Home » » Indonesia Tuan Rumah Konvensi Minamata Tentang Merkuri

Indonesia Tuan Rumah Konvensi Minamata Tentang Merkuri

Posted by Indonesia Mandiri on Agustus 10, 2021

Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK Rossa Vivien Ratnawati 
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Indonesia terpilih sebagai tuan rumah sidang The Fourth Meeting of the Conference of Parties (COP-4) Konvensi Minamata. Terpilihnya Indonesia sebagai tuan rumah acara tersebut merupakan wujud pengakuan dunia internasional terhadap pencapaian Indonesia dalam pengurangan dan penghapusan Merkuri.

Pandemi Covid-19 mengharuskan penyelenggaraan COP-4 Minamata dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama diselenggarakan secara daring pada 1 – 5 November 2021. Lalu tahap kedua direncanakan akan diselenggarakan secara tatap muka pada 21 – 25 Maret 2022 di Nusa Dua, Bali, dengan menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Keputusan terpilihnya Indonesia diambil pada sidang COP-3 Konvensi Minamata di Jenewa, 25 November 2019, yang juga Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rosa Vivien Ratnawati, juga dipilih sebagai Presiden COP-4.

“Keberhasilan Indonesia terpilih sebagai tuan rumah sebuah perhelatan global yang fokus pada upaya perlindungan lingkungan hidup dan kesehatan manusia dari bahaya merkuri ini, merupakan sebuah kebanggaan bagi kita semua,” ujar Wakil Menteri LHK, Alue Dohong, saat membuka Launching Pertemuan ke-4 Konferensi Para Pihak (COP 4) Konvensi Minamata tentang Merkuri di Indonesia (10/8).

Konvensi Minamata dilatarbelakangi tujuan melindungi kesehatan manusia dan keselamatan lingkungan dari emisi dan lepasan akibat Merkuri dan senyawa Merkuri yang berasal dari kegiatan manusia, seperti Peristiwa keracunan Merkuri di teluk Minamata, Jepang pada 1950. Di 2013 akhirnya disepakati suatu perjanjian internasional yang dikenal Minamata Convention on Mercury.

Konvensi ini mulai berlaku di 2017 dan hingga saat ini telah diratifikasi oleh 132 negara, termasuk Indonesia yang meratifikasi Konvensi Minamata melalui Undang-undang No 11/2017 tentang Pengesahan Minamata Convention on Mercury.

Komitmen Indonesia untuk mengurangi dan menghapus penggunaan merkuri juga ditunjukkan melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 21/ 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN-PPM). Juga, menetapkan penghapusan Merkuri pada pertambangan emas skala kecil (PESK) sebagai Program Prioritas Nasional.

Komitmen Indonesia melalui langkah nyata. Hingga 2020 berdasarkan laporan RAN-PPM, pengurangan pemakaian merkuri di bidang manufaktur (industry lampu dan baterai) hingga 374,4 kg, energi mampu mengurangi 710 kg, PESK menurun 10,45 ton melalui penghapusan PESK yang menggunakan merkuri dan pembangunan pengolahan emas non-merkuri. Dari bidang kesehatan, berkurang 4,73 ton melalui pengapusan alat kesehatan bermerkuri (tensimeter, thermometer, dental amalgam) dari fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia.

 Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Rossa Vivien menambahkan, Indonesia merupakan salah satu negara pertama di dunia yang memiliki kerangka hukum komprehensif tentang pembatasan Merkuri yang bisa menjadi rujukan bagi negara lain (ma)

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

.