Home » » Benoa Jadi Contoh Pengembangan Pelabuhan Kelas Dunia

Benoa Jadi Contoh Pengembangan Pelabuhan Kelas Dunia

Posted by Indonesia Mandiri on Juni 18, 2020

Berbagai pelabuhan penting di indonesia bakal didesain secara terpadu untuk menarik wisatawan dan investasi
Jakarta (IndonesiaMandiri) – Pemerintah tetap konsisten mengembangkan sepuluh destinasi tujuan wisata baru dengan membangun pelabuhan kelas dunia untuk memfasilitasi kapal pesiar. Salah satunya di Benoa sebagai pintu gerbang wisata maritim di Indonesia. Komitmen Pemerintah melalui Pelindo III melakukan pengembangan atau revitalisasi kawasan pelabuhan Benoa menjadi home port cruise, diharapkan jadi pelabuhan utama kapal pesiar terpadat di Indonesia.
Dr. Eng, Lukijanto, mewakili Kemenko Kemaritiman dan Investasi/Marves, baru-baru ini diundang untuk menyampaikan kebijakan pemerintah terkait manajemen pengelolaan pelabuhan kepada  peserta Program Port Academic Series 2020, digagas oleh The Water Agency bekerja sama dengan The Royal Boskalis Westminster, Perusahaan Van Ord, dan Port of Rotterdam – Belanda.
"Dengan memperhatikan potensi ekonomi maritim Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 1,33 triliun/tahun. Salah satu industri yang paling menjanjikan dan meningkat dalam ekonomi maritim adalah pariwisata," kata Pengajar Senior Port Academy 2020, Lukijanto, di Jakarta (17/6). Dan pengembangan Pelabuhan Benoa diharapkan bisa menopang target 20 juta kunjungan wisatawan yang dicanangkan pemerintah Indonesia pada 2020.
Tak hanya mengembangkan pelabuhan kelas dunia untuk memfasilitasi wisatawan, pemerintah juga mencanangkan pembangunan Integrated Port Network (IPN) atau jaringan pelabuhan terintegrasi untuk kepentingan industri. Menurut Lukijanto, adanya integrasi antar-pelabuhan dan terciptanya keterhubungan antar-wilayah merupakan pengejawantahan dari visi Indonesia sebagai poros maritim dunia.
"Jaringan pelabuhan terpadu adalah perwujudan dari visi Indonesia sebagai poros maritim dunia, dimulai dengan mengintegrasikan pelabuhan sebagai satu sistem kemudian menghubungkan pelabuhan ke kawasan industri, sehingga menciptakan konektivitas," jelas Lukijanto, yang juga Kepala Bidang Pengembangan Logistik Maritim Terpadu Kemenko Marves (2017-2020), serta Kabid Infrastruktur Sumber Daya Air dan Rekayasa Pantai, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi.
Lukijanto juga menjelaskan potensi wilayah Bekasi, Karawang, dan Purwakarta sebagai jantung zona manufaktur terbesar di Indonesia. Tentu sebagian besar perusahaan akan berpikir untuk meningkatkan efisiensinya, dengan mengurangi biaya logistik (biaya transportasi, penyimpanan, atau pelabuhan) di setiap pengiriman produknya. Di sana telah tersedia Cikarang Dry Port dengan menawarkan biaya penyimpanan dan pelabuhan yang kompetitif.
“Dengan penerapan konsep Hub and Spoke inilah, sehingga menguntungkan perusahaan dalam pengurangan biaya transportasi, impor ekspor pun langsung dapat dilakukan tanpa batas. Karena pengurusan bea cukai, karantina secara formalitas dapat diselesaikan di Cikarang Dry Port secara langsung, sehingga tidak akan ada waktu tinggal (dwelling time) yang lama di pelabuhan Tanjung Priok”, ungkap Lukijanto. Salah satu pelabuhan yang telah berhasil menerapkan ini adalah Indonesia Port Corporation atau PT. Pelindo II, dan telah dilihat secara langsung oleh Peserta Port Academy Series 2020 (ma).
Foto: Kemenparkeraf

Terimakasih sudah membaca & membagikan link Indonesia Mandiri

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala