Home » » Gelar Kekuatan Di Laut Cina Selatan Memicu Konflik

Gelar Kekuatan Di Laut Cina Selatan Memicu Konflik

Posted by Indonesia Mandiri on September 30, 2021

Salah satu kapal induk US Navy dan kapal pendukung
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Kabar mengenai gelar kekuatan antara angkatan bersenjata Cina dan Amerika Serikat (AS) di kawasan Laut Cina Selatan (LCS) kian ramai dan banyak pengamat berspekulasi semakin memanas. Namun bila diperhitungkan secara strategis, kedua belah pihak tidak mungkin akan melakukan peperangan terbuka.

 

Faktor Cina

 

Bila Cina memaksakan perang terhadap Amerika, mereka juga harus memperhitungkan kekuatan grup sekutunya dikawasan Asia ini yang tergabung FPDA (Five Power Defence Arrangement) terdiri dari Inggris, Australia, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura.  Sedangkan Cina sangat memerlukan Selat Malaka sebagai sarana lalu lintas perdagangan dan logistiknya. Atau mengharapkan jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI).  Selain FPDA, Cina akan juga menghadapi Taiwan dan sekutu AS lainnya.

 

Penggunaan persenjataan berkekuatan daya hancur tinggi juga bisa menyeret Cina kepada situasi yang kian sulit.  Hal tersebut dapat memicu kekuatan lawan yang semakin besar dan justru menuju kepada kehancuran lebih besar di kawasan.

 

Gangguan jalur laut perdagangan dan logistik Cina akan berpengaruh kepada situasi ekonomi. Cina harus berkonsentrasi juga kepada jalur laut dari daratan selatan Cina, memasuki Selat Malaka atau ALKI lainnya, hingga ke kawasan Afrika Barat menuju daratan Eropa. Dengan demikian perkuatan satuan Armada Selatan harus mampu menjangkau sepanjang jalur laut tersebut agar kapal-kapal niaga Cina dapat terjamin keamanannya. Selain itu, dukungan biaya perang akan meningkat drastis.

 

Memang, di masa damai ini Cina telah menunjukkan kemampuannya untuk pembuatan kapal laut secara cepat seperti telah dilakukan dalam menghadirkan kapal pendarat ampibi baru-baru ini yang hanya dalam hitungan bulan sudah mampu memproduksi hinga uji laik-laut pun dalam hitungan bulan. Cina juga sudah mampu memproduksi pesawat-pesawat tempur canggih seperti J-20 Chengdu, dan sebagainya.

 

Angkatan Laut Cina didukung dengan sekitar 540an kapal perang serta 600an pesawat tempur seperti J-7, J-8, J-10, J-11, Su-30MK2, J-15 dan lain-lain (tidak termasuk kekuatan pendukung).  Konsentrasi dan proyeksi kekuatan laut dari satuan Armada Timur dan Armada Selatan akan menjadi tumpuan kekuatan Cina di kawasan LCS sampai pada pengamanan jalur laut perdagangan ke selatan, dan seterusnya menuju dan dari negara tujuan ekspor-impor.

 

Cina memiliki program perkuatan Angkatan Lautnya dengan akan dibentuknya beberapa Grup Tempur Kapal Induk. Saat ini Cina hanya memiliki dua Kapal Induk yaitu; Liaoning dan Shandong yang merupakan modifikasi dari Kapal Induk kelas Kuznetsov, Rusia. Didukung dengan perlindungan serangan udara berupa Kapal Destroyer Type 052C atau 052D, frigate Type 054A untuk peperangan anti-kapal selam dan anti-kapal permukaan, kapal selam nuklir Type 093 dan kapal logistic Type 901. 

 

Saat ini sedang dibangun kapal induk ke-3 serta yang ke-4 (yang ke-4 ini merupakan kapal induk bertenaga nuklir) yang menurut rencananya akan selesai pembuatannya pada tahun ini dan dapat diaktifkan pada 2023, demikian juga dengan persiapan masuknya kapal perang jenis destroyer Type 055.

 

Faktor AS

 

Sejak era Presiden Bill Clinton, banyak kegiatan perdagangan AS dengan Cina yang terus meningkat, juga manufakturing AS yang ber-relokasi ke Cina. Dari yang sederhana seperti peralatan kebutuhan rumah tangga, hingga produk industri yang cukup strategis.

 

Bila sampai terjadi krisis perang dengan Cina, pihak AS harus berkalkulasi secara cermat. Terlebih lagi keadaan keuangan di dalam negeri AS juga sudah masuk kedalam posisi sulit.

 

Hingga saat ini untuk menuju rencana pembangunan kekuatan US Navy menjadi 335 Kapal Perang, masih menghadapi berbagai kendala serius.  Pembahasan ditingkat Markas Besar US Navy, Pentagon hingga Kongres masih belum menemui titik cerah untuk mencapai obyektif kekuatan tersebut.

 

Cina juga sudah menyiapkan kapal induk
Pembangunan kekuatan satuan Korps Marinir di Hawaii yang sudah berjalan hampir tiga tahun ini masih belum mencapai jadwal yang direncanakan. Belum lagi pola perang yang dalam dua dasawarsa ini dikembangkan oleh pihak Pemerintah Pusat di Washington DC, dimana saat kurun waktu itu dalam peperangan dilakukan AS umumnya mengandalkan kekuatan pasukan tempur Kontraktor yang nota-bene biayanya sangat tinggi dibandingkan dengan pengerahan kekuatan regular.

 

Kekuatan regular  terutama US Navy dan US Air Force  digunakan dalam tahap awal konflik, selanjutnya dilaksanakan oleh pihak Kontraktor.  Bila situasi meningkat baru kembali ditangani oleh pasukan regular (contoh: situasi di Irak, Libia, Afghanistan dan lain-lain)

 

Situasi Gelar Kekuatan Di LCS

 

Berita beberapa minggu terakhir ini di LCS telah hadir tiga Armada Kapal Induk AS atau dikenal sebagai US Carrier Battle Group (CVBG atau CARBATGRU), merupakan baru pertama kali sepanjang sejarah gelar kekuatan AL AS (US Navy). Gugus tempur USS Nimitz (CVN-68), USS Ronald Reagan (CVN-76), dan USS Theodore Roosevelt (CVN-71), hadir dengan segenap Grup Tempur-nya. Setiap Kapal Induk merupakan capital ship bagi grup tempur kapal induk.

Kehadiran Grup USS Nimitz dan USS Ronald Reagan diberitakan sebagai kegiatan latihan tempur di kawasan LCS, tetapi dapat diterjemahkan juga sebagai unjuk kekuatan sebagai reaksi olah gerak pihak Cina di kawasan tersebut yang disebut sebagai operasi berwajah damai, yaitu menyebarkan kapal-kapal nelayan yang dikawal oleh kapal-kapal Coast Guard Cina diberbagai wilayah sekitar LCS.

 

USS Theodore Roosevelt bergabung setelah istirahat di Guam karena adanya indikasi menyebarnya wabah covid-19 dalam jajaran mereka.

 

Pengaruh Ke Sekitar Kawasan

 

Bila terjadi konflik di kawasan LCS, pasti akan berpengaruh kepada situasi kawasan terutama Asia Tenggara yang juga merupakan pusat perdagangan dunia. Selat Malaka akan menjadi salah satu titik pusat perebutan bagi kedua pihak yang berseteru karena jalur perdangan dan logistik yang sangat strategis.  Pihak-pihak yang berkepentingan dengan keamanan kawasan Selat Malaka seperti Indonesia, Singapura dan Malaysia niscaya harus memerkuat kekuatan laut dan pertahanan udara disekitar kawasan tersebut.

 

Indonesia tetap harus mewaspadai situasi terkini dan kedepan sekitar LCS
Terlebih lagi bagi Indonesia. Tidak saja berkonsentrasi pada Selat Malaka, tetapi juga gerbang utara dua ALKI lainnya, yang akan memasuki jalur selat Makasar dan kawasan laut Maluku, Laut Seram dan sekitarnya sampai ke Samudera Hindia. Untuk menjaga keamanan di tiga wilayah ALKI, sesuai dengan kesepakatan United Nation Convention on the Law of the Sea Desember 1982 (UNCLOS III) serta International Maritime Organisation (IMO), diperlukan suatu upaya komprehensif,

 

Karena kawasan ALKI merupakan alur laut yang dapat dilalui oleh kapal-kapal laut dan pesawat udara internasional dengan cara normal serta terjamin keamanannya. Dapat dibayangkan seberapa kekuatan Armada TNI AL yang harus dipersiapkan dalam mengantisipasi keamanan kawasan perairan Nasional.

 

Skenario Pengerahan Kekuatan US Navy

 

Dalam situasi krisis, satuan Grup Armada Kapal Induk diperkuat dengan sejumlah kapal perang yang dikelompokkan sebagai Battleship Battle Group (BBBG). Atau alternatifnya berupa Surface Action Group (SAG), antara lain berupa kapal perang kelas Iowa, kapal penjelajah kelas Ticonderoga, destroyer kelas Kidd atau kelas Arleigh Burke, deatroyer kelas Spruance, dan riga frigate kelas Oliver Hazard Perry, serta satu kapal pendukung seperti pembekalan bahan bakar minyak (replenishment oiler).

 

Sedangkan Grup Aksi Kapal Permukaan (SAG - Surface Action Group) dibentuk dalam situasi perang sebagai temporary or standing organization of combatant ship, diluar kapal induk, dibentuk untuk misi taktis yang spesifik. US Navy akan melakukan total combat strategy mereka untuk membatasi durasi pertempuran agar tidak menyeret sampai terjadinya perang di darat. Kecuali bila mereka akan merebut pulau Xisha dan Nansha (Pulau Paracel dan Spratley)

Untuk tujuan strategi tersebut, tidak mustahil akan menyeret negara netral di sekitar LCS kedalam kancah konflik dikarenakan mereka akan memerlukan pangkalan acu (staging base) guna penyegarak kekauatan armadanya.

 

Semoga saja kekhawatiran kita di LCS ini tidak menjelma menjadi peperangan terbuka yang dapat merugikan negara disekitar kawasan tersebut.

 

Penulis: Muhammad Ali Haroen dan M. Abriyanto (keduanya wartawan)

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Defense Equipment