Home » » TNI AD Bakal Dilengkapi Helikopter Black Hawk Dan Chinook

TNI AD Bakal Dilengkapi Helikopter Black Hawk Dan Chinook

Posted by INDONESIA MANDIRI on Agustus 18, 2020

Helikopter Chinook yang sudah teruji kehandalannya untuk operasi tempur dan non tempur
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Pusat Penerbangan TNI AD (Puspenerbad) telah melaksanakan peremajaan armada helikopter, sebagai penguatan dari alat utama sistem senjatanya (alutsista), dari mulai masuknya helikopter Mi-17, Mi-35, pembelian helikopter serbu Apache, helikopter AS555 AP Fennec dan peremajaan / perpanjangan usia pakai helikopter yang sudah agak tua seperti Bell-412EP maupun NBO-105.  Penguatan armada pesawat Puspenerbad terus diupayakan antara lain dengan, rencana pembelian helikopter serbu UH-60 Black Hawk dan helikopter kelas berat serba guna CH-47 Chinook.
Rencana pembelian helikopter Black Hawk dan Chinook tertuang dalam surat KSAD No. B/455/II/2013 yang dikutip media pada 15 April 2014, yaitu 17 unit UH-60 Black Hawk dan tiga unit CH-47 Chinook. Selaku pendukung mobilitas tempur TNI AD, kekuatan Puspenerbad ini dioperasikan dalam medan tempur saat wilayah udara telah dikuasai oleh TNI.  Selain itu, kekuatan ini juga dapat melaksanakan operasi bantuan tembakan saat persenjataan artileri tidak dapat menjangkau sasaran dibalik pegunungan, serta operasi mobil udara atau Mobud.

Dengan rencana masuknya helikopter UH-60 Black Hawk dan CH-47 Chinook kedalam jajaran Puspenerbad, diharapkan kemampuan pengerahan pasukan dan peralatan ketempat-tempat yang sulit dapat dilakukan dengan mudah dan masif. Sebagai negara kepulauan, keberadaan akan pesawat helikopter menjadi penting, karena tidak disemua wilayah kepulauan Indonesia yang luas ini tersedia landasan pesawat udara. Jadi, hadirnya helikopter bisa menjangkau pengiriman pasukan dan peralatan ke wilayah sulit dapat dicapai.

Kekuatan jajaran Puspenerbad yang ada saat ini antara lain;
Skadron 11/Serbu berkedudukan di Semarang, Jawa Tengah,
Skadron 12/Serbu berkedudukan di Waytuba, Lampung, Sumatera Selatan,
Skadron 13/Serbu berkedudukan di Berau, Kalimantan Timur,
Skadron 21/Serba Guna (Sena) berkedudukan di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten,
Skadron 31/ Serbu berkedudukan di Semarang, Jawa Tengah, dan
Pusat Pendidikan Puspenerbad di Semarang, Jawa Tengah.

Memang belum semua wilayah dapat dijangkau oleh Puspenerbad, terutama di kawasan Indonesia bagian Timur.  Namun kedepannya, kemungkinan penyebaran kekuatan Udara TNI AD akan sampai juga ke kawasan tersebut. Sementara itu menurut informasi yang ada, dalam waktu dekat ini direncanakan Puspenerbad akan memiliki kekuatan delapan skadron, terdiri dari dua Skadron Serba Guna (Sena) dan enam Skadron Serbu.

UH-60 Black Hawk tergolong helikopter angkut serbaguna (utility) kelas menengah bermesin ganda yang rancangan awalnya diajukan ke Angkatan Darat Amerika Serikat pada 1972 oleh pihak Sikorsky dalam kompetisi  UTTAS (Utility Tactical Transport Aircraft System) sebagai S-70.  Oleh pihak AD AS prototype-nya disebut sebagai YUH-60A, setelah dioperasikan disebut sebagai Black Hawk dengan kode UH-60 setelah mengalahkan saingannya YUH-61 dari Boeing Vertol pada 1976. Lalu mulai masuk dalam inventaris AD AS pada 1979 untuk menggantikan armada Bell UH-1 Iroquis.

Dalam era awal pengoperasiannya, pihak AD AS juga sedang menerapkan konsep Peperangan Elektronika (Pernika), sehingga pihak pabrik juga membuat varian UH-60 untuk operasi Pernika tersebut. Disusul kemudian dengan improvement yang diberi kode UH-60L dan UH-60M.  Selain untuk memenuhu kebutuhan AD AS, diproduksi juga varian untuk dioperasikan pihak Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Coast Guard Amerika Serikat.

Penampilannya dalam mendukung operasi tempur telah dibuktikan dalam beberapa pertempuran seperti di Grenada, Panama, Somalia, Iraq, Balkan, Afghanistan dan beberapa tempat di Timur Tengah. Berikut beberapa tipenya:

         UH-60L Black Hawk: UH-60A dengan mesin T700-GE-701C, penyempurnaan pada gearbox,serta sistem kendali penerbangan.  Diproduksi antara tahun 19892007. Ada juga UH-60L yang menggunakan mesin T700-GE-701D.
         UH-60M Black Hawk:  Penyempurnaan rancangan pada bilah rotor, mesin T700-GE-701D, penyempurnaan gearbox, computer system untuk pengendalian pesawat, kaca cockpit baru. Ditujukan untuk mengganti UH-60 milik angkatan darat yang sudah tua dan mulai diproduksi tahun 2006.
         UH-60M Upgrade Black Hawk: UH-60M dengan fly-by-wire system dan ruang cockpit Common Avionics Architecture System (CAAS).  Uji terbang pada mulai  Agust 2008.
Sedangkan Helikopter angkut berat CH-47 Chinook produksi Boeing Rotorcraft System, awalnya dirancang pada 962 dengan sebutan model 114 lalu versi HC-1B, bermesin ganda dengan rotor utama tandem, biasa digunakan untuk sarana transportasi pasukan, angkut persenjataan artileri serta transportasi perbekalan logistik diwilayah operasi tempur, seperti yang diperlihatkan pada era Perang Vietnam. Kabinnya dirancang menyerupai pesawat angkut bersayap tetap, dilengkapi dengan ramp door dibagian belakangnya.  Mampu menjelajah dengan kecepatan hingga 170 knot (315 km/jam).

Mesin utama menggunakan dua mesin Lycoming T55 turboshaft yang ditempatkan pada dya pylon di sisi belakang pesawat.  Untuk menggerakan baling-baling, dari mesin ke rotor dihubungkan dengan drivershaft. CH-47 masih terus diproduksi dengan berbagai penyempurnaan seperti CH-47D yang bilah baling-balingnya menggunakan material komposit, upgrade pada mesin, cockpit, avionic, dan penyempurnaan sistem kendali penerbangan. Versi CH-47F menerapkan sistem digital pada sarana pengendali penerbangannya serta mesin baru menggunakan mesin produksi Honeywell berkekuatan 4.733 HP.

Selain versi militer, dibuat juga versi komersial untuk kebutuhan perusahaan perkayuan, perminyakan, konstruksi, pemadam kebakaran hutan, dan lain-lain. Seperti versi Boeing-Vertol Model 234. Model 234 ini kemudian sertifikatnya dibeli oleh Columbia Helicopters Company dari Salem, Oregon pada 15 Desember 2006.  Pihak lain yang memproduksi Chinook atas dasar lisensi dari Boeing antara lain Elicotteri Meridionali (kini AgustaWestland), italia, dan Kawasaki, Jepang.

Sebagsi helikopter angkut berat serba guna, Chinook tidak saja diperuntukkan untuk transportasi personel, tetapi juga untuk melaksanakan tugas SAR tempur, transportasi logistik, persenjataan, dll. Berbagai variant helicopter ini telah digunakan oleh berbagai Negara seperti; Inggris, Australia, Belanda, Korea Selatan, Jepang, Italia, Cina, dan Singapura.

Versi sipil dari Chinook seperti Model 234LR, 234ER dan 234MLR yang digunakan untuk transportasi komersial, Model 234UT untuk utility transport, dan Model 414 untuk versi ekspor internasional yang juga dikenal sebagai CH-47D International Chinook.
Dengan penambahan dan peremajaan Asset Puspenerbad TNI AD, diharapkan mobilitas udara pasukan dan logistik dapat lebih meluas lagi (Muhammad Ali Haroen).

Sumber: BoeingVertol News Letter, 1994, 2002 dan 2010.
              Liputan6.com
              Janes Defence Weekly

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala