Home » » Pesona Burung Curik Bali Di Taman Nasional Bali Barat

Pesona Burung Curik Bali Di Taman Nasional Bali Barat

Posted by Indonesia Mandiri on Juni 28, 2020

Keberhasilan Balai TNBB mengajak warga sekitar untuk memelihara Burung Curik Bali
Bali (IndonesiaMandiri) – Upaya keras melestarikan Burung Curik Bali di kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), menunjukkan hasil menggembirakan. Keberadaan di habitat alami saat ini menjadi tertinggi sejak 1974 semenjak mulai dilakukannya pencatatan populasi secara berkala. Dari hasil monitoring pada akhir Mei 2020, burung ini sekarang berjumlah 303 ekor, meningkat dari populasi di 2019 sebanyak 256 ekor dan baseline data 2015 sejumlah 57 ekor.

"Restocking populasi melalui pelepasliaran burung hasil penangkaran (pembinaan populasi) menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan populasi burung curik bali di alam," ujar Agus Ngurah Krisna, Kepala Balai TNBB, di Gilimanuk, Bali (27/6).

Upaya mengembangbiakkan Burung Curik Bali untuk kepentingan restocking ini dilakukan Unit Suaka Satwa Curik Bali di Tegal Bunder. Caranya dengan membawa anakan Curik Bali yang berumur 8 bulan ke kandang habituasi di Cekik, Labuan Lalang dan Berumbun untuk proses adaptasi sebelum dilepasliarkan. "Saat ini jumlah burung secara keseluruhan di Suaka Satwa tercatat sebanyak 417 ekor," imbuhnya.

Pada Sabtu 27 Juni 2020, Balai TNBB kembali melepasliarkan 52 ekor Curik Bali ke alam. Agus menyebut, dalam suasana pandemi Covid-19 proses pelepasliaran dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan berkoordinasi dengan sektor lain, yaitu Dinas Kesehatan, Dinas Petanian dan Pangan Pemkab, serta Balai Besar Veteriner dalam rangka One Health yang berkaitan dengan kesehatan manusia dan kesehatan hewan. Perhatian ditujukan kepada kondisi Kesehatan, animal welfare, dan wilayah sebaran habitat satwa dilokasi pelepasliarannya.

Pemeriksaan Kesehatan dilakukan untuk penyakit avian influensa (AI), bakteri dan parasite. Sedangkan terhadap petugas perawat satwa dilakukan pemeriksaan rapid test corona virus. Semua ini merupakan upaya untuk menjamin tak adanya penularan penyakit zoonosis dari satwa ke manusia atau sebaliknya dan dari satwa ke satwa liar lainnya.

Agus pun menjelaskan, jika indikator keberhasilan pelepasliaran ditunjukkan dari produktivitas burung menghasilkan anakan di alam. Selama Januari sampai Mei 2020 produktivitas indukan di alam meningkat signifikan. "Di Labuan Lalang terdapat 13 pasang indukan yang telah melahirkan anakan sebanyak 38 ekor, melebihi jumlah anakan selama 1 tahun pada 2019 sebanyak 34 ekor. Di Cekik ada 12 pasang indukan dengan 33 ekor anakan. Di Brumbun 8 pasang indukan dengan 22 ekor anakan," jelasnya.

Keberhasilan peningkatan populasi Burung Curik Bali tidak terlepas dari sinergitas ex-situ (di luar habitat) dan in-situ (di dalam habitat) dalam merawat. Faktor yang terkait dalam hal ini, yaitu soal kebijakan, kolaborasi, pelibatan masyarakat, serta strategi dan konsistensi pengelolaan.

Kebijakan kelola Curik Bali di luar habitatnya (ex-situ), memberdayakan masyarakat contohnya dengan peran Balai TNBB membantu memfasilitasi usaha penangkaran oleh kelompok masyarakat. Upaya ini berkembang di 6 desa penyangga TNBB. Di Kecamatan Gerogak, Kabupaten Buleleng, masyarakat Desa Sumberklampok buat kelompok penangkar Manuk Jegeg sejak 2015, dengan 17 anggota penangkar. Lalu di Desa Pejarakan oleh kelompok Nature Conservation Forum Putri Menjangan mulai 2019. Di Kecamatan Melaya Kabupaten Jembrana, masyarakat Desa Blimbingsari bikin kelompok penangkar Paksi Sari Merta pada 2017 dengan 14 anggota penangkar. Kemudian di Desa Ekasari, kelompok penangkar Ekasari Bird Farm berdiri sejak 2017, anggota 4 orang. Di Kelurahan Gilimanuk, kelompok penangkar Bali Jaya Lestari di 2018 anggota 7 orang. Terakhir Desa Melaya, kelompok penangkar Lestari Curik Bali pada 2018, dengan 5 orang (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala