetsk kedua pihak yang bertempur melakukan peperangan dari rumah-kerumah dan juga di jalan raya. Peperangan seperti itu biasanya akan merugikan pihak Russia, terutama dalam pemberitaan dan pembentukkan opini publik dunia.

Misalkan di awal Juni 2022, pihak Ukraina menggunakan senjata roket permukaan-ke-permukaan untuk menghantam kedudukan pasukan Russia di wilayah Donbas. Apa yang terjadi apabila roket tersebut mengenai bangunan-bangunan sipil dan fasilitas umum?

Semua media mainstream akan memberitakan, pasukan Russia telah melakukan penyerbuan pada bangunan sipil dan fasilitas umum di Donbas. Walau bukti berupa gambar liputan kejadian pada 7 Juni 2022 di Donbas telah memperlihatkan pelaksanaan gempuran dilakukan oleh pasukan Ukraina – dapat dilihat dari photo yang diabadikan oleh Aris Messinis/AFP, dimuat melalui Getty Images.

Ada hal menarik dan tak masuk akal sehat, Pemerintah Inggris mengatakan, Russia harus bertanggung jawab untuk “sham trial” atas hukuman mati kepada dua warga Negara Inggris (Aiden Aslin dan Shaun Pinner) serta satu warga Maroko (Brahim Saadoun) yang bertempur melawan Russia di Ukraina. Pihak yang menangkap ketiga orang asing tersebut menyatakan, mereka bukanlah Tawanan Perang, tetapi adalah Serdadu Bayaran (mercenaries). Logikanya, orang berangkat berperang, tetapi begitu menerima risiko, kok pihak yang diperangi harus bertanggung jawab.

Melihat situasi saat ini, pihak-pihak penjunjung perdamaian seolah menafikan upaya damai. Konsentrasi lebih ditujukan kepada perimbangan kekuatan persenjataan dan jumlah pasukan diwilayah pertempuran.

Upaya dialog selalu gagal ditahap awal. Berita justru lebih banyak tentang bantuan atau pengirimnan persenjataan, yang pada akhirnya seolah-olah pasukan Ukraina itu sebagai salah satu Divisi Tempur NATO untuk menghadapi Russia di tahap awal. Bahkan ada berita, Ukraina telah memiliki kekuatan Legiun Asing (Foreign Legion) dengan kekuatan lebih dari 40.000 personel, terdiri dari para Diaspora Ukraina dan para simpatisan dari berbagai penjuru dunia.

Persiapan Di Garis Belakang Pertempuran
Segala persiapan di Garis Belakang Pertempuran terus dilakukan, antara lain untuk menyalurkan persenjataan kepada pasukan Ukraina. Tak kurang dari kesibukan di Pentagon yang mengevaluasi ratusan proposal dari pihak industri, sebagai upaya percepatan penyediaan persenjataan [Pentagon reviewing hundreds of industry proposals in effort to rapidly arm Ukraine. By Courtney Albon, Defense News, Saturday, May 7, 2022]. Isi beritanya antara lain: “WASHINGTON — The Pentagon has received more than 300 responses to its call for weapons and commercial systems to rapidly equip Ukraine’s military.

The Department of Defense issued a request for information April 22 seeking input from companies on a number of needed capabilities, including air defense, anti-armor, unmanned aerial systems and communications equipment. Pentagon acquisition chief Bill LaPlante, in his first public appearance since taking the role, said Friday the influx of proposals will help mitigate supply chain issues, speed up production lines and address strategic objectives in the region.”

Dari US$300 juta dana “Ukraine Security Assistance Intiative”, diantaranya US$ 17,8 juta sudah berupa kontrak dengan AeroVironment untuk pengadaan drone; US$61,4 juta untuk pengadaan peralatan komunikasi; US$22,6 juta untuk pengadaan Advanced Precision Kill Weapon System; US$19,7 juta untuk Drone Puma; US$7,2 juta untuk rekondisi kendaraan Humvee M1151; US$4,9 juta untuk bekal peralatan medis; dan US$1,2 juta untuk bekal Makanan – Meal Ready to Eat. Sedangkan sisa dari total alokasi sekitar US$118,2 juta masih belum diumumkan.

Pihak Kongres pada Maret 2022 telah menyetujui alokasi untuk Ukraina (Ukraine Supplemental Appropriations Act) sebesar US$13,6 milyar, dimana US$3,5 milyar diantaranya dialokasikan untuk penggantian (refresh) stock militer AS. Dana sebesar US$1,45 milyar telah disalurkan ke pihak US Army dan USMC untuk pengadaan bekal stockpile senjata Stinger (sudah dipesan kepada Raytheon untuk model terbaru yaitu G-model), Javelin, dan senjata lainnya. Supporter lainnya juga tidak kalah sibuk dengan AS. Upaya dukungan perenjataan terus dilakukan.

Melihat situasi di Ukraina saat ini, upaya perundingan damai semakin kurang beritanya, pengiriman persenjataan semakin gencar beritanya, tersmasuk berita-berita kekalahan pasukan Russia di berbagai wilayah pertempuran – menurut versi NATO, Uni Eropa, dan para pendukungnya. Semoga saja ada pihak yang lebih berupaya untuk menempuh jalan penyelesaian damai di Ukraina ini.


M.ALI Haroen (wartawan IndonesiaMandiri).
Lebih baru Lebih lama