Kiprah Cendekiawan Dibahas Webinar SATUPENA


Jakarta (IndonesiaMandiri) – Pasca reformasi 1998 kian marak cendekiawan terlibat dalam politik. Apakah ini pertanda menariknya “bermain” dengan pihak penguasa? Karena bisa menjadi bagian dari kekuasaan, masuk parpol, menjadi konsultan, anggota parlemen, penghasilannya lumayan. Atau, sekaligus berada di luar menjadi pengritik pemerintah.

Inilah yang akan dibahas Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA. Yakni kiprah para cendekiawan dalam politik. Dalam sejarah,  kaum cendekiawan Indonesia telah menunjukkan tanggung jawab moralnya kepada bangsa dengan berpedoman pada kebenaran.

Obrolan Hati Pena #27 itu akan diadakan di Jakarta pada Kamis (24/2), pukul 19.00-21.00 WIB. Sebagai narasumber adalah Prof. Azyumardi Azra, cendekiawan yang  konsisten merawat dunia keilmuan dan pemikiran. Diskusi ini sekaligus menyambut terbitnya buku “Karsa untuk Bangsa, 66 Tahun Azyumardi Azra, CBE.”

Menurut panitia penyelenggara, pembicaraan tentang cendekiawan dan politik selalu mengingatkan orang pada cendekiawan Perancis, Julien Benda, yang menulis buku tentang “La trabision des Clers” (Pengkhianatan Kaum Cendekiawan).

Menurut Benda,  kaum terpelajar yang disewa oleh penguasa di dunia adalah cendekiawan yang telah berkhianat. Ia mengecam cendekiawan yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada perjuangan politik yang meluap-luap.  Alih-alih memberi petunjuk kepada perkembangan hidup masyarakat, mereka menyerah kepada golongan berkuasa, yang hanya memperjuangkan kepentingan masing-masing.

Acara diskusi ini bisa diikuti di link zoom: https://s.id/hatipena27. Juga bisa melalui livestreaming: Youtube Channel, Hati Pena TV. Selain itu, lewat Facebook Channel: Perkumpulan Penulis Indonesia – Satupena. Disediakan sertifikat bagi yang membutuhkan (lw).


Lebih baru Lebih lama