Home » » Wamen LHK Kunjungi Agroforestri Hutan Bambu Di Pulau Flores

Wamen LHK Kunjungi Agroforestri Hutan Bambu Di Pulau Flores

Posted by Indonesia Mandiri on Desember 19, 2020

Sesuai arahan Presiden Jokowi, potensi bambu akan didorong menjadi green econom
Ngada/NTT
 (IndonesiaMandiri) – Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK), Alue Dohong kunjungi Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama 4 hari, 14-17 Desember, sebagai upaya mendukung usaha budidaya bambu yang kini dikembangkan masyarakat bersama Yayasan Bambu Lestari di Kabupaten Ngada, NTT.

Alue ingin melihat langsung potensi hutan bambu yang telah dilakukan oleh masyarakat setempat, sebab bambu menjadi salah satu perhatian Presiden Jokowi untuk dikembangkan menjadi green economy.

"Bambu selain memiliki nilai ekonomi juga mempunyai nilai lingkungan dan konservasi karena dapat menyerap karbondioksida yang disimpannya di akar, batang dan daun bambu sehingga lingkungan setempat akan terasa dingin dan sejuk seperti di Kabupaten Ngada yang dingin ini. Pasti salah satu pengaruhnya karena peranan hutan bambu. Sehingga potensi bambu di Kabupaten Ngada yang luar biasa ini perlu kita dorong menjadi bagian dari proses rehabilitasi daerah aliran sungai," jelasnya.

Saat ini, lanjut Alue, telah tertanam sekitar 8.000 hektare dan KLHK menyediakan pembibitan 100.000 bibit di 2020 dan pada 2021 ditingkatkan lagi. Kini, sudah ada sebuah Green Village di Bali, dengan  rumah-rumah dan hotel penginapan yang semuanya dari bambu mulai dari atap, tiang, kamar tidur, tempat wastafel, sampai toilet dilapisi bambu dengan kualitas sangat bagus.

"Nilai ekonomi bambu sangat tinggi, tidak hanya untuk furniture tapi mulai dari pembangunan rumah dan souvenir. Apalagi di NTT merupakan salah satu Provinsi yang dikembangkan destinasi pariwisata super prioritas di Labuan Bajo. Mestinya hotel-hotel, restoran ke depannya memakai produk dari bambu yang sudah diolah sedemikian rupa dengan kualitas tinggi. Peluang sangat banyak maka potensi hutan bambu di Kabupaten Ngada ini ke depannya dapat menjadi sentra bambu nasional," terang Alue.

Rombongan Wamen LHK juga mengunjungi Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Tujuh Belas Pulau di Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Kawasan konservasi ini dikelola oleh Balai Besar KSDA NTT dengan luas 7.303,16 hektare berdasarkan SK. Menteri Kehutanan No.3911/MENHUT-VII/KUH/2014. TWAL Tujuh Belas Pulau merupakan salah satu destinasi wisata alam di NTT yang perlu didukung semua pihak dalam hal pengembangannya agar bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa.

Sebagian besar pulau-pulau di TWAL Tujuh Belas Pulau merupakan bukit dengan padang Savana serta perairan laut yang jernih dan indah alami. Pesonanya semakin lengkap dengan adanya Biawak Komodo di Pulau Ontoloe serta hutan mangrove yang menjadi habitat ribuan kelelawar.

Kepala Balai Besar KSDA NTT, Timbul Batubara, sempat memaparkan kepada Wamen LHK tentang Blue Print Pengembangan Wisata Alam (Bahari) dan Pusat Konservasi Komodo. Alue Dohong sempat pula meninjau lokasi padat karya penanaman mangrove (PKPM) di Desa Langkosambi Timur, Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, dalam rangka pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Program PEN di NTT berhasil sebab penanaman yang telah mencapai 631 hektare dari target semula 500 hektare dengan dukungan anggaran sebesar 13 miliar rupiah dan anggaran tersebut telah direalisasi 99,9 persen. "Berarti sukses untuk NTT karena seluruh anggaran terserap," ujar Alue saat melakukan penanaman mangrove di lokasi PKPM (17/12).

Di NTT, program PEN melalui padat karya penanaman mangrove, terdapat di 17 kabupaten yang dikerjakan oleh 56 kelompok masyarakat atau 2.078 orang. Untuk program penanaman di Langkosambi Timur, sesuai laporan Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Benain Noelmina, seluas 50 hektare, menggunakan pola pengkayaan 1.000 batang per hektare.

Ekosistem mangrove sangat penting, karena menyerap karbondioksida dan sebagai penyangga jika terjadi gelombang tsunami. Pengalaman tsunami di Aceh, kampung-kampung dengan kondisi mangrove yang bagus, kerusakan bangunan dan infrastruktur serta korban jiwa sangat kecil. Namun daerah-daerah yang mangrovenya dibuka seluruhnya untuk tambak, justru kehancurannya sangat besar. Jadi, mangrove juga sebagai buffer zone atau zona penyangga saat ada gelombang tsunami (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri