Home » » Laporan GHI, Ketahanan Pangan Indonesia Kian Membaik

Laporan GHI, Ketahanan Pangan Indonesia Kian Membaik

Posted by Indonesia Mandiri on Juni 22, 2020

Perbaikan kualitas gizi masyarakat Indonesia terus membaik dari tahun ke tahun
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Situs resmi Lembaga Riset SoalmPangan Dunia yang bermarkas di Amerika Serikat, Global Hunger Index (GHI) merilis, tingkat kelaparan dan kekurangan gizi di dunia mengalami penurunan  cukup signifikan, yakni sebesar 28,6 persen pada 1999 menjadi 9,9 persen. Angka tersebut dikumulatif sejak riset ini dibuat pada 2000 lalu. Dalam laporannya, Indonesia tercatat mendapat skor 20,1, berarti masuk kategori serius karena dari 117 negara yang tercantum, Indonesia pada peringkat ke 70.


Masih pada laporan GHI, ada tiga kategori yang dipakai dalam melakukan riset. Pertama, kategori rendah yakni kurang dari 9,9. Kemudian moderat, yakni 10-19,9. Lalu ada serius 20-34,9. Juga, ada kategori mengkhawatirkan 35-49,9 dan sangat mengkhawatirkan lebih dari 50. Sejak 2005, indeks kelaparan di Indonesia terus mengalami penurunan dari 26,8 menjadi 24,9 di 2010. Angka tersebut kembali turun pada 2019, yakni sebesar 20,1.
Dengan laporan tersebut, maka dapat diindikasikan, ketahanan pangan di tanah air mengalami peningkatan alias terus membaik. Menegenai hal ini, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri, menyampaikan, ada berbagai upaya yang tengah dilakukan pemerintah, khususnya Kementan dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. "Upaya tersebut adalah dengan meningkatkan produksi, ketersediaan dan akses pangan masyarakat, ujar Kuntoro di Jakarta (20/6).
Kementan juga mengajak masyarakat Indonesia untuk melakukan gerakan tanam melalui konsep family farming. Sebab ,hanya dengan cara itu, kebutuhan pangan secara mandiri bisa meningkat dan mendukung gerakan yang lebih besar lagi yaitu optimalisasi lahan pertanian. "Intinya setiap keluarga bisa memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Masyarakat bisa membangun pertanian keluarga seperti memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan rumah," tambahnya.
Kuntoro menjelaskan, konsep family farming mampu menghasilkan kecukupan pangan keluarga dan dijadikan berbagai olahan pangan sebagai makanan alternatif masyarakat. Bahkan, bahan-bahan hasil panen seperti umbi-umbian dan tanaman lokal lain dapat diolah menjadi aneka kuliner khas Nusantara dan diversifikasi pangan yang sangat kaya sebagai warisan yang harus dijaga.
"Ternyata, makanan berbahan dasar jagung, umbi-umbian dan sayuran mayur dari pekarangan adalah bahan dasar yang sejak dulu dijadikan olahan menarik khas berbagai daerah. Jadi, selalu ada hidangan pangan tradisional yang khas untuk disantap bersama, dari hasil pekarangan" jelasnya. Kuntoro mengutip pernyataan Mentan Syahrul Yasin Limpo yang sering meminta masyarakat terus mengembangkan makanan lokal secara masif.
Sebagai informasi, GHI adalah laporan tahunan peer-review, diterbitkan bersama Concern Worldwide dan Welthungerhilfe dan dirancang untuk mengukur serta melacak kelaparan secara komprehensif di tingkat global, regional, dan negara (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala