Home » » Menteri Siti Dan Menteri Trenggono Sepakat Perluas Blue Carbons

Menteri Siti Dan Menteri Trenggono Sepakat Perluas Blue Carbons

Posted by Indonesia Mandiri on Mei 06, 2021

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menyimpan banyak ekosistem blue carbons
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Ekosistem Blue Carbon yang didalamnya berupa ekosistem pesisir terutama mangrove, padang lamun dan kawasan rawa payau merupakan ekosistem penyerap serta penyimpan karbon alami dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki luas kawasan mangrove 3.2 juta hektare (ha) dan padang lamun 3 juta ha. Dengan luasan tersebut, ekosistem Blue Carbon Indonesia dapat menyimpan hingga 17% dari cadangan Blue Carbon dunia sehingga memiliki peranan sangat penting dalam mengurangi perubahan iklim.

Hal ini menjadi bahasan penting terkait memasukkan Blue Carbon menjadi salah satu strategi penurunan emisi untuk memenuhi target NDC (nationally determined contribution) di 2030, antara Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono secara virtual (5/51).

Kedua menteri juga mendengar pendapat dan masukan dari para ahli dalam diskusi bertema “Executive Brief: State of The Art Blue Carbon di Indonesia”. Kajian ini dihararapkan memberi pemahaman yang sama antar Kementerian/Lembaga, terutama KLHK dan KKP mengenai status terkini dari konsep dan strategi pengembangan Blue Carbon.

Para ahli yang diminta pendapatnya oleh kedua menteri tersebut adalah Prof. Daniel Murdiyarso dari CIFOR – IPB yang menjelaskan Blue Carbon dalam perspektif pengelolaan lahan basah nasional dan global, Dr. Anastasia Rita Tisiana Dwi Kuswardani dari Pusat Riset Kelautan KKP, memnahas terkait Potensi carbon sink dan acid generation pada ekosistem laut.

Lalu ada Prof. Rohani Ambo Rappe dari Universitas Hasanuddin memberikan keterangan terkait Potensi padang lamun (seagrass) dalam mitigasi perubahan iklim dan Prof. (Ris). Dr. Haruni Krisnawati dari Badan Litbang dan Inovasi KLHK memaparkan Potensi kontribusi mangrove terhadap target penurunan emisi GRK Indonesia.

Siti menerangkan, masukan dari para ahli sangat dibutuhkan oleh para eksekutif, khususnya di KLHK dan KKP untuk menjadi sumber ilmiah terhadap suatu kebijakan. Menurutnya, Blue Carbon memiliki peran penting, dan proses inventarisasi GRK (gas rumah kaca) sudah harus membedakan ekosistem Blue Carbon dan hutan daratan. Agar Blue Carbon memilki tempat khusus dan perkiraan penyerapan emisi GRK (gas rumah kaca) dan pelaporan emisi GRK akan menjadi lebih akurat pada tingkat nasional.

Sementara Trenggono meminta agar secara bersama-sama merumuskan dan menyepakati kebijakan terkait Blue Carbon di Indonesia dengan ekosistem berupa mangrove, padang lamun dan rawa payau. Ia juga mendorong penelitian lebih lanjut terkait Blue Carbon yang dilakukan KLHK, KKP, LIPI dan lembaga penlitian lainnya, untuk dijadikan dasar ilmiah dalam suatu kebijakan.

“Kita juga harus melihat bahwa Blue Carbon juga dapat dimanfaatkan sebagai mekanisme untuk menciptakan nilai ekonomi melalui perdagangan carbon. Serta kita harus bersama-sama memastikan bahwa indeks kesehatan laut Indonesia dapat meningkat, saat ini indeks ada di angka 65 atau menempati ranking 137 dari 221 dan ke depan harapannya angka tersebut dapat meningkat hingga 76 pada tahun 2024,” terang Menteri Trenggono (ma).

Foto: abri

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

About me

Indonesia Mandiri

Facebook

Cakrawala

About us

NeoMag is a blogging Blogger theme featuring a sleek, stylish and modern design suitable for everyone who loves to share their stuff online.