Bisnis Cetak Buku Masih Bertahan Di Era Digital

Datangnya era digital menggusur usaha penerbitan dalam bentuk cetak
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Banyak media cetak seperti suratkabar dan majalah bertumbangan di era pandemi, dan yang masih bertahan tinggal buku. Mungkin buku akan menjadi media cetak yang paling akhir bertahan.

Tantangan seperti ini diutarakan CEO Bentang Pustaka, Salman Faridi, dalam Webinar di Jakarta (16/6), diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena serta dipandu Swary Utami Dewi dan Anick HT.

Salman menuturkan, di masa kejayaan media cetak, berita yang dibaca suratkabar hari ini adalah informasi kemarin. Kini, di era media digital, berita hari ini adalah informasi real time. “Maka wajar, jika konsumen bertanya: Mengapa saya harus berlangganan koran, yang informasinya adalah informasi kemarin? Padahal, berita hari ini di media digital adalah informasi terkini. Buku tidak begitu,” ujar Salman.

Sebagai perbandingan, Salman menguraikan kondisi dunia perbukuan di negara jiran Malaysia. Di Malaysia, ada 95 toko buku yang ditutup sejak 2018. Ini termasuk 32 outlet yang ditutup pada 2020. Jadi, pada masa pandemi situasinya kira-kira sama dengan di Indonesia.

Salman Faridi
“Di Thailand, sedikit banyak kondisinya juga mirip Indonesia,” ujar Salman. Dalam 10 tahun terakhir, dunia perbukuan merosot. Masyarakat Thailand semakin kurang membaca karena disrupsi teknologi dari perusahaan IT, yang menawarkan lebih banyak kegiatan alternatif.

Persaingan antar-penerbit buku saat ini masih terjadi, tetapi tidak sangat sengit seperti waktu sebelum maraknya media digital. “Kompetitor buku saat ini justru media seperti Netflix, Viu, Iqiyi, disney+, HBO, yang harus kita akui kontennya jauh lebih menarik,” ungkap Salman (lw).

Foto: Istimewa

Lebih baru Lebih lama