Home » » Satgas Yonif RK 732/Banau Juga Terampil Lestarikan Belut Morea

Satgas Yonif RK 732/Banau Juga Terampil Lestarikan Belut Morea

Posted by Indonesia Mandiri on Juni 16, 2020

Prajurit TNI turut melestarikan keberadaan hewan langka Belut Morea
Ambon (IndonesiaMandiri) – “Dimana Bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Istilah tersebut jadi pedoman dalam setiap pelaksanaan tugas TNI dari Satgas Pengamanan Daerah Rawan atau Pamrahwan Maluku Yonif Raider Khusus 732/Banau. Selain menjaga stabilitas keamanan, Satgas juga gencar mengenalkan adat istiadat dan budaya Maluku serta melestarikannya. Seperti yang dillakukan oleh Pos 5 SSK 1 (Pos Waai).


Anggota pos bersama Pemuda Desa Waai setiap bulan membersihkan cagar budaya kolam Belut Morea yang berada di Desa Waai (Kolam Waiselaka), Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah/Malteng. Masyarakat setempat pun menjaga dengan baik kolam tersebut. Kabarnya, airnya “keramat” dan Belut Morea sendiri dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, yang hingga kini jadi kisah tersendiri. Bisa percaya atau tidak.
Morea adalah belut raksasa yang merupakan hewan endemik dari Tanah Maluku. Artinya, hewan ini tidak akan ditemukan di daerah lain. Hewan ini diberi gelar “Raksasa” karena ukurannya yang tidak seperti belut umumnya, dengan ukuran panjang 1-1,5 meter dan beratnya bisa mencapai 10-30 Kg. Dalam bahasa setempat, morea artinya belut.
Belut raksasa ini tidak dijadikan bahan makanan, karena dianggap sebagai belut keramat oleh penduduk setempat. Belut ini dipelihara dengan baik dan diberi makan setiap hari. Banyak pengunjung yang datang untuk melihat hewan ini sekaligus memberi makan berupa telur rebus yang dapat dibeli dari warga.
Masyarakat Desa Waai tidak akan pernah memakan Morea meskipun mereka kehabisan bahan makanan. Kalau seseorang kedapatan mengambil Morea dari tempat ini, maka orang tersebut akan dicambuk dan diminta untuk mengembalikannya. Kalau Belut tersebut sudah terlanjur mati, maka orang tersebut akan dicambuk dan harus menggantinya dengan belut Morea juga. Entah bagaimana caranya orang tersebut harus mendapatkan Morea hidup sebagai gantinya.
Adapun sejarahnya, dulu penduduk dari gunung ingin pindah ke pinggiran pantai. Kebutuhan hidup di sana dinilai lebih banyak, seperti makanan dan lain-lainnya. Lalu, dilemparlah tombak dari jauh (yang diyakini berkekuatan gaib) dan tertancaplah di tanah yang sekarang tepat di pinggiran kolam Morea tersebut. Dari situ, keluarlah air dan ikan-ikan serta Belut Morea. Pertanda, ada mahluk hidup di sana dan bisa menjadi tempat tinggal. Tapi tentu, mahluk hidup di dalam airnya termasuk Morea dilarang untuk dibunuh (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala