Home » , » Mulya Lubis: Kemajemukan Indonesia Jadikan Hukuman Mati Masih Ada

Mulya Lubis: Kemajemukan Indonesia Jadikan Hukuman Mati Masih Ada

Posted by Indonesia Mandiri on November 07, 2021

Masih ada keyakinan di masyarakat kalau hukuman mati perlu ada
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Karena latar belakang masyarakat Indonesia yang beragam, termasuk agamanya, membuat metode hukuman mati masih ada di Indonesia. Bahkan perjuangan untuk menghapus hukuman mati di Indonesia masih panjang. Hukum pidana Islam sendiri, misalnya, masih menerima hukuman mati.

Hal itu dibahas Todung Mulya Lubis, praktisi hukum dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia dalam Obrolan HATI PENA #12 secara daring, yang membahas novel karyanya berjudul “Menunda Kekalahan.” Acara itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA (7/11) di Jakarta, dipandu oleh Amelia Fitriani dan Elza Peldi Taher.

Todung menjelaskan, novelnya mendapat inspirasi dari kejadian nyata di mana dia sendiri bertindak sebagai kuasa hukum. Yakni, eksekusi mati terhadap beberapa terpidana kasus penyelundupan narkoba, yang terkenal dengan “Bali Nine.”

Menurut Todung, sejumlah terpidana kasus Bali Nine itu sebetulnya sudah bertobat dan berkelakuan baik selama mereka dipenjara. Namun, mereka tetap dieksekusi mati. Jadi, ia bukan bermaksud membela perbuatan pelaku peredaran narkoba. Mereka tetap harus dihukum maksimal. “Namun, pengertian maksimal itu seperti apa?” ungkapnya.

Todung Mulya Lubis
Todung memberi contoh kasus di tempatnya ia bertugas sebagai Duta Besar, Norwegia. Di sini, hukuman maksimal adalah 23 tahun penjara. Tidak ada hukuman mati. Bahkan, seorang pemuda ekstrem nasionalis, yang telah membunuh 77 anak  muda lain, tidak dihukum mati. Tapi dihukum penjara 23 tahun (lw).

Foto: Istimewa

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Defense Equipment