Arab Kini Tertinggal Secara Ilmu Pengetahuan dan Demokrasi

Ilmuwan dari negara muslim jumlahnya sedikit yang menonjol
Jakarta (Indonesia Mandiri) – Budaya Arab sekarang ini sangat tertinggal secara ilmu pengetahuan dan demokrasi. Padahal ilmu pengetahuan dan demokrasi itu adalah pilar negara modern. Ini dikupas Denny JA, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia, Satupena, dalam Webinar di Jakarta (2/6).

Webinar ini mengulas kiprah dan pemikiran Buya Prof. Dr. H. Ahmad Syafi'i Ma'arif, Guru Bangsa dan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah. Denny menunjukkan data: mayoritas negara Muslim memiliki sembilan ilmuwan, insinyur dan teknisi per 1.000 orang. Ini gambaran suram dibanding rata-rata dunia, yakni 41 ilmuwan per 1.000 orang, menurut artikel di “Physics Today” (2007).

Lalu, dari 1.800 universitas di negara Muslim, cuma 312 universitas yang pengajar atau akademisinya menulis di jurnal ilmiah. Dari 50 universitas teratas yang akademisinya menerbitkan artikel di jurnal, 26 universitas ada di Turki, sembilan di Iran, tiga di Malaysia, tiga di Mesir, dan dua di Pakistan.

Denny JA
Sedihnya lagi, di Uganda, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Lebanon, Kuwait, Yordania, dan Azerbaijan, masing-masing hanya menghasilkan satu karya ilmiah berkelas dunia. Denny menambahkan, dari 1,6 miliar Muslim di dunia, hanya tiga ilmuwan dari negara Muslim yang memenangkan hadiah Nobel dalam bidang sains.

Pertama, Abdus Salam meraih Nobel Fisika pada 1979. Abdus Salam adalah anggota komunitas Ahmadiyah di Pakistan. Kedua, Ahmed Zewail dari Mesir meraih Nobel Kimia pada 1999. Ketiga, Aziz Sancar dari Turki meraih Nobel Kimia pada 2015 (ma).

Foto: Istimewa

Lebih baru Lebih lama