Yayasan PILI Dampingi Warga SAP Raja Ampat Rawat Potensi Laut

Masyarakat Kampung Mutus dengan semangat mendengar pengarahan staf PILI
Pulau Mutus/Raja Ampat
 (IndonesiaMandiri) –  ‘Ketong Pu Laut Musti Dijaga’, begitu pesan aksi nyata pendampingan Yayasan PILI (Pusat Informasi Lingkungan Indonesia), kepada masyarakat adat di SAP (Suaka Alam Perairan) Raja Ampat, Papua Barat. Selama sepekan (20-27 Januari 2022) Staf PILI melakukan safari pendampingan langsung ke sejumlah warga yang berada di pulau-pulau SAP Raja Ampat, seperti Bianci, Waisilip, Manyaifun, Meos Manggara, Meos Arar dan Mutus.

PILI juga mengikutsertakan lintas lembaga dari Satuan Kerja Perangkat Daerah, baik dari Dinas Perikanan, Dinas Kesehatan, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional baik tingkat Kabupaten (Raja Ampat) maupun Provinsi (Papua Barat dan Kupang), serta tokoh adat. Kampung dan agama dari semua pulau yang dikunjunginya, guna sosialisasi merawat lingkungan, khususnya potensi laut di SAP Raja Ampat.

Pemetaan potensi wilayah kampung juga dilakukan PILI di SAP Raja Ampat
Yang dilakukan PILI adalah rangkaian besar dari program Pemerintah bernama Coremap CTI (coral reed rehabilitation and management program/coral triangle initiative) dari Bappennas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) didukung World bank. Pili mendapat bagian paket 6, dengan memberikan kontribusi pada sub komponen penataan sumber daya pesisir pada masyarakat. Utamanya, memberi penguatan terhadap peran Kesatuan Masyarakat Hukum Adat/KMHA di sejumlah pulau diatas dalam lingkup SAP Raja Ampat.

“Kita mendampingi masyarakat adat Papua yang sangat tertutup untuk belajar berkelompok, melakukan pelatihan berkelompok. Kita memandu saja, dan akhirnya mulai menerima gagasan kita untuk memanfaatkan laut dengan baik,” ucap Evi Indraswati, Manajer Program PILI kepada IndonesiaMandiri di Sorong, Papua Barat (27/1). Dari hasil pertemuan dengan tiga pilar utama di lingkungan masyarakat pulau SAP Raja Ampat (tokoh adat, kampung dan agama), lalu diputuskan Kampung Mutus sebagai percontohan (pilot site) untuk dikembangkan.

“Saya sangat berterima kasih sekali kepada teman-teman dari PILI yang hadir disini sudah setahun lebih. Banyak hal yang kita tidak tahu dibimbing menjadi tahu, terutama untuk pemanfaatan hasil laut dan hukum adat,” jelas Syoris Sauyai, Plt Kepala Kampung Mutus. Masyarakat Mutus dan beberapa pulau lain di SAP Raja Ampat diajarkan membentuk kelompok, seperti KUB (kelompok perikanan tangkap), Pokdakkan (kelompok budidaya), Poklahsar (kelompok pengolahan hasil perikanan) dan Pokmaswas (kelompok pengawasan). Inti dari semua kelompok tersebut untuk pemberdayaan pengetahuan masyarakat lokal tentang pemanfaatan ekosistem laut.

Di Kabupaten Raja Ampat, kekayaan ragam suku sebagai bentuk keragaman adat cukup kental, hanya saja pada praktek perlindungan dan pengakuan masih belum optimal. Nah, PILI berharap Pemerintah Derah kedepan bisa melanjutkan proses pengakuan dan perlindungan KMHA di SAP Raja Ampat. Karena program yang dilakukan PILI di SAP Raja Ampat pada Maret 2022 akan berakhir. PILI telah melakukan pemetaan guna mendukung usulan wilayah KMHA yang merupakan tugas POKJA KMHA SAP Raja Ampat yang telah ada SK Bupatinya bersamaan dengan SK Panitia KMHA disahkan.

Potensi kekayaan alam/laut di SAP Raja Ampat perlu dirawat bersama
Kini, di masa akhir tugasnya, PILI terus mengawal dan mendampingi delapan kelompok KMHA di Kampung Mutus, diantaranya budidaya kerapu, pelatihan kebun karang, pembuatan garam dan sosialisasi serta proses sertifikasi produk olahan perikanan dari berbagai pihak. Rangkaian kegiatan ini merupakan implementasi rencana pengelolaan perikanan berkelanjutan yang sudah dibuat dokumennya secara partisipatif oleh semua kelompok. Upaya menjaga, merawat ekosistem laut terus dilakukan, dengan terumbu karang yang masih baik juga. Begitu pula wilayah mencari merupakan simboll ‘piring makan bersama’ untuk bisa dimanfaatkan secara tepat guna hingga anak cucu warga masyarakat lokal (ma).

Foto: abri

Lebih baru Lebih lama