Kita Harus Bicara Prinsip Konservasi Sesuai Pemahamannya

Juswono (paling kiri) ditengah laut bersama masyarakat Mutus
Sorong/Papua Barat
 (IndonesiaMandiri) – Bagi Juswono Budisetiawan, narasumber dari Yayasan Pusat Ilmu Lingkungan Indonesia/PILI, berdiskusi dengan masyarakat Mutus, Distrik Waigeo Barat Daratan, Kabupaten Raja Ampat, sangat mengasyikkan. Pasalnya, mulai dari tokoh adat, kepala kampung, pemuka agama dan masyarakatnya, semua kompak mau mendengar penjelasan dari Juswono terkait merawat ekosistem laut.

Bagi masyarakat Mutus, laut adalah halaman rumahnya. Wajar, jika mereka begitu menggantungkan hampir semua kehidupannya dari lingkungan laut. Itu sebabnya, Juswono, alumni Biologi (S1) dan Ilmu Lingkungan (S2) dari Universitas Gajah Mada, berusaha meramu bahasa penjelasannya kepada masyarakat Mutus dengan metode sangat sederhana, agar mudah dipahami.

Yayasan PILI memang membawa agenda besar dari Pemerintah (Bappenas) dengan program Coremap-CTI (coral rehabilitation and management program-coral triangle initiative), guna memberdayakan masyarakat pesisir dari sisi hukum adatnya. Salah satunya merawat ekosistem laut. Dan, peran Juswono, adalah memberi penerangan kepada masyarakat Mutus untuk giat merawat ekosistem lautnya, agar menjadi mandiri dan tak melulu tergantung dengan pemerintah.

Berikut petikan wawancara IndonesiaMandiri dengan Juswono, yang kelahiran Banyuwangi, Januari 1970:

IndonesiaMandiri (IM). Sebenarnya apa yang anda jelaskan kepada masyarakat Mutus?

Juswono Budisetiawan (JB). Saya menilai masyarakat Mutus ini berada jauh dari pusat aktifitas, baik dari Waisai (ibukota kabupaten Raja Ampat) maupun Sorong (Papua Barat), baik dari sisi memperoleh informasi maupun aktifitas lainnya. Disini saya menjelaskan tentang pemanfaatan Kebun Karang dan Rumah Garam.  

IM. Bagaimana Animo Masyarakatnya?

JB. Nah, meski jauh dari pusat keramaian, tapi masyarakatnya tidak menentang adanya konsep yang kita tawarkan. Padahal soal Kebun Karang, menurut saya, ini bukan hal baru bagi masyarakat setempat maupun umum. Tapi justru mereka mau mempelajari. Ini menjadi bekal bagi mereka di Mutus, untuk sesuatu yang ada manfaatnya.

Saat kita cerita ekosistem laut tentang spons dan karang, kepala adat Pak Dimara bilang itu berbeda. Tapi mereka tetap mau mendengar dan ingin segera membuktikan tentang yang saya jelaskan dengan kejadian sebenarnya di dalam laut.

IM. Lalu?

JB. Karena interaksi kita baik, komunikasinya baik, maka diskusinya jadi berlangsung hidup. Mereka justru tidak sabar untuk melihat langsung kondisi di dalam laut. Akhirnya kita sama-sama ke laut, membawa alat selam Scuba dan masker. Saat kita transfer ilmunya untuk pembuatan Kebun Karang I, mereka langsung paham dan akan mengikutinya. Di Kebun Karang II, tanpa kita ikut, ternyata benar meraka bisa membuatnya. Bahkan mereka menyelam tanpa alat bantu. Kita tidak ada apa-apanya dibanding masyarakat Mutus kalau soal menyelam…hehehe.  

IM. Ada target yang mau dicapai?

JB. Kita tidak memberikan target harus jadi berapa. Yang penting mereka paham, dan selanjutnya bisa mandiri membuat sendiri. Intinya, kita bikin konsep yang sangat minimalis membutuhkan alat dan bisa dikerjakan bersama-sama oleh masyarakat setempat. Kita hanya memicu, kalau kebun karang itu ada, ikan akan datang. Karena kalau kita membuat target harus jadi berapa. Ini malah menjadi beban. Menurut saya sasaran kita berhasil. Karena secara ekologis berfungsi dengan memanfaatkan yang ada disitu. Tantangan kita disitu. Kalau kita bikin Biorop atau terumbu dengan bahan yang mahal seperti keramik, bisa saja. Tapi untuk masyarakat Mutus yang kehidupannya biasa saja, kan tidak mungkin. Apalagi kalau mahal. Kalau di daerah lain seperti di Kep Seribu atau Bali itu bisa, kita harus bikin sesuatu yang membumi.

IM. Sangat sederhana ya?

Kebun Karang yang berhasil dibuat
JB. Betul. Kita merangsang mereka untuk membuat kebun karang. Kalau ini sudah ada, ikan akan datang. Ini prinsip ekosistem. Kalau itu kebun karang berlimpah, mereka akan berlebihan. Di dalam alam itu, populasi yang berlebihan, pasti ada pengurangannya. Misalnya ikan kecil dimakan dengan ikan besar. Bagi ekosistem ini baik-baik saja. Tapi jangan berpikir konsep konservasi secara umum, kalau ini tidak boleh diambil karena akan punah. Bukan begitu.

Nah, kalau kita berpikir konservasi di tingkat masyarakat lokal, tidak boleh berfikir secara global. Tidak bisa. Kita harus berbicara kobservasi sesuai dengan pemahaman masyarakat setempat. Konservasi itu kan konsep yang belakangan muncul dari ekosistem. Jadi kita harus menyesuaikan dengan ekosistem di daerah itu. Seperti di Mutus, Raja Ampat. Sistem itu alamiah saja. Orang makan Kima (Kerang), dan tidak bisa kita melarangnya karena alasan konservasi. Tidak boleh begitu. Ini sangat dangkal pemikirannya. Tapi kalau Kima dijual secara berlebihan keluar daerah, ini baru melanggar konservasi. Nah, Kima itu bagian dari makanan sehari-hari di masyarakat pesisir seperti di Mutus.

IM. Harapannya?

JB. Saya membayangkan suatu keadaan bagi masyarakat Mutus, akan rajin untuk membuat kebun karang. Dan ini bisa menghidupkan ekosistem laut. Ini akan menjadi kultur dengan adanya kebun karang. Karena tidak akan tergantung dengan bantuan dari manapun, seperti BKKPN, Pemdam dan lain-lain. Semoga kebun karang bisa menjadi lebih banyak, dan menjadi contoh bagi masyarakat pulau lain di sekitarnya, seperti di Bianci, Waisilip, Meos Arar, Manyaifun, dan lain-lain.

IM. Soal Rumah Garam?

Juswono dengan ibu-ibu membuat Rumah Garam
JB.  konsep ini memang belum banyak digarap. Baru ada di Pantai Selatan Jawa, Bali, NTB. Biasanya sekitar 20an hari bisa panen. Garamnya bersih, bisa untuk konsumsi. Produk ini bisa diambil dengan mudah. Bisa untuk menghaluskan kulit juga, dari sisi kosmetik. Saya mengutip warga Gunung Kidul yang berhasil menjalankan Rumah Garam, karena isterinya memakai garam dikulitnya menjadi halus dan kenyal (ma).

Foto: ali/abri/juswono

Lebih baru Lebih lama