Belajar Dari Kasus Syria


Jakarta (IndonesiaMandiri) – Kalau kita memperhatikan atau menerima informasi dari berbagai media mainstream “Barat” atau yang condong ke Barat, peristiwa-peristiwa sadis, pembunuhan terhadap warga sipil, penghancuran sarana dan fasilitas sipil, dan sebagainya, maka berita yang kita terima itu adalah perbuatan dari pihak militer Rusia.

Hal seperti itu bukan baru kali ini dialami oleh Rusia. Pemberitaan semacam itu juga dialami pada masa perang di Syria, terutama penghancuran kota Aleppo. Ternyata yang terjadi di Syria adalah, gerakan Al Qaeda dan ISIS melawan pemerintah yang sah di Syria serta penghancuran berbagai bangunan dan pembunuhan terhadap warga sipil, pemerkosaan, penjualan anak-anak perempuan kepada kaum hidung belang dilakukan oleh pemberontak yang nyata-nyata di dukung oleh Amerika Serikat melalui CIA. 

 

Sementara Rusia tidak memiliki kekuatan pasukan Darat yang memadai di Syria, kecuali kekuatan Udara yang disisipkan dalam kekuatan Udara Pemerintah Syria. Ini dibeberkan oleh Kolonel Purnawirawan USMC Richard Black (juga pernah aktif di US Army) dalam wawancara di kanal Youtube “Schiller Institute” berjudul “Col.Richard Black: U.S. Leading World to Nuclear War” yang di unduh akhir Maret 2022, durasi lebih dari satu jam (1:1-:58).

 

Apa yang terjadi di Ukraina dengan penghancuran bangunan dan fasilitas sipil, serta pembunuhan terhadap warga sipil – non-combatant – hampir serupa polanya dengan apa yang terjadi di Aleppo, Syria.

 

Apakah kekuatan militer Ukraina dengan Resimen Avoz-nya itu hanya sebagai proxy-soldier dari Amerika Serikat/AS dan NATO? Tentunya sejarah yang akan membuktikannya, sama halnya dengan apa yang di kemukakan oleh olonel Richard Black, setelah sekian lama terjadinya peristiwa Aleppo, Syria.

 

MEMPRIHATINKAN

 

Apa yang sedang terjadi saat ini tentunya sangat memprihatinkan bagi kemanusiaan, terlebih seperti apa yang terjadi di Syria justru dilakukan oleh pihak yang selalu berkampanye untuk Demokrasi dan Kemanusiaan, justru mereka yang mengoyak rasa kemanusiaan.

 

Saat terjadinya penghancuran kota Aleppo, menurut Kolonel Richard Black, Rusia belum turun sebagai combatan di Syria. Kini Media “membuat atau mengarang” berita sudutkan Rusia, agar seluruh dunia mengutuk sebagai pihak yang tak berperikemanusiaan.  Dengan kata lain, penggunaan media sebagai alat propaganda perang ternyata selalu menjadi andalan pihak “Barat”.

Agaknya kejahatan perang justru dibantu oleh media massa dengan menutupi pelaku yang sebenarnya dan memfitnah pihak yang tidak turut serta – dalam hal ini kasus Aleppo.  Namun, apakah juga penggunaan media juga berlaku atas kasus di Iraq, Afghanistan, Lybia, pemberitaan tentang Iran, kasus-kasus di Israel, dan sebagainya.

 

Lalu, bagaimana masyarakat yang mayoritas hanya menerima berita dari media massa yang sudah di atur untuk “mengarang” cerita sesuai dengan pesanan penguasa politik?

Bila jurnalisme sudah terbiasa digunakan sebagai alat kebohongan dan propaganda politik, apakah untuk mendapat berita kebenaran publik harus berupaya mencari alternatif lain, yang justru dapat membuat semakin bias.

 

Lalu, kemana nurani para insan pers yang mau melakukan pembiasan berita.  Apakah mereka hanya mencari popularitas, uang, dan rating.  Lalu, apakah perlindungan terhadap insan pers seperti yang diatur secara internasional dalam pasa-pasal perjanjian internasional masih berlaku. 

 

Bila dalam sebuah pertempuran, insan pers sudah disamakan sebagai combatant, maka hancurlah dunia pers dan jurnalistik.

 

M. ALI HAROEN


Foto: Istimewa


Lebih baru Lebih lama