Home » » Permintaan Jahe Merah Melonjak Saat Pandemi Covid-19

Permintaan Jahe Merah Melonjak Saat Pandemi Covid-19

Posted by INDONESIA MANDIRI on April 10, 2020

Komoditas Jahe Merah jadi laku pesanan untuk kebutuhan herbal di saat covid-19
Bandung (IndonesiaMandiri) - Jahe Merah kini jadi salah satu perhatian masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Mengapa? Karena salah satu produk petani hutan ini, sekarang laris sebagai suplemen herbal penunjang stamina dan imun tubuh saat pandemi Covid-19. Di Kampung Legok Nyenang Desa Giri Mekar, Cilengkrang, Bandung, berkah jahe merah itu terasa. Memanfaatkan kawasan hutan lindung di lereng Gunung Manglayang, Kelompok Tanik Hutan (KTH ) Giri Senang tanam jahe merah dan tanaman kopi di bawah Pohon Pinus hasil progam penghijauan hutan oleh masyarakat.

Seiring pandemi Covid-19, permintaan jahe merah di KTH sudah melonjak hitungan ton, berbeda dari hari biasa yang hanya kwintal. Naiknya permintaan jahe merah jadi berkah tambahan pendapatan petani hutan anggota KTH Giri Senang. Dengan hitungan rata-rata sekali panen menjadi 1 ton jahe merah, maka dengan harga Rp.75.000,-/kg omset yang didapatkan dapat meraup sekitar Rp. 75 juta sekali panen.

"Sebetulnya komoditas utama KTH Giri Senang adalah kopi. Jahe merah, kunyit dan tanaman bawah tegakan hanyalah sampingan. Namun karena sekarang permintaan meningkat, Alhamdulillah anggota KTH mendapat tambahan pendapatan," ujar Yusuf, Penyuluh Kehutanan Pendamping KTH Giri Senang.
Anggota KTH Giri Senang kini berjumlah 147 petani, dengan kegiatan tanam kopi di bawah tegakan pohon pinus seluas 250 hektar, 1 hektar diantaranya diisi tanaman empon-empon seperti jahe merah dan kunyit.

"Dulu jahe merah dan kunyit hanya dijadikan bumbu masak oleh pembeli, namun dengan adanya wabah corona, jahe merah digunakan sebagai minuman penambah stamina agar terhindar dari virus corona", cerita Yusuf. Selain jahe merah, produksi kopi dari KTH sangat baik. Pada 2019, panen kopi berbentuk gelondong capai 1.000 ton, dari awalnya hanya budidaya kopi Arabica yang hasilnya dijual dalam setengah jadi (gabah). Kini bervariasi mengikuti perkembangan seperti pengolahan kopi greenbean dengan metode wash, natural, honey dan varian wine.

Petani Hutan di KPH Giri Senang juga memiliki produk kopi yang siap ekspor
Kopi tersebut dijual dengan harga kisaran mulai Rp. 85.000 hingga Rp. 400.000/kg dengan merk Kopi Bukit Palasari. Produk ini memenuhi permintaan dalam negeri bahkan mulai menjajaki pasar Eropa. Dari usaha kopi, beberapa anggota KTH ada yang sanggup meraih pendapatan hingga Rp 300 juta/tahun. Menggeliatnya ekonomi lokal berdampak anak-anak muda memiliki lapangan pekerjaan, bahkan anak muda adalah pemeran utama dalam usaha ini di semua lini kegiatan KTH Giri Senang, yaitu mulai panen, pasca panen, pengolahan kopi, pengemasan, pengangkutan, pemasaran secara online sampai mengelola café yang didirikan diatas lahan KTH (ma).

Terimakasih sudah membaca & membagikan link INDONESIA MANDIRI

Sebelumnya
« Prev Post
Selanjutnya
Next Post »

Indonesia Mandiri

Cakrawala