Home » » RSUI Berbagi Pengalaman Soal Penanganan Covid

RSUI Berbagi Pengalaman Soal Penanganan Covid

Posted by Indonesia Mandiri on Agustus 01, 2020

Mitigasi penanganan Covid-19 jadi pembelajaan menarik bagi sebuah rumah sakit, seperti dialami RSUI
Depok (IndonesiaMandiri) – Saat wabah Covid-19 mulai meradang di akhir Desember 2019, bermula dari Wuhan, Cina, Indonesia belum terlalu menanggapinya dengan serius. Baru pada awal Maret 2020, Pemerintah melakukan berbagai upaya, termasuk menyediakan rumah sakit khusus untuk menangani pasien Covid-19, tak terkecuali dengan Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). RSUI dipercaya sebagai rumah sakit jejaring pelayanan Covid-19 pada 19 Maret 2020 oleh pemerintah melalui surat edaran Kementerian Kesehatan RI dan sebagai rumah sakit rujukan penanggulangan penyakit infeksi emerging tertentu oleh Gubernur Provinsi Jawa Barat sejak 13 April 2020.

Dalam seminar bulanan secara virtual, kali ini RSUI angkat topik Meet The Expert: Pengalaman RSUI dalam Penanganan Covid-19 (22/7). Intinya, RSUI ingin berbagi pengalaman kepada pemangku kebijakan, tenaga kesehatan, dan masyarakat tentang persiapan dan berbagai upaya yang telah dilakukan dalam penanganan pandemi, dengan mengundang berbagai para ahli/dokter (seperti Sekretaris Universitas Indonesia, dr. Agustin Kusumayati, M.Sc, Ph.D, Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, drg. Novarita, Plt.Direktur Utama RSUI sebelumnya, Dr. dr. Sukamto, Sp.PD-KAI, dan narasumber internal yaitu jajaran Manajemen RSUI.
Agustin menyebut, selama pandemi, RSUI sebagai rumah sakit pendidikan, fungsinya tak hanya beri layanan optimal bagi penanganan Covid-19, tetapi juga harus mampu berkontribusi, kolaborasi,  menciptakan inovasi yang menunjang percepatan penanganan pada 5 level prevention dalam healthcare ansurveillance yaitu detect, test, isolate, treat, dan trace.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Novarita cerita tentang penunjukan RSUI sebagai RS Rujukan Covid di Depok. Awalnya, Depok ingin membangun fasilitas laboratorium yang dapat menunjang pemeriksaan Covid-19, tapi perlu waktu lama dan dana cukup besar. Lalu, diputuskan, Pemerintah Kota Depok bekerja sama dengan RSUI sebagai satu-satunya rumah sakit yang memiliki laboratorium PCR dengan standar keamanan BSL-2. Layanan biomolekular yang dilakukan di RSUI dianggap sangat membantu dalam meningkatkan kapasitas deteksi kasus Covid-19 di Indonesia, khususnya di wilayah Depok dan sekitarnya. 
“Sebagai salah satu strategi penanggulangan pandemi adalah to respon yaitu menetapkan RSUI sebagai salah satu RS Rujukan. Selain itu berdasar analisis kebutuhan masih terbatasnya pemeriksaan PCR, Kota Depok melibatkan RSUI dalam optimalisasi to detect.” tutur Novarita. RSUI dinilai memiliki potensi fasilitas dan tenaga kesehatan memada, ada ruangan perawatan bertekanan negatif dan ICU, dokter spesialis berkompeten dibidangnya, serta fasilitas laboratorium yang dapat digunakan untuk pemeriksaan PCR.
Konsekuensinya, manajemen RSUI pun melakukan perubahan strategis dalam mengatur proses bisnis dan pengelolaan pelayanan. Saat itu,langkah awal RSUI untuk meningkatkan kemampuan menjadi RS Rujukan adalah membuat mitigasi resiko yang baik. Manajemen mengidentifikasi setiap kebutuhan yang diperlukan dalam penanganan Covid-19 dengan detil. 
“Kuncinya kita melakukan strategi perubahan kebijakan saat itu dengan melakukan mitigasi resiko yang benar, baik pada tata laksana pelayanan, sistem penunjang, maupun manajemen informasi dalam memperkuat informasi internal dan eksternal. Manajemen mengambil langkah untuk memetakan lebih awal pemenuhan kebutuhan, baik pada sumber daya manusia, peralatan seperti BMHP dan APD, serta penyediaan fasilitas sarana yang memadai untuk Covid-19,” terang dr. Sukamto, Plt. Direktur Utama RSUI.
Meski RSUI telah melayani penanganan Covid, namun layanan kesehatan non-Covid tetap dapat dijalankan dengan memastikan keamanan dan keselamatan bagi seluruh pasien dan pengunjung. Menurut Astusi Giantini, sejak menjabat Direktur Utama RSUI (05/2020), komit untuk mewujudkan RS yang aman bagi pasien, pengunjung, dan seluruh pekerja di lingkungan RS, salah satunya dengan skrining awal kesehatan.
“Skrining awal ini bertujuan memisahkan kategori pasien, pengunjung, maupun staf serta area RS yang dapat diakses mereka sehingga tidak bercampur dan meminimalkan risiko terjadinya penularan dan penyebaran infeksi khususnya Covid-19.” lanjut Astuti. Ini untuk meyakinkan publik jika akan mendapat layanan kesehatan di RSUI tak perlu khawatir karena telah dilakukan pembagian zonasi yang tegas antara pasien COVID dan non COVID. 
Selain pemisahan zonasi, RSUI juga melakukan upaya pencegahan penularan Covid di dalam rumah sakit dengan protokol kesehatan secara ketat, seperti mewajibkan penggunaan masker bagi pasien, pengunjung dan pegawai, menerapkan jarak aman di seluruh area pelayanan, melengkapi seluruh petugas dengan alat pelindung diri dan melakukan protokol desinfeksi terhadap peralatan dan ruangan secara berkala. 
Fasilitas laboratorium terus ditingkatkan. Menurut Rakhmad Hidayat, selaku Manajer Pelayanan Medik RSUI,  “Laboratorium RSUI masuk dalam jejaring nasional Lab deteksi Covid-19 sehingga diperlukan pelaksanaan bertahap sesuai prioritas dengan mempersiapkan kelengkapan lab, SDM, dan operasional lab. Lab RSUI mulai melakukan pemeriksaan dengan peningkatan kapasitas sesuai kebutuhan disertai penambahan kelengkapan alat dan melakukan evaluasi berkala dengan perbaikan dalam sistem lab (termasuk pencatatan pelaporan), dan peningkatan variasi jenis spesimen.” 
“Perlahan tapi pasti, RSUI yang awalnya hanya dapat melakukan pemeriksaan sekitar 140 sampel per hari sekarang sudah dapat melakukan pemeriksaan PCR COVID-19 sebanyak 400 sampel per hari dan akan terus diupayakan untukmeningkatkan kapasitas pemeriksaan laboratorium untuk percepatan penanganan COVID-19”, tambah Rakhmad. 
Di sektor keuangan, Eka Pujiyanti, SKM,S.E.,MKM, Plt Direktur Keuangan RSUI memaparkan, “penanganan Covid yang memerlukan keseriusan tentunya juga memerlukan dana yang sangat besar. Dengan tingkat kebutuhan yang sangat besar tersebut, RSUI tidak dapat menalanginya hanya dari pendapatan rumah sakit. Berkat advokasi yang dilakukan manajemen, RSUI mendapat bantuan dana dari Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk penanganan pandemi Covid-19. Dana tersebut kemudian digunakan untuk menambah kapasitas perawatan Covid-19 sebanyak 41 tempat tidur dengan ruangan bertekanan negatif, menambah obat dan kebutuhan perawatan COVID-19, termasuk pemeriksaan PCR sebanyak 3500 pemeriksaan.”
Fasilitas kamar untuk pasien juga ditambah, yang awalnya RSUI hanya membuka lantai 3 dan dengan kapasitas 25 bed untuk pasien kriteria PDP dan terkonfirmasi Covid-19. Setelah dirombak, lantai 13 dan 14 yang sebelumnya merupakan perawatan VIP, dikembangkan jadi ruang perawatan Covid bertekanan negatif sehingga saat ini ada 64 bed untuk pasien Covid meliputi ruang intensif dewasa, intensif anak, NICU dan ruang isolasi. Ini juga berdampak ke ruangan operasi, bersalin, dan isolasi di IGD untuk penanganan pasien Covid-19 yang juga memiliki tekanan negatif.
Kemampuan sumber daya manusia/SDM pun ditambah, baik tenaga medis dan non medis. Tenaga keperawatan tak luput dari kebutuhan yang paling banyak diperlukan. Manajemen mencari solusi dengan membuka pendaftaran tenaga relawan, dibuka untuk umum melalui laman resmi RSUI ataupun melalui pusat-pusat krisis yang bekerja sama dengan UI. Meski akhirnya tidak semua kebutuhan tenaga keperawatan terpenuhi, manajemen berupaya mengoptimalkan kemampuan SDM keperawatan untuk penanangan COVID dengan standar yang ditetapkan.
Dalam pengembangan layanan, RSUI sediakan layanan telemedicine dalam bentuk konsultasi online (daring), untuk memudahkan masyarakat konsultasikan kondisi kesehatan kepada dokter tanpa harus datang ke rumah sakit. Bagi yang memerlukan pemeriksaan swab dan rapid test tanpa melalui layanan rawat jalan, RSUI juga ada dan rapid test melalui drive thru

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala