Kesenjangan Profesi Penulis Pusat-Daerah Masih Besar

Tantangan profesi penulis di Indonesia sangat kompleks

Jakarta (IndonesiaMandiri) – DalamWebinar diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia, SATUPENA di Jakarta (17/2), tentang “Masa Depan Penulis dan Kepenulisan di Indonesia”, salah satu masalah yang ada adalah soal kesenjagangan kesempatan untuk berkarya lebih luas bagi penulis di daerah.

Diskusi yang dipandu Anick HT dan Swary Utami Dewi menyoroti antara lain, kesenjangan antara kondisi di pusat dan daerah. Misalnya, lemahnya akses ke penerbitan dan percetakan, kendala biaya, serta akses ke distribusi dan sirkulasi. Termasuk kesenjangan sarana Internet dan kompetensi digital.

Juga, yang penting, ada tantangan minat baca masih rendah. Upaya mendorong minat baca ini sulit, karena keterbatasan jumlah perpustakaan dan minimnya jumlah koleksi bukunya. Jumlah toko buku di daerah tertentu sangat minim. Perlu inovasi perpustakaan yang “inklusif,” yang bukan sekadar buat tempat membaca.

Singkat kata, sebagai penulis belum dirasakan sebagai profesi yang menjanjikan untuk kehidupan. Di Bali, misalnya, profesi penulis masih kalah dengan pelukis dan pematung. Satu lukisan bisa laku ratusan juta. Tetapi untuk menulis buku, mendapat royalti saja sudah bagus.

Minimnya minat baca di Tanah Air ikut mempengaruhi
Beberapa narasumber dalam diskusi, ada enam penulis senior dari berbagai pulau di Indonesia, yakni: Anwar Putra Bayu, Dhenok Kristianti, Muhammad Thobroni, I Wayan Suyadnya, Hamri Manoppo, dan FX Purnomo. Mereka menyampaikan berbagai problem dan tantangan yang dihadapi penulis di wilayah masing-masing.

Hadirnya SATUPENA, setapak demi setapak, diharapkan TSA menjadi naungan bagi para penulis di Indonesia. SATUPENA diharapkan bisa membangun ekosistem kepenulisan, yang memperkuat posisi para penulis (ma).

Foto: istimewa

Lebih baru Lebih lama