Home » , » Bedah Buku Novi Basuki Tentang Dinamika Islam Di Cina

Bedah Buku Novi Basuki Tentang Dinamika Islam Di Cina

Posted by Indonesia Mandiri on Agustus 30, 2021

Banyak pengaruh Cina masuk dalam peradaban Islam di Nusantara
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Sebuah buku menarik berjudul Islam di China Dulu dan Kini (Penerbit Buku Kompas, 2020) karya Novi Basuki, dibahas dalam obrolan webinar sore dari Perkumpulan Penulis SatuPena Hati Pena (29/8).

 

Menurut penulis bukunya, Novi, Cina adalah negara dengan penduduk terbanyak di dunia dengan 1,4 miliar penduduk atau 18% dari total populasi dunia (2021) dan hanya sekitar 30 juta penduduknya memeluk agama Islam.

 

Sedikit? “Salah satu penyebabnya adalah Revolusi Budaya era Mao Zedong yang memberangus eksistensi agama dan penganutnya termasuk IslamMeski penerapan Revolusi Budaya dengan tangan besi sudah tak lagi dijalankan sekarang sejak dikeluarkannya Dokumen No. 19/1982 termasuk Pasal 36 UUD yang menjamin kebebasan beragama dan tidak beragama,” jelas Novi, mahasiswa doktoral Sun Yat Sen University, Guangzhou, ini.

 

Novi Basuki, 28 tahun, sepuluh tahun terakhir menuntut ilmu di Tiongkok. Sejak lulus dari SMA Nurul Jadid, Probolinggo, pada 2010, dia melanjutkan S1 di Huaqiao University jurusan Bahasa dan Budaya serta S2 di Xiamen University jurusan Hubungan Internasional. Untuk menulis bukunya itu Novi melakukan riset terhadap naskah-naskah klasik ratusan tahun dalam bahasa Tiongkok klasik yang cukup banyak perbedaannya dengan bahasa Mandarin kontemporer.

 

Webinar dari SatuPena ini dihadiri lebih dari 140 peserta
Di dalam bukunya itu Novi tak hanya menyinggung data-data historis tentang hubungan Cina dan Arab, melainkan juga peran Laksamana Cheng Ho yang selama ini dianggap berpengaruh besar dalam penyebaran Islam di Indonesia melalui ‘jalur Tiongkok’, untuk menyandingkan dengan ‘jalur India’ dan ‘jalur Arab/Hadramaut’ yang lebih populer.

Pembahas lainnya, Profesor Asvi Warman Adam, Guru Besar bidang Sejarah Sosial Politik LIPI, menanggapi dengan mengurai data terjadinya peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia belajar ke Cina dibanding ke Australia, Amerika Serikat, dan Malaysia. Dengan menggunakan data disertasi Rika Theo (2018), terlihat pada tahun sebelumnya negara tujuan pertama adalah China dengan 14,7 ribu mahasiswa Indonesia, disusul oleh Australia dengan 8,8 ribu, AS dengan 8,7 ribu dan Malaysia dengan 5,7 ribu.

 

“Semakin banyaknya jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di China akan membuat penjelasan sejarah dari versi Tiongkok akan lebih kuat dibandingkan sebelumnya,” papapar Asvi.

.

Sementara Ketua Umum Satupena Denny JA menambahkan, forum dialog lewat webinar yang kedua ini akan terus digelar secara rutin. Obrolan webinapertamanya bertema “Mengenang Prof. Budi Darma” (22/8), sebagai bagian dari penghormatan terhadap sastrawan besar yang meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.

 

“Kami akan mengadakan webinar rutin dengan topik bermutu dan pembicara berbobot setiap Minggu siang jam 14-16 WIB sebagai salah satu ikhtiar untuk mengedukasi publik baik melalui bedah buku, penghargaan terhadap sosok besar seperti pekan lalu, atau bentuk-bentuk lain seperti talk show tentang geopolitik dan hubungan internasional, keriaan pembacaan puisi dengan melibatkan komunitas penyair di dalam kampus atau luar kampus, dan lain-lain bentuk acara yang dimungkinkan, ulas Denny peraih gelar Ph.D di bidang Comparative Politics and Business, Ohio University, AS (ma).

 

Foto: abri

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

.