Home » » Perang Elektronika, Mampu membutakan Lawan Dengan Teknologi

Perang Elektronika, Mampu membutakan Lawan Dengan Teknologi

Posted by INDONESIA MANDIRI on September 02, 2020

Pesawat Serbu Elektronika Australia EA-18G dikembangkan dari F-18 Hornet 
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Perkembangan teknologi elektronika untuk diaplikasikan pada peralatan militer terus dikembangkan, utamanya untuk tujuan peperangan elektronika (Pernika). Sebelumnya, ada yang dikenal sebagai Electronic Counter Measures (ECM), Electronic Support Measures (ESM), dan seterusnya.
Lalu dikembangkan Electronic Attack (EA) memakai enerji electromagnetic yang digunakan sebagai senjata, dengan mengarahkan enerji, atau senjata anti-radiasi untuk menyerang personel, fasilitas atau persenjataan lawan.
EA menggunakan transmisi enerji frequensi radio untuk mengganggu operasional dari frequensi sistem radio lainnya. Ini merupakan esensi dari jamming, baik bagian dari radar atau sistem komunikasi, dan memastikan si penerima komunikasi tidak mendapatkan sinyal yang dibutuhkan.  Seperti halnya kecabangan Pernika lainnya, EA di peruntukan untuk mengkonter ancaman elektronika.
Aplikasi yang klasik termasuk pengacauan frequensi pengawalan udara, peran pesawat udara yang dilengkapi dengan paket serang, membawa sistem jamming yang kuat untuk membutakan radar saat sistem pertahanan udara lawan berintegrasi untuk menutupi lalu-lintas jalur informasi. 
Pendekatan alternatif adalah melakukan jamming jarak jauh dengan mengerahkan pesawat EA yang lebih besar dan mampu terbang dalam waktu lebih lama yang beroperasi diluar jangkauan persenjataan anti serangan udara lawan, targetnya radar pertahanan udara dan jalur komunikasinya. Untuk aplikasi ini, sistem ESM yang dioperasikan harus dengan kemampuan geolocation yang akurat, karena kekuatan jamming harus terkonsentrasi pada jalur frekuensi yang relative sempit pada jarak yang cukup jauh.
Kawal/dukungan jammers
Salah satu sistem jammer untuk di pasang pada pesawat udara adalah sistem pod jammer dari Northrop Grumman AN/ALQ-99. Higga saat ini sistem tersebut telah mengalami beberapa kali penyempurnaan.  Sistem tersebut antara lain dipasang pada platform berupa pesawat EA-6B Prowler dan EA-18G Growler, yang saat ini pod jammer-nya telah diganti dengan  Next Generation Jammer (NGJ) AN/ALQ-249, dirancang dengan kekuatan 10 kali lebih kuat dan meningkatkan kemampuan kerjanya empat kali lebih luas. Dengan NGJ ketepatan dan kecepatan kerja lebih besar dengan kemampuan kecepatan reaksi yang tinggi, menggunakan transmitter Active Electronically Scanned Array (AESA) utuk membentuk pancaran jamming yang lebih handal.
Angkatan Laut Amerika Serikat telah memilih Raytheon untuk memimpin pengembangan pertama NGJ yang mengalahkan Northrop Grumman ALQ-99 pada 2013 lalu.  Pengembangan yang termasuk untuk menyasar target band-rendah dan tinggi guna mampu menghadapi ancaman yang timbul dimasa mendatang.
Rencana investasi tahun fiskal 2019 difokuskan pada produksi gallium nitride monolithic microwave integrated circuits dan teknologi wideband circulator. Keduanya merupakan komponen utama dari sistem AESA, komponen pertama yang dirangkai berupa elemen transmitter/receiver, lalu yang kedua berupa seluruh system high-power microwave dan jaringan antenna dimana enerji haris diarahkan dan di isolasi.
Dipihak lain, SAAB dari Swedia sedang menyelesaikan tahap akhir pengembangan pod pesawat sistem kawal/pendukung jamming untuk pesawat Gripen E maupun jenis platform jet lainnya. Dikembangkan dari inti teknologi yang sama dengan sistem peperangan elektronika Arexis, terintegrasi secara internal dengan pesawat Gripen E, dirancang untuk melindungi datangnya pendekatan maupun keluaran seluruh formasi serangan terhadap radar anti-stealth frequensi rendah. Inti teknologinya adalah ultra wideband digital receiver dan perangkat DRFM (Digital Radio Frequency Memory), gallium nitride solid-state AESA transmitters dan interferometric direction finding system.
EA terhadap radar frekuensi rendah akan membutuhkan tenaga sangat tinggi, perangkatnya cukup memakan tempat dan bobot yang cukup berat untuk dipasang secara permanen pada platform pesawat tempur.  Oleh karenanya, dibuatlah dalam bentuk pod yang dapat dipasang dan dilepas dengan mudah.  Perancangan sistem ini juga ditujukan untuk menghadapi radar dengan teknik DRFM-based jamming seperti smart noise, coherent false target dan teknik saturasi. Dua pod pada satu unit pesawat tempur akan memberikan perlindungan seluruh formasi terbang.
Pihak SAAB mengatakan, untuk melakukan jamming pada radar surveillance secara efektif, tidak saja dilakukan pada bagian inti arah deteksi radar, tetapi juga bagian sisi sekitarnya, sehingga diperlukan tenaga yang besar, itu sebabnya dibutuhkan dua pod pada satu pesawat, karena system beroperasi pada frequensi band yang berbeda, satu pada mode VHF dan lainnya pada UHF L-band.
Menyerang frequency hoppers

Salah satu aspek yang dibutuhkan oleh EA untuk menghadapi sistem komunikasi adalah kemampuan jamming terhadap  peralatan elektronika moderen seperti piranti lunak pada radio dengan format gelombang LPI (Low Probability of Intercept), menggunakan teknik Frequency Hopping Spread Spectrum (FHSS) berkecepatan tinggi.  Tiga tujuan utama dalam melakukan jamming jaringan komunikasi berupa; untuk mengganggu dan menghentikan jaringan komunikasi pihak lawan sehingga kemampuan jaring C4ISTAR (komando-kendali Komunikasi) dapat dilumpuhkan untuk sementara waktu, kedua membentuk tabir atau mensamarkan jaring C4ISTAR pihak sendiri dari serangan COMINT/CESM pihak lawan - misalkan dengan broadband noise. Terakhir, untuk menipu atau menyesatkan pihak lawan dengan mengirim ulang atau meng-imitasikan transmisi sinyal elektronik/komunikasi pihak lawan. Untuk melakukan jamming akan diperlukan sinyal yang lebih kuat dari pihak yang akan diserang, atau dikenal sebagai jamming margin atau rasio J/S, yang akan bergantung pada banyak parameter, termasuk tenaga transmitter dan jarak ke penerima (receiver) sasaran.
Melaksanakan jamming pada sistem radio dengan teknik FHSS juga cukup sulit mengingat perubahan frekuensi pada radio dapat dilakukan secara cepat dan sudah banyak memakai pseudo-random hop sequences. Maka dalam skema seperti ini, harus diperhitungkan jarak frequensi (hop range), spasi kanal, jumlah kanal yang digunakan, hop length dan bandwidth serta skema modulasi dan error correction yang digunakan lawan, selain itu juga perlu diperhitungkan penggunaan jaring self-organising dan automatic back-up link oleh pihak lawan atau sasaran. Biasanya jaring komunikasi sudah dilengkapi dengan perangkat anti-jamming.
Atas berbagai perhitungan teknologi sistem komunikasi yang sudah ada dewasa ini, terutama sistem perlindungannya, pengembangan EA dengan enerji elektro magnetik ini dilakukan. Faktor kecepatan dan tepat serta penggunaan kombinasi dari perangkat monitor dan deteksi wideband serta narrowband jamming. Didukung dengan pemroses sinyal digital yang sangat cepat (ultra-fast) atau wideband digital IQ baseband signal processing dan paralel dengan penghasil sinyal jamming dengan respon yang sangat cepat, sehingga prosesnya dapat berlangsung dalam waktu yang singkat.
Pemanfaatan EA dimasa Perang dan Damai
Serangan elektronika dalam peperangan adalah hal lumrah, dilakukan untuk membungkam atau melumpuhkan sementara jaring komunikasi dan elektronika pihak lawan. Sehingga kekuatan udara yang akan melakukan serangan ke darat dapat terlindungi dari deteksi unit-unit anti-serangan udara pihak sasaran di darat.
Namun sarana EA juga tidak tertutup kemungkinan dimanfaatkan dimasa damai untuk melakukan penerbangan gelap disuatu teritorial negara lain dalam upaya melintas ataupun kegiatan memata-matai suatu wilayah.

Semoga saja pemanfaatan EA ini benar-benar digunakan untuk mendukung peperangan saja, dan bukan untuk menciptakan peperangan atau disalah gunakan pada masa damai.

MUHAMMAD ALI HAROEN
Foto: Istimewa

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala