Home » , » Perlunya Memahami Pemakaian Antibiotik Dengan Bijak

Perlunya Memahami Pemakaian Antibiotik Dengan Bijak

Posted by Indonesia Mandiri on November 28, 2020

Sosialisasi pemahaman masyarakat atas penggunaan antibiotik perlu disebarluaskan

Depok
 (IndonesiaMandiri) – Bersamaan dengan World Antimicrobial Awareness Week (WAAW) yang berlangsung setiap November, Rumah Sakit Universitas Indonesia/RSUI buat seminar bulanannya ke-32 bertajuk “mari gunakan antibiotik dengan bijak” (24/11). Peringatan WAAW sendiri bertujuan memberi kesadaran global terhadap resistensi antibiotik dan mendorong masyarakat umum, petugas kesehatan, pemberi resep dan pembuat kebijakan untuk menghindari kemunculan dan penyebaran lebih lanjut resistensi antibiotik.

Antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri. Antibiotik bekerja dengan cara membunuh dan menghentikan perkembang biakan bakteri di dalam tubuh. Penggunaan antibiotik yang benar dan bijak dapat mengurangi beban penyakit, khususnya penyakit infeksi.

Sebaliknya, penggunaan yang salah dan tidak sesuai indikasi dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik adalah kemampuan bakteri untuk bertahan hidup dari efek serangan antibiotik, sehingga bakteri menjadi kebal terhadap pengobatan dan menimbulkan lebih banyak masalah.

Salah satu pembicara seminar WAAW, dr. Adityo Susilo, Sp.PD-KPTI-FINASIM menyampaikan, infeksi merupakan suatu kondisi masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh. Infeksi dapat menyebabkan demam, namun demam bukanlah pasti selalu karena infeksi. Saat demam, umumnya dialami rasa tak nyaman karena metabolisme tubuh berjalan tidak normal.

“Antibiotik berfungsi untuk membunuh kuman serta bekerja secara spesifik dan bukan merupakan obat demam. Jika penggunaan antibiotik tidak sesuai indikasi dapat menyebabkan munculnya kuman yang kebal terhadap antibiotik,” ujar Adityo, dokter konsultan penyakit tropik dan infeksi RSUI. Karena sistem kerja antibiotik menghancurkan dinding sel, sehingga diperuntukkan untuk membunuh bakteri, bukan virus.

“Pada penyakit akibat virus, secara logika tidak membutuhkan antibiotik. Beberapa dokter ada yang menggunakan antivirus dalam mengobati penyakit akibat virus, namun tidak semua virus membutuhkan antivirus. Karena beberapa virus ada yang bersifat self-limiting yang berarti penyakit tersebut dapat sembuh sendiri tanpa obat dengan adanya sistem imun tubuh yang kuat.” jelasnya.

Ada alasan mengapa antbiotik perlu dihabiskan, ini karena membutuhkan beberapa waktu tertentu untuk memastikan bakteri benar-benar mati. Biasanya waktu tunggunya sekitar 5-7 hari atau dapat juga mengikuti petunjuk dokter, karena beberapa antibiotik dapat berbeda. Jika tidak dihabiskan karena merasa kondisi tubuh sudah baik, khawatir bakteri tersebut belum benar-benar mati dan dapat menyebabkan infeksi kembali.

Sedangkan dr. Nina Dwi Putri, Sp.A(K), pembicara berikutnya, menjelaskan demam terjadi bukan karena adanya kerusakan tubuh. Kondisi yang harus diwaspadai saat anak demam, yaitu, anak dengan diare terus menerus/ tidak ada perbaikan lebih dari tiga hari, muntah lebih dari satu hari dan tidak ada perbaikan, tampak dehidrasi (buang air kecil jarang dari biasanya, saat menangis tidak ada air mata, lemas, dan demam disertai nyeri pada telinga, tenggorok atau saat buang air kecil.

“Kriteria kondisi demam yang membutuhkan antibiotik, yaitu ketika demam terus menerus tanpa adanya penurunan suhu mencapai nilai normal, demam disertai dengan adanya pembesaran kelenjar getah bening, dan disertai adanya fokus infeksi seperti telinga, sistem pernapasan, otak, atau saluran kemih” papar Nina, dokter dokter spesialis anak sekaligus konsultan infeksi dan pediatri tropis RSUI.

Jadi, saat memberi antibiotik kepada anak, Nina berpesan diantaranya, konsumsi antibiotik sesuai dengan petunjuk dokter, anak harus menghabiskan antibiotik yang telah diminum, dan orang tua harus memperhatikan adanya efek samping dari antibiotik yang diminum (seperti alergi, muntah, sesak).

Pembicara ketiga dr. Ardiana Kusumaningrum, Sp.MK menyebut, antibiotik hanya dapat diresepkan jika terdapat kecurigaan penyakit infeksi bakteri yang telah dilakukan pemeriksaan fisik, anamnesis atau pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan penunjang) sebelumnya. Beberapa contoh memakai antibiotik yang salah seperti, menyimpannya untuk sakit yang akan datang, menghentikan obat ketika merasa lebih baik (tidak menuntaskan), berbagi obat atau menggunakan obat orang lain, dan tidak tepat jenis dosis, cara pakai dan lama terapi.

“Kesalahan penggunaan antibiotik dapat menyebabkan beberapa permasalahan, seperti kurang efektifnya antibiotik saat digunakan, dapat menimbulkan resistensi bakteri terhadap antibiotik, dan bakteri tersebut dapat menyebar ke orang lain dan lingkungan sekitar,” sambung Ardiana, dokter spesialis mikrobiologi klinik RSUI.

“Beberapa tips mencegah terjadinya resistensi, yaitu gunakan antibiotik hanya pada kondisi infeksi bakteri yang sebelumnya telah dikonsultasikan ke dokter, gunakan sesuai resep, jangan memaksa meminta antibiotik, serta rajin mencuci tangan,” pesannya (lw).

Foto: Istimewa 

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala