Home » » Siti Rodiyah, Pramuwisata Yang Gemar Bercocok Tanam

Siti Rodiyah, Pramuwisata Yang Gemar Bercocok Tanam

Posted by Indonesia Mandiri on Oktober 23, 2021

Hidroponik Membawa Berkah

Diah menemukan “mimpi baru” di atas rumahnya dengan bercocok tanam
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Musibah pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia pertama kalinya di Maret 2020, berdampak sangat besar di sektor pariwisata. Disamping banyak industri pariwisata yang gulung tikar, para pelaku usahanya pun tak sedikit yang alih profesi untuk bertahan hidup.

Pengalaman Siti Rodiyah, anggota Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPD HPI) dari DKI Jakarta, yang biasa menemani wisatawan nusantara dan mancanegara jika ingin keliling ibukota negara dan destinasi wisata lainnya di Tanah Air, di masa pandemi pun akhirnya harus “banting stir” dengan menekuni bercocok tanam melalui metode hidroponik.

Mulanya, saat ditawari program hidropnik oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Diah (panggilan akrabnya) sempat bertanya, apakah ini berkaitan dengan profesinya sebagai pramuwisata? Namun setelah ditekuninya, ternyata banyak manfaatnya. Khususnya di masa pandemi dimana pergerakan masyarakat sangat dibatasi untuk meminimalisasi penularan virus Corona.

Diah yang juga berprofesi mengajar, pun akhirnya menekuni program hidroponik dikala kegiatan pramuwisata berhenti sementara sejak pertengahan 2020. Diah kini sedang menempuh Pendidikan doktoral (S3) di Universitas Negeri Jakarta bidang Bahasa Terapan. Dan, sudah genap setahun menekuni hidroponik di atap rumahnya.

“Dengan hidroponik saya seperti diingatkan Kembali ke alam. Saya kalua ke atap rumah, rasanya segar banget udaranya. Makanya usaha say aini diberi nama Atap Hidroponik,” ucap Diah, kelahiran Jakarta, Maret 1983. Berikut ini wawancara IndonesiaMandiri bersama Diah yang tinggal di daerah Pekayon, Jakarta Timur.

IndonesiaMandiri (IM).  Apa yang melatarbelakangi anda tertarik ikut program hidroponik?

Siti Rodiyah (SR). Saya suka bercocok tanam. Hidroponik adalah cara bercocok tanam yang simple dan tidak memerlukan lahan luas. Hanya mengandalkan sinar matahari yang cukup dan ketelatenan dalam proses budidaya termasuk mengatur nutrisi, maka tanaman hidroponik dapat tumbuh subur.

Produk hidroponiknya kini sudah dikemas dan dijual secara daring
Selain itu, saya dan keluarga sehari-hari mengkonsumsi sayuran, jadi dengan menanam sayuran sendiri dan secara hidroponik, setidaknya asupan sayuran sehat bisa terpenuhi setiap hari atau kapan pun saat dibutuhkan.

IM. Sebagai anggota HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia), adanya pandemi sangat berdampak dengan profesi anda?

SR. Pandemi kiranya memberikan dampak yang besar dalam berbagai sektor pariwisata salah satunya. Kami yang memang berkecimpung di pariwisata, selama pandemi praktis tidak menerima dan melayani perjalanan wisatawan baik domestik atau mancanegara. Kami mencoba beradaptasi dengan keadaan. Terus berpikir inovatif, supaya tidak hanya bagaimana bertahan hidup. Lebih dari itu, bisa menambah keterampilan yang sesuai dengan perkembangan zaman dan kondisi alam. Alhamdulillah selama pandemi bisa menjalankan kegiatan berhidroponik dan sedikit-sedikit menjual hasilnya secara online atau langsung ke pembeli.            

Selain itu, selama pandemik saya juga tetap bisa menjalankan aktivitas profesi saya yang lainnya yaitu mengajar yang seutuhnya selama pandemi dilakukan secara online. Jadi di rumah, bisa berbagi waktu antara mengajar dan berhidroponik. Mungkin ini adalah salah satu hikmah pandemik Covid-19, saya bisa mengerjakan berbagai kegiatan (multitasking) dari satu tempat yang sama dan dalam waktu fleksibel.

IM. Bisa diceritakan program Pemerintah melalui Kemenparekraf terkait hidroponik yang anda tekuni?

SR. Kemenparekraf pada Juni 2020 memberikan dukungan bagi pelaku usaha parekraf yang terdampak Covid-19 dengan bentuk kegiatan Program Padat Karya Agrowisata-Hidroponik Bagi Anggota HPI DKI Jakarta 2020. Kami anggota DPD HPI Jakarta sebanyak 30 orang mendapatkan kesempatan istimewa ini berupa pelatihan budidaya secara hidroponik, dilengkapi dengan pemberian perangkat hidroponiknya serta insentif yang diberikan selama pelatihan berlangsung.

RIncian kegiatannya, sebagai berikut. Pada 4-7 Juni 2020 Pendistribusian kit semai kepada peserta secara bertahap. Lalu 8 Juni 2020 : Pelatihan 1 dimulai secara daring ( Pengenalan Hidroponik, Jenis-jenis sistem dan media tanam, Pemilihan jenis sayuran dan praktik persemaian). 15 Juni 2020 : Pelatihan 2 daring (Pindah tanam, Proses budidaya, Perawatan dan Nutrisi alternatif) dan 29 Juni 2020 : Pelatihan 3 daring (Panen dan pasca panen, Pemasaran dan Evaluasi budi-budaya)  

IM. Tanaman apa saja yang sudah dibudidayakan dan efektifkah caranya?

SR. Saya sudah menanam berbagai macam sayuran seperti kangkung, bayam hijau dan bayam merah, lettuce, selada merah dan selada hijau, Kale, tomat chery, siomak, daun mint, pakchoy, dan sawi keriting. Semua sayuran tersebut efektif ditanam secara hidroponik.  

IM. Sampai kapan mau menekuni hidroponik ini?

Karena bercocok tanam di atas rumah, dinamakanlah “Atap Hidroponik
SR. Selama saya dan keluarga masih memerlukan sayuran untuk dikonsumsi, maka selama itu pula insyaAllah saya akan berhidroponik. Selain itu perlahan, saya akan lebih mengembangkannya lagi menjadi usaha yang dapat menghasilkan secara materil lebih bernilai tinggi lagi dengan menjual sayuran hidroponik langsung atau diolah dan dikemas menjadi makanan siap santap seperti yang sudah mulai saya lakukan sedikit-sedikit saat ini (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Defense Equipment