Mandalika Juga Diperkaya Desa Wisata

Setelah ajanng MotoGP, Mandalika banyak disorot dunia
Lombok Tengah/NTB
 (IndonesiaMandiri) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) terus berupaya secara optimal mendorong pengembangan desa wisata yang ada di Mandalika, Nusa Tenggara Barat/NTB, sehingga  menjadi lokomotif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Nama Mandalika baru saja jadi sorotan dunia karena menjadi event sport bertaraf internasional yakni World Superbike dan MotoGP. Selain itu, Mandalika ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dalam Peraturan Pemerintah No. 52/2014. Jadi, pengembangan desa wisata perlu digarap dengan maksimal, baik dari segi amenitas, atraksi, hingga aksesibilitas.

Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf Vinsensius Jemadu dalam acara “Focus Group Discussion Pemetaan Desa Wisata Penyangga di DPSP Mandalika”, di Hotel Aston Inn, Mataram, NTB (20/4) menjelaskan, desa wisata menjadi fokus pengembangan destinasi wisata di era pandemi COVID-19. Sehingga ke depannya setelah pandemi, desa wisata diharapkan dapat menjadi tonggak perekonomian nasional.

“Secara fisik pengembangan desa wisata tentunya harus berkolaborasi dengan kementerian/lembaga lain. Kemudian dengan pengembangan produk wisata non-fisik seperti budaya dan kearifan lokal masyarakatnya, kita akan terus dampingi. Desa Wisata akan memperkuat nilai tambah ekonomi di masyarakat desa,” kata Vinsensius.

Desa wisata menjadi salah satu daya tarik yang dimiliki oleh NTB. Tak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya, desa wisata juga memiliki keunikan dari unsur ekrafnya, seperti karya tenun, seni tari, seni musik, seni ketangkasan dan bela diri, kuliner, hingga rumah-rumah dengan gaya arsitektur tradisional.

Kehadiran desa wisata bisa sejahterahkan masyarakat setempat
Saat MotoGP Maret 2022, sejumlah desa wisata seperti Desa Bilebante dan Desa Sade ikut merasakan dampak positif dari adanya kegiatan internasional tersebut. Kemenparekraf kolaborasi dengan para stakeholders daerah Provinsi NTB kini mengembangkan desa wisata lewat program SINAKODA. Yaitu (sinergitas berbasis inovasi, adaptasi dan kolaborasi antara pusat dan daerah) agar dapat mencapai target sebagai desa wisata yang mandiri dan berkualitas.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Yusron Hadi menyebut, dari 500 kandidat yang terpilih dalam Ajang Desa Wisata Indonesia, 20 desa diantaranya berlokasi di NTB. Hal tersebut mendorong pemerintah daerah untuk lebih giat lagi dalam mengembangkan desa wisata. Terlebih saat ini, hanya 3 persen dari desa wisata yang ada di NTB tergolong ke dalam kategori desa maju (ma).

Lebih baru Lebih lama