Home » » Bioprospeksi, Strategi Merawat Kawasan Konservasi Dan Kesejahteraan Warga

Bioprospeksi, Strategi Merawat Kawasan Konservasi Dan Kesejahteraan Warga

Posted by Indonesia Mandiri on Juli 25, 2020

Potensi Taman Nasional sebagai kawasan konservasi sangat besar untuk keseimbangan lingkungan
Kuningan/Jabar (IndonesiaMandiri) – Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) melalui Jabatan Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) telah melakukan penelitian panjang, sebagai program pengembangan genetik bioprospeksi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KSDAE/KLHK). Penelitian yang dimulai sejak 2017 bekerjasama dengan Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), telah menemukan mikroba yang bermanfaat bagi masyarakat untuk ketahanan pangan dan ekonomi, yaitu:

Bakteri Lysinibacilus fusiformis, dapat memicu pertumbuhan akar atau yang dikenal Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), Bakteri Pseudomonas syiringae, dapat melindungi tanam dari frost sehingga tanaman tahan terhadap embun yang membeku (es), seperti di daerah Dieng, Bromo dan lainnya, Cendawan Lecanicilium sp, merupakan jenis patogen serangga hama, khususnya kelompok wereng dan kutu-kutuan.
Pengembangan biopropeksi ini sejalan dengan Road Map Pembangunan hutan 2045 yang oleh Bappenas pada 2040, ditargetkan Indonesia “Menguasai Pangsa Pasar Bioprospeksi Dunia“. Temuan ini telah teruji, baik di tingkat laboratorium maupun plot percobaan dan berhasil meningkatkan produksi tanaman pangan serta mengurangi biaya produksi.
Direktur Konservasi Keanekaragam Hayati (KKH) Direktorat Jenderal KSDAE-KLHK, Indra Exploitasia, saat mengunjungi Balai TNGC menyebut, di masa datang Biopropeksi dapat menjadi model dalam pemanfaatan berkelanjutan dari kawasan Konservasi, menata keseimbangan antara kelestarian kawasan dan kesejahteraan. “Kedepan hasil penemuan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat daerah penyangga hutan konservasi sekaligus bisa meningkatan ketahanan pangan dan ekonomi menjadi lebih baik,” ujar Indra di TNGC, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat  (23/7).
Sementara itu, Kepala Balai TNGC, Kuswandono, menyatakan, pihaknya akan terus melakukan inovasi pengelolaan kawasan konservasi. “Penelitian akan dilanjutkan untuk mengungkap ‘misteri’ keanekaragaman hayati di TNGC agar dapat diambil manfaatnya bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan pada khususnya dan rakyat Indonesia serta dunia pada umumnya,” jelas Kuswandono.
Saat di TNGC, Indra berkesempatan melepasliarkan seekor Trenggiling (Manis javanica) dan 15 ekor Ular Sanca Batik (Python reticulatus) di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Majalengka, TNGC. Satwa tersebut dari hasil penyelamatan masyarakat akibat banjir di Jakarta dan diserahkan langsung kepada BKSDA Jakarta atau melalui petugas Pemadam Kebakaran, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota dan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Barat, selama periode Januari sampai Juni 2020 (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala