Home » » Bayi Hiu Seperti Manusia Di Rote Sempat Menggegerkan

Bayi Hiu Seperti Manusia Di Rote Sempat Menggegerkan

Posted by Indonesia Mandiri on Maret 01, 2021

BBKSDA NTT saat memerika keberadaan bayi Hiu
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Masyarakat di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), sempat digegerkan dengan adanya informasi tentang temuan bayi Hiu berwajah seperti manusia. Menanggapinya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BBKSDA-KLHK) NTT menindaklanjuti dengan mendatangi tempat kejadian untuk memeriksa keberadaannya.(25/2)

“Ikan Hiu sepanjang sekitar 1,50 meter dibawa ke darat dan ketika dibelah terdapat tiga janin di dalamnya. Dari ketiga janin hiu tersebut salah satunya berwujud menyerupai manusia. Kemudian, janin itu diawetkan dalam wadah kaca berisikan cairan alkohol. Petugas lalu melakukan pengukuran terhadap awetan janin hiu dengan hasil panjang 20 cm dan berat 300 gram,” jelas Timbul Batubara, Kepala BBKSDA NTT.

Untuk lebih memastikan, Timbul Batubara kemudian menghubungi Dosen dan Peneliti Ikan/ Ichthyologist, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Charles P.H. Simanjuntak. Setelah membaca dan memperhatikan hasil pengumpulan informasi oleh petugas Resor Kesatuan Wilayah (RKW) Rote, Charles menyimpulkan spesies janin hiu ini adalah Carcharinus melanopterus atau blacktip reef shark.

Spesies ini termasuk kategori rentan dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Menurut Charles, bayi hiu yang diawetkan masih dalam kondisi janin atau fetus, berasal dari dalam tubuh induknya (belum dilahirkan). Di bagian lubang atau bulatan adalah organ mata namun posisinya belum berada pada bagian lateral (sisi tubuh), melainkan ventral (depan).

Bayi Hiu dengan tampilan mirip manusia
Mata yang tidak bermigrasi saat pembentukan embrio, yaitu berada pada bagian ventral, mengindikasikan adanya cacat bawaan atau congenital abnormalities. Penyebabnya ada beberapa faktor, baik karena genetik maupun lingkungan. Informasi ini sekaligus mematahkan dugaan bahwa kedua lubang adalah hidung.

“Walaupun hiu belum termasuk dilindungi menurut Peraturan Menteri LHK Nomor 106/2018, namun keberadaannya penting di perairan laut. Posisi Hiu dalam rantai makanan adalah sebagai top predator berfungsi untuk mengendalikan jenis-jenis yang dimangsanya. Penurunan populasi hiu dikhawatirkan mengganggu kestabilan ekosistem ,” terang Timbul.

Timbul pun menghimbau kepada masyarakat untuk membatasi konsumsi sirip Hiu dan turut melestarikan sumberdaya perairan laut (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

.