Adu Hebat Misil Javelin Amerika Dan Tank Rusia

Misil Javelin di Ukraina
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Dalam artikel bulletin CSIS Amerika April 12, 2022, ada tulisan yang berjudul; Mana lebih dahulu tuntas, apakah misil Javelin Amerika akan habis sebelum Tank Rusia?

 

Dari judulnya saja kita sudah dapat bertanya, sebenarnya yang berperang itu Ruia melawan Ukraina atau Russia berperang di wilayah Ukraina melawan NATO yang sementara ini diwakili oleh warga Negara Ukraina dibantu para sukarelawan dan kontraktor dengan tentara bayarannya dari berbagai Negara Eropa Barat, Australia dan Kanada.

 

Seperti diakui, Amerika Serikat (AS) telah meng-“endorse” Ukraina dengan ribuan misil anti-tank Javelin. Dibulan pertama pertempuran cukup dijadikan icon oleh media massa mainstream maupun social media yang diatur oleh pihak NATO, Uni-Eropa dan latah untuk menyebarkan berita versi NATO keseantero dunia.

 

Kenyataannya, dengan pengiriman endorse tersebut, stock inventaris AS semakin berkurang (dwindling). Diperkirakan jatah endrose dikirim ke Ukraine sebanyak satu-per-tiga dari stok inventaris yang ada.  Artinya, pihak AS disarankan agar jangan terlalu boros mensponsori peperangan agar jumlah bekal pokok (BP) minimal dapat terjaga. Karena untuk memproduksi misil baru, selain memakan biaya, juga memerlukan jangka waktu lumayan lama.

Iring-iringan Ranlapba Russia
Walaupun Pentagon telah mengumpulkan sebelas Industri Militer kelas wahidnya,  penjadwalan produksi perangkat militer canggih akan membutuhkan waktu setidaknya dua hingga tahun mendatang, dan penyerahan produksi setelah jadwal tersebut.

Sementara itu, menurut analis CSIS (berdasarkan sumber berita), Rusia memiliki sejumlah Kendaraan tempur (Tank). Tapi jumlah awak tank yang terlatih dan tingkat moral pasukannya menurun. Apakah senjata anti-tank yang di-endorse ke Ukraina dapat menimbulkan kehancuran tank-tank Russia dalam jumlah banyak, sehingga sisa kekuatan senjata anti-tank lebih banyak dari jumlah tank yang akan dihadapi.

 

Pengiriman misil anti-tank Javelin ini bukan hanya dari AS saja yang jumlahnya mencapai 7.000 unit, tetapi juga dari Negara anggota NATO lainnya - ibarat kesebelasan sepak bola.

Faktor lain yang juga akan mempengaruhi adalah keuangan.  Apabila perang berkepanjangan, apakah pemerintah AS akan menerbitkan Obligasi Perang seperti ketika masa Perang Dunia ke-2?  

 

Tidak semua masyarakat AS mendukung peperangan di Ukraina, walaupun kampanye bahwa Russia itu sebagai musuh bersama.  Demikian juga halnya dengan negara sekutu AS atau anggota NATO. Dilain sisi, Rusia walaupun di boikot secara masif, masih dapat menghimpun dana dari berbagai komoditas yang dapat dijual atau di ekspor ke beberapa Negara yang tidak mendukung boikot.


Berita dari kantor berita “mainstream” milik raja-raja media “Barat” setiap hari memberitakan keunggulan pasukan Ukraina dan pendukungnya dalam menghancurkan kekuatan pasukan Rusia secara masif, namun pada kenyataannya pihak Rusia terus mengalami kemajuan dalam melakukan operasi militernya.

 

Diberitakan,dengan dukungan misil anti-tank Javelin, pihak pasukan Ukraina mampu mengalahkan atau menghancurkan pasukan mekanis Rusia. “ It is important to note that Javelins are the most capable and best known of the anti-tank weapon systems but not the most numerous. That distinction goes to the NLAW, an anti-tank system with guidance but not as sophisticated as a Javelin's and lesser range. In addition, other nations have provided their own anti-tank weapons, such as the German Panzerfaust 3 and the Swedish Carl Gustav.” [© 2022 by the Center for Strategic and International Studies.

Kehebatan misil anti-tank Javelin boleh dikatakan sangat canggih dan modern. Namun bila perang berkepanjangan, dan produksi kendaraan tempur Rusia masih dapat menghadirkan tank-tank baru, apakah stok misil masih mencukupi?

 

Seperti diketahui, endorse miil Javelin untuk Ukraina oleh AS diambil dari stockpile mereka..  Menurut catatan, produksi keseluruhan misil Javelin ini sejak 1994 hingga kini diperkirakan sebanyak 37.739 unit.  Pihak AS sendiri sudah menggunakan beberapa unit misil untuk pengujian dan latihan.  Diperkirakan sisa yang ada pada stockpile sekitar 20.000 hingga 25.000 unit.  Dengan dikirimkannya endorse ke Ukraina sebanyak 7.000 unit, itu sama dengan satu-per-tiga dari jumlah inventaris stockpile mereka.

 

Sedangkan AS dalam doktrin perangnya tidak saja akan menghadapi Rusia, tetapi juga Cina dianggap sebagai berpotensi sebagai lawan di kawasan Asia Pasifik. Dengan istilah lain, AS harus menjaga jumlah inventaris stockpile mereka untuk menghadapi kemungkinan terjadinya konflik global, termasuk memperhitungkan berhadapan dengan Iran, dan juga Korea Utara.

 

Ini artinya, AS harus mendapatkan tambahan sekitar 10.000 hingga 15.000 unit misil anti tank sekelas Javelin atau yang lebih canggih lagi, baik unit misil maupun peluncurnya. Bila dalam satu tahun dapat diproduksi 6.480 unit misil, maka diperlukan waktu setidaknya lebih dari dua tahun atau lebih untuk memenuhi standar stock minimum sesuai dengan TO&E (Table of Organization and Equipment).  Ini pun belum termasuk sistem persenjataan dan kendaraan lainnya yang telah di endorse untuk Ukraina.

 

STOCKPILE ALUTSISTA LAINNYA

 

Kemungkinan tidak semua Negara Anggota NATO begitu bersemangat dalam menyalurkan endorse-nya ke Ukraina seperti AS. Para pemikir di setiap negara tentunya memperhitungkan kemampuan stock Alutsista yang mereka miliki. Hal ini mengingat endorse yang dikirimkan ke Ukraina sifatnya mendadak, sehingga endorse Alutsista yang dikirim umumnya diambil dari stock gudang yang meraka miliki, dimana untuk setiap jenis Alutsista yang ada dalam stock harus diperhitungkan jumlahnya berapa kali Bekal Pokok (BP).  Misalkan saja untuk munisi caliber kecil setidaknya harus ada dalam stock sebanyak 3,8 x BP, dan seterusnya.

Pelatihan penggunaan misil Javelin bagi anggota Pertahanan Wilayah Ukraina di pinggiran kota Kyiv pada 9 Maret 2022. (Efrem Lukatsky/AP)
AS mengirimkan beragam endors ke Ukraina, selain misil anti-tank Javelin, juga dikirim misil pertahanan serangan udara Stinger, senapan serbu, tracking radar, kendaraan taktis, dan lain sebagainya. Dengan dikirimnya sekitar 2.000 unit misil Stinger ke Ukraina, diperkirakan jumlah tersebut mendekati satu-per-empat dari total inventaris Angkatan Bersenjata AS (menurut dokumen Anggaran tahun 2000, jumlah Stinger dimiliki sebanyak 11.600 misil, Sementara, dari 2000 hingga 2021 sudah berapa unit digunakan untuk Latihan. Dan pembelian terakhir untuk Stinger dilakukan pada 2003 untuk jangka waktu penyeraha dua tahun – kemampuan produksi per tahun dengan standar shift adalah 275 unit, maksimum 720 unit).

 

Cukup beralasan bila dalam pertemuan dengan 11 Industri Militer, Pentagon menyarankan agar pihak industri dapat meningkatkan kemampuan kapasitas produksi mereka (ramp up).

 

STOCK VS TARGET

 

Tentunya pihak pendukung atau peng-endorse Ukraina harus memperhitungkan stok, kemampuan personil yang sebagian besar dilatih secara instant, dan jumlah target yang akan dihadapi dalam kisaran waktu satu hingga enam bulan.

 

Katakan saja jumlah misil anti-tank termasuk Javelin dan jenis lainnya berjumlah dalam kisaran 10.000 unit.  Miss-fire rate… sekian persen, direbut oleh pihak Rusia ,,, sekian unit, banyaknya jumlah target …. Sekian unit.  Maka dalam hal penggunakan misil anti-tank saja, dapat diperhitungkan kemampau bertempur.

 

Berdasarkan perhitungan Military Balance di 2020-2021, Rusia memiliki sekitar 2.800 tank dan 13.000an Kendaraan Lapis Baja lainnya seperti IFV, dalam keadaan aktif di kesatuan, dan stock cadangan berjulah sekitar 10.000 tank dan 8.500 kendaraan lapis baja lainnya dalam stockpile.

 

Apabila perhitungan media massa “Mainstram” mengatakan selama 50 hari peperangan Rusia telah kehilangan 1.300 kendaraan lapis baja dari berbagai jenis, maka masih banyak tersisa.  Sementara, katakan saja 60% dari jumlah kendaraan lapis baja yang hancur dikarenakan hantaman misil anti-tank, maka jumlah misil yang sudah di tembakkan berkisar sekitar 780 unit. Jumlah tersebut belum termasuk yang disita pihak Rusia dan jumlah yang miss-fire.

 

Bila pihak Barat memperhitungkan Rusia akan kekurangan personil terlatih dan menurunnya moral pasukan, hal tersebut belum tentu benar. Jatuhnya moral diperhitungkan oleh pihak Intelijen berdasarkan sumber “open-source” yang belum tentu benar. Karena berita mass-media mainstream secara garis besar sudah didoktrin oleh kalangan Intelijen untuk menjatuhkan mental pihak lawan (multi-domain operation).  Contohnya saja; berita dalam beberapa minggu peperangan Rusia telah kehilangan 40.000 personil pasukannya baik yang gugur maupun terluka berat dan tidak dapat “return-to-unit” (separuh dari perkiraan Barat tentang jumlah pasukan tempur).

 

Apabila terjadi mis-kalkulasi dari perkiraan intelijen, maka peperangan akan semakin panjang.  Amerika mungkin harus mempelajari lagi sejarah Perang Vietnam, ataupun pengalaman mereka di Afghanistan.  Sebab, bila berkepanjangan, Ukraina akan menghadapi berkurangnya persenjataan.  Kecuali NATO dan Amerika akan turun langsung head-to-head dengan Russia, dan terjadinya Perang Dunia III.

 

FAKTOR UKRAINA

 

Hingga saat ini Ukraina masih terus mengharapkan bantuan peralatan militer dari berbagai jenis. Sementara kesiapan personil harus dipertimbangkan. Tidak semua personil militer Ukraina sudah terlatih atau terbiasa dengan persenjataan yang di endorse. Tidak semua personel Angkatan Bersenjata Ukraina sudah terlatih atau terbiasa dengan persenjataan yang mereka terima. Sementara untuk melatih personil hingga dapat mengoperasikan secara baik, diperlukan cukup waktu.

 

Sebagai contoh saja. Untuk melatih penggunaan senjata anti-tank dalam USMC, memerlukan waktu yang cukup lumayan.  Bintara USMC (noncommissioned officer/NCO) terlatih untuk mengikuti pendidikan penggunaan senjata anti tank harus mengikuti pendidikan kecabangan khusus (Military Occupational Specialties atau MOS) 0352 Antitank Missile Gunner setidaknya mencapai 14 minggu.

 

MOS 0352 meliputi pendidikan penggunaan/pengoperasian senjata antitank seperti M220E4 TOW2, M98A1 Javelin, Anti-Armor Operation, dan Tactical Vehicle Operation. Itupun harus lulus persyaratan seperti memperoleh nilai 100 atau lebih untuk general technical atau GT dalam Armed Service Vocational Aptitude Battery (ASVAB), untuk menentukan kualitas posisinya.

 

Belum lagi pelatihan untuk peralatan militer lainnya, ilustrasi berikut merupakan MOS untuk peralatan militer seperti:  Untuk melatih pengoperasian tank M-1 Abrams diperlukan cukup waktu, diantaranya;

19K Abrams Crewman, jangka waktu training adalah 22 minggu,

91A Abrams Tank System Maintainer, jangka waktu training adalah 24 minggu,

91G Fire Control System Repairer, jangka waktu training 34 minggu,

91H Track Vehicle Repairer, jangka waktu training 13 minggu.

 

Untuk mengikuti training, setidaknya peserta training telah memiliki pengalaman dimasing-masing bidangnya selaku pengguna atau personel kesatuan dengan pengalaman selama satu tahun.Dapat dibayangkan apabila pengoperasiannya dalam pertempuran di tangani oleh personil yang dilatih secara singkat/instant dan dalam situas tekanan pertempuran.

 

Agaknya faktor teknis seperti diatas tidak dipahami oleh para Kepala Negara atau penasihat Kepala-kepala Negara sponsor peperangan Ukraina.

 

M.ALI Haroen (wartawan Indonesia Mandiri)

Lebih baru Lebih lama