Terobosan Pengembangan Teknologi Di Angkatan Darat Amerika Serikat

Uji penembakan memakai Pesawat Helikopter yang leluasa terbang vertical
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Dalam menghadapi perkembangan teknologi dan menganalisa beberapa operasi pertempuran yang dialami beberapa dekade terakhir ini. Pihak Angkatan Darat Amerika Serikat (US Army) berupaya untuk meningkatkan kemampuan tempurnya dengan mengadopsi berbagai teknologi yang berkembang dengan cepat.

 

Program tersebut disebut Project Convergence (PC), digagas sejak 2020 lalu (PC’20) dan kini sudah memasuki tahap ke-3 atau PC’22.  Program tersebut merupakan upaya memusatkan berbagai unsur teknologi kemiliteran kedalam satu titik koordinasi gabungan. Merupakan versi US Army dari Joint All-Domain Command and Control Concept sebagai transisi ke doktrin militer yang baru.

 

Bukan US Army saja yang memiliki program seperti ini. US Air Force (Angkatan Udara Amerika Serikat) juga memiliki program yang disebut sebagai the Advanced Battle Management System, dan US Navy memiliki program yang disebut Project Overmatch – yang sifatnya masih dirahasiakan.

 

PC dapat dikatakan sebagai eksperimen militer gabungan dengan mengutamakan faktor kecepatan, jarak, dan dominasi pengambilan keputusan untuk mencapai keunggulan dalam kecerdasan serta mengingatkan konsep Peperangan Gabungan dengan menyatukan semua domain Komando-Kendali.

 

Strategi modernisasi ini dengan menggarisbawahi visi untuk Total Army menjadi kekuatan Multi-Domain pada 2035 mendatang.  Untuk itu, diperlukan modernisasi dalam bertempur, apa yang diperangi, dan jati diri Army.

 

Dengan menempatkan emphasis baru kepada setiap prajurit saat akan dikirim bertempur, sistem persenjataan yang akan digunakan, proses pada para komandan dalam pengambilan keputusan, bagaimana mentransformasikan data menjadi informasi, dan bagaimana postur kekuatan untuk terciptanya keunggulan bagi kekuatan sendiri maupun sekutu.

 

Upaya ini berkontribusi pada sasaran nasional mencapai Combined Joint All Domain Command and Control (CJADC2): Kemampuan menjalankan pertempuran untuk merasakan, dapat diterima akal, dan beraksi dalam semua tingkatan dan tahapan pertempuran, di semua domain, dan dengan sekutu/rekan, untuk menyampaikan keuntungan informasi dalam kecepatan yang relevan.

 

Kegiatan Uji

 

Salah satu upaya untuk mengevaluasi hasil kerja program, setiap tahun program berjalan dilakukan pelaksanaan uji secara nyata. Di 2021, tak kurang dari 110 macam teknologi di boyong ke Arizona untuk eksperimen. Dilakukan 27 pengujian kombinasi sensor dan pelaksanaan penembakan yang berbeda, memakai 15 jenis alat sensor dan 19 jenis pelaksanan penembakan (Pada 2020 hanya dilakukan pada enam kombinasi sensor dan alat penembakan).

 

Memang, PC tidak selamanya menjadi cerita keberhasilan. Tak semuanya bekerja sesuai dengan yang dikehendaki.  Tetapi kegagalan-kegagalan yang timbul justru sangat penting untuk mengetahui kelemahan dari berbagai sistem, untuk selanjutnya diperbaiki dan menjadi keberhasilan.

Di Medan Uji Yuma, dimiliki 300 data kolektor, mengumpulkan informasi tentang segala macam, termasuk yang tidak diperlukan sesuai rencana.  Segala kesalahan ataupun kegagalan yang terjadi dalam kegiatan pengujian menjadi masukan sangat berharga.  Jadi, pelaksanaan pengujian selain melibatkan para ilmuwan, teknisi dan para ahli – untuk mengetahui cara/sistem kerja alat-perangkat - juga menyertakan prajurit aktif agar dapat dilakukan simulasi yang nyata.

 

 Di sisi badan helikopter ditempel sistem senjata
Pada tahap uji pertama, dilibatkan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 yang baru saja kembali dari Afghanistan, serta anggota gugus termpur lainnya. Pelibatan para prajurit tersebut guna memastikan bahwa semua perangkat ataupun sistem benar-benar sesuai dengan karakteristik kebutuhan pasukan dilapangan (soldier-centric design). Bukan sekedar menguji perangkat dan platform baru.  Sehingga bisa diperoleh berbagi solusi untuk membuat rancangan eksperimental berikutnya yang lebih efektif.

 

Menjelang akhir 2021 lalu juga dilakukan berbagai uji dari hasil kerja PC’21. Dari mulai pengumpulan data informasi, perangkat sensor, sistem komando-kendali, hingga pengambilan keputusan oleh para komandan, termasuk melakukan kegiatan operasi yang sesungguhnya.

 

Salah satu kegiatan uji yang dilakukan dalam program PC’21 yang banyak diliput media adalah penembakan persenjataan yang diusung pesawat Helikopter UH-60, meski sesungguhnya kegiatan uji yang dilakukan lebih dari itu.

 

Demonstrasi oleh pesawat helikopter tempur Sikorsky UH-60 Black Hawk dilakukan di Medan Uji Yuma, Arizona, serta di Medan Uji Tembak Misil di White Sand, New Mexico, pada Oktober 2021. Helikopter tersebut dipasangi prototip Modular Effects Launcer untuk meluncurkan misil udara-ke-darat kelas ringan Griffin, dipasang pada pylon dibawah sirip badan sebelah kanan, dan senjata Aerial Cannon berupa Gatling tiga-laras XM915 kaliber 20mm.

 

Pelaksanaan penembakan dilakukan setelah didahului proses pengolahan data informasi pusat komando-kendali tempur, penganalisaan, pengenalan target sasaran, dan pengambilan keputusan untuk perintah penembakan setelah berkoordinasi dengan awak di pesawat mengenai target sasaran.

 

Program PC’21 berupa pengintegrasian gabungan Jaringan Pengendali Penembakan yang di fokuskan pada kelancaran penyampaian data informasi dan kemampuan hubungan antar matra.

Dalam demonstrasi ini terlihat adanya kemajuan dalam program proyek tersebut. Termasuk pengoperasian kemampuan baru dalam simulasi menghadapi situasi yang terdegradasi, peran jaringan sebagai tulang punggung, dan kemajuan dalam lingkup sensor-ke-penembakan.

“Joint integrated fire control network” butuh pengikatan dalam sistem pertahanan udara dan pertahanan misil, ketepatan penembakan jarak jauh, dan jaringan taktis.  Asimilasi teknologi agar dapat melakukan baik penembakan ofensif maupun defensif, penginderaan aktif maupun pasif, serta serangan dari pihak ketiga atas hasil penginderaan dari pihak lain.

 

Ini merupakan teknologi yang datang mengalir dari catatan program yang sudah ada, mengintegrasikannya bersama kedalam semua kedinasan lalu kemampuan untuk menyalurkan data dengan lancar diantara mereka.

 

Untuk mendukung program PC’21 ini perlu adanya peningkatan partisipasi dari semua kedinasan, dari pada sekedar pertanyaan-pertanyaan yang brsifat teknis seperti, teknologi apa yang akan digunakan untuk mengalahkan kemampuan anti-akses/penolakan wilayah musuh, atau berapa band-wide yang dibutuhkan dalam operasi gabungan semua domain, dan sebagainya. Tanpa akses ke dan kemampuan berbagi, mengurai, mengerti dan mengkode-ulang data, maka dapat terjadi pelemahan.

 

Dalam sebuah jaringan, harus selalu meningkatkan kemampuan dalam berbagai aspek. Misalkan Komandan Divisi di kawasan pertempuran yang melebihi area 150 kilometer. Harus dapat melakukan operasi dengan formasi menyebar untuk meningkatkan daya pertahanan. Dengan demikian kemampuan jaringan komunikasi juga harus dikembangkan kemampuannya setidaknya beberapa kali lipat dari yang ada saat ini. Hal tersebut akan sangat membantu dalam jalannya sebuah operasi gabungan.

 

Data-data informasi sebagai bagian penting dalam operasi militer harus terjaga dengan baik dari berbagai ancaman gangguan.  Pemanfaatan teknologi yang tepat guna dilakukan dengan melakukan berbagai pengkajian atas berbagai jenis sarana dan prasarana komunikasi data dan informasi.

 

Dalam simulasi atas Modular Effect Launcher (MEL) yang baru saja dilakukan oleh pihak US Army, berupa peluncuran senjata baru yang dapat menembak misil, roket, ataupun drone berukuran kecil.  Senjata baru tersebut nantinya akan mempersenjatai pesawat helikopter yang sedang dikembangkan dalam program FARA (Future Armed Reconnaissance Aircraft), berupa program untuk mendapatkan jenis pesawat helikopter (pesawat yang tinggal landas secara vertikal). 

 

MEL merupakan sistem terbuka untuk peluncur yang dirancang untuk menggunakan misil dan munisi multi-misi, termasuk meluncurkan multi-purpose mini-drone yang disebut sebagai Air-Launched Effects (ALE).  MEL juga harus mampu meluncurkan munisi presisi berpemandu kelas ringan Griffin yang dikembangkan oleh industri Raytheon.

 

Sementara pesawat helikopter dalam FARA sedangkan dikembangkan. Untuk program pengembangan MEL selanjutnya akan dilakukan dengan memakai pesawat helikopter serang AH-64E Apache bersama (teamed) dengan UAV Shadow. Tahap awal pengembangan dengan helikopter OH-58 Kiowa, namun helikopter tersebut sekarang sudah di pensiunkan.

 

Diharapkan FARA dapat melakukan mitigasi pihak lawan dalam jarak jauh dengan memperluas jangkauan, sehingga dapat memberikan efek mematikan diluar jangkauan perangkat sensor atau senjata pihak lawan.  Mampu beroperasi di wilayah yang sulit seperti wilayah urban, pegunungan, padang pasir, hutan maupun udara perairan.

 

SEKILAS TENTANG AGM-176 GRIFFIN

Merupakan misil kelas ringan hasil pengembangan dan produksi Raytheon.  Memiliki jangkauan tembak bila diluncurkan dari udara sebagai bom berpemandu (guided bomb) sejauh 20 kilometer lebih, atau diluncurkan dari darat sejauh 8 kilometer. Menggunakan pendorong bertenaga roket.

 

PC’22

Dalam PC pertama atau PC’20, lebih banyak dilaksanakan oleh pihak Army sendiri, lalu ada tahun 2021 (PC’21) dibuka untuk partisipasi dari matra lainnya.

Dari 7 skenario operasi dilakukan pengujian pada bidang teknologi, tiga penekanan untuk operasi gabungan, tiga scenario kemampuan: Menciptakan gambaran operasi umum dan kesiagaan, pelaksanaan operasi gabungan kekuatan udara dan pertahanan misil, pelaksanaan penembakan bersama.

PC’22 diperkirakan akan meliputi koloborasi teknologi sensor, kinetic, Komando-Kendali (untuk manuver, Penembakan, dan Intelijen), Proteksi atas peperangan elektronika maupun phisik, sistem Komunikasi (SATCOM, Aerial Terrestrial), dan beberapa lainya (M.Ali Haroen).

Foto: Istimewa

Lebih baru Lebih lama